Alih Fungsi Lahan di Bali Mengkhawatirkan

Ruta Suryana
15/4/2015 00:00
Alih Fungsi Lahan di Bali Mengkhawatirkan
(Seorang wisatawan mancanegara memotret pamandangan sawah di Tabanan, Bali--(ANTARA/Nyoman Budhiana))
ALIH fungsi lahan di Bali makin mengkhawatirkan. Merebaknya bisnis properti dan pariwisata membuat lahan pertanian terkikis habis. Akibatnya, petani di Bali sulit mengandalkan hidup dari menanam padi dan tanaman tumpang lainnya.

Akibat alih fungsi lahan, pola pertanian pun dikhawatirkan akan hilang dari tanah Bali. Selain  karena tak banyak generasi muda yang tertarik menjadi petani, juga banyak lahan pertanian yang mati di Bali.

Menyikapi persoalan ini, profesional sekaligus putra daerah asal Badung, Bali, Putu Gede Rasjmawan tergerak untuk memberi solusi. Putu Gede Rasjmawan juga  bergabung dengan organisasi Ganti (Gerakan Tani dan Nelayan), salah satu sayap PDIP yang dipimpin politikus senior Profesor Rokhmin Dahuri.

Menurut Dewan Pembina Ganti Bali ini, Putu Rasjmawan, banyaknya lahan mati dan lahan yang terkikis oleh laju bisnis villa dan bangunan yang kurang terkontrol akan menimbulkan dampak ekonomis maupun ekologis yang parah, dari sektor pertanian.

“Ganti (Gerakan Tani dan Nelayan) Kami dirikan sebagai solusi dari persoalan ini.  Kami akan menghidupkan kembali lahan-lahan mati dan memberdayakan petani yang tidak punya modal. Kami ajarkan petani menanam Edamame ( kedelai Jepang ) yang lebih mudah ditanam dan lebih cepat panen, sekaligus bernilai jual tinggi,“ ujar Putu Rasjmawan, hari ini.

Konsep Putu Rasjmawan bisa disebut terobosan sistem dan teknologi pertanian, yang bisa mempertahankan semangat bertani dan menjadikan petani sebagai subyek dari industri pertanian. 

Pada awalnya Rasjmawan mulai menyewa 1 hektare tanah untuk ditanami Edamame. Dari satu hektare itu dalam waktu dua bulan saja petani bisa menghasilkan 8 ton edamame, yang punya nilai jual Rp80 juta. Selain menyediakan lahan, Putu Rasjmawan memodali bibit dan menggaji petani setiap bulan sekitar Rp5 juta-Rp10 juta untuk menggarap tanaman Edamame dan padi Pandanwangi.

Terobosan Putu Rasjmawan ini terbukti pada 12 April lalu, saat diadakan panen raya padi Pandanwangi dan Edamame di Desa Sedang Abiansemal, subak Tanah Iyeng, Badung, Bali. Hadir dalam panen raya itu Sekjen PDIP yang baru saja dilantik, Hasto Kristianto. Menurut Hasto Kristianto, Gerakan Tani dan Nelayan yang dikembangkan Putu Rasjmawan merupakan konsep yang sesuai dengan negeri ini.

“Saya selalu ingat apa yang diucapkan Bung Karno, bahwa Petani itu adalah Penyangga Tanah Air Negeri . Jadi saya sangat mendukung apa yang dilakukan Putu Rasjmawan dan teman teman dari Ganti Bali ini, “ tutur Sekjen PDIP ini.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya