Jateng Sediakan 2.000 Tangki Air Bersih

(AS/LD/JS/BB/AD/N-3)
06/7/2018 03:00
Jateng Sediakan 2.000 Tangki Air Bersih
( ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

PEMERINTAH Jawa Tengah menyiagakan anggaran Rp600 juta untuk membantu beberapa daerah yang saat ini mengalami krisis air bersih. Anggaran itu diwujudkan dalam bentuk 2.000 tangki air bersih, yang siap didistribusikan di daerah rawan kekeringan.

Warga terpaksa mencari air bersih ke sumber-sumber air di luar desa. Ada warga yang membeli air ke beberapa penjual air keliling dengan harga Rp4.000-Rp6.000. Kekeringan telah melanda beberapa daerah di Jawa Tengah, antara lain Jepara, Grobogan, Rembang, dan Blora. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta warga melalui desa, kecamatan, dan kabupaten/kota segera mengajukan bantuan air bersih jika mengalami krisis air bersih. "Pemprov Jateng telah menyiapkan bantuan," kata Ganjar, Kamis (5/7).

Dari Banjarnegara, pemkab setempat menyiapkan satu sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan yang diperkirakan cukup panjang tahun ini.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banjarnegara, Arief Rahman, mengatakan salah satu upaya mengatasi kekeringan dengan membangun sumur bor. "Tahun ini kami membangun sumur bor di Kecamatan Mandiraja yang merupakan salah satu kecamatan rawan kekeringan," kata Arief.

Musim kemarau belum berdampak signifikan terhadap pangan. Untuk mengantisipasi gagal panen, para petani di Klaten mulai beralih bertanam palawija.

Pascapanen padi musim tanam II, petani beramai-ramai beralih tanam komoditas palawija.

"Memasuki musim kemarau ini, petani di sejumlah wilayah banyak yang beralih tanam dari padi ke palawija, seperti jagung dan kedelai," kata Wahyu Wardana, Kasi Sarpras Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKKP) Klaten, kemarin.

Untuk antisipasi tanaman palawija gagal panen akibat kekeringan, petani di wilayah itu telah menyiapkan mesin pompa air pinjaman dari DPKPP Klaten.

Sementara itu, Cianjur, Jawa Barat, sebagai daerah lumbung padi belum terkena dampak selama musim kemarau ini. Bulog Subdivre Cianjur memprediksi kemarau panjang tidak berdampak besar terhadap tingkat penyerapan beras dari para petani.

"Dampak pasti ada, tapi mudah-mudahan tidak terlalu besar karena sampai sekarang masih ada panen rendeng," kata Kepala Seksi Pengadaan Bulog Subdivre Cianjur, Dedi Prayoga.

Memasuki semester I tahun ini, tingkat penyerapan di Bulog Subdivre Cianjur sudah mencapai 80,78%.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya