Kalsel Luncurkan Program Sijadi untuk Gaet Investasi

Denny Susanto
08/7/2018 18:05
Kalsel Luncurkan Program Sijadi untuk Gaet Investasi
(Mi/Denny)

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Selatan meluncurkan program terobosan untuk mempermudah investor dalam mengurus perizinan yang disebut Sijadi. Sijadi merupakan program insentif bagi kalangan dunia usaha berupa pemberian izin pendaftaran atau izin prinsip bagi setiap permohonan izin usaha di Kalsel.

Hal ini dikemukakan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin, Minggu (8/7).

"Pemprov Kalsel saat ini memiliki program untuk mempermudah investor dan kalangan dunia usaha di daerah yang disebut Sijadi," ungkapnya.

Sijadi merupakan program pemberian insentif berupa pemberian izin pendaftaran atau izin prinsip bagi setiap permohonan izin usaha di Kalsel.  Sejak program ini diluncurkan beberapa bulan lalu, memberi dampak positif bagi iklim investasi dan dunia usaha di Kalsel.

"Investor atau kalangan usaha akan mendapatkan kemudahan, misalkan seorang pengusaha mengajukan izin usaha perumahan maka dia juga akan mendapatkan izin pendaftaran," tuturnya.

Bagi Pemprov Kalsel, inovasi ini memberikan keuntungan karena izin pendaftaran usaha tersebut akan masuk dalam skema investasi di pusat sehingga tercatat sebagai pertumbuhan investasi di daerah. Selama ini sektor perumahan tidak masuk dalam skema investasi daerah. Padahal nilai investasi sektor perumahan di Kalsel sangat tinggi. Di Kabupaten Banjar nilai investasi sektor perumahan pada 2017 mencapai Rp2 triliun.

"Program Sijadi ini berlaku untuk semua sektor usaha termasuk juga pertambangan dan industri hasil hutan," ujarnya. Dengan adanya program Sijadi ini pihaknya optimis iklim investasi di daerah akan semakin baik dan pencapaian nilai investasi akan melampaui target. Pemprov Kalsel sendiri terus berupaya memperbaiki iklim investasi guna meningkatkan perekonomian daerah yang beberapa waktu terakhir ikut mengalami kelesuhan akibat terpuruknya sektor pertambangan dan perkebunan (CPO).

Dinas Penanaman Modal Kalsel mencatat pada 2017 realisasi investasi di Kalsel tidak mencapai target hanya Rp6,1 triliun dari target Rp8,1 triliun. Nilai investasi PMDN sebesar Rp2,9 triliun untuk 142 proyek dan investasi PMA sebesar US$243,8 juta untuk 117 proyek. Investasi PMDN yang masuk masih didominasi sektor pertambangan dan perkebunan, industri makanan, jasa serta industri kimia dasar. Untuk PMA investasi masuk  di bidang listrik, gas, air, makanan, kayu dan pertambangan.

Dikatakan Nafarin, kurang bergairahnya iklim investasi di Kalsel ini ikut dipengaruhi lesu nya pertumbuhan ekonomi Kalsel periode 2012-2015 lalu. Tercatat pertumbuhan ekomomi Kalsel pada 2012 lalu yang mencapai 6,9% terus turun hingga 3,58% pada 2015. Baru pada 2016 mulai naik menjadi 4,38 persen dan 2017 membaik menjadi 5,29%.

"Banyak investor yang menunda kegiatan usahanya menunggu ekonomi nasional membaik. Di sisi lain infrastruktur dan berbagai fasilitas pendukung investasi seperti listrik dan air juga masih menjadi kendala," ujar  Nafarin yang menyebut Pemprov Kalsel terus berupaya memperbaiki iklim investasi daerah.

Sedangkan pada Triwulan I 2018 ini investasi yang masuk sebesar Rp4,1 triliun meliputi PMDN Rp3,8 triliun untuk 48 proyek dan PMA US$33,5 juta untuk 21 proyek. Proyek-proyek tersebut didominasi sektor pertambangan, industri kimia dasar, listrik, gas dan air. Adapun negara-negara investor di Kalsel meliputi Korea Selatan, China, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. (OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya