Harrison Neil, 26, wisatawan asal Hawaii ini menjadi satu-satunya pendaki asing yang ditemui Media Indonesia Adventure Team saat mencoba menapaki Gunung Tambora pada Rabu (8/4). Sebagai seorang pengusaha penginapan di negaranya, membuat dirinya punya banyak waktu luang bepergian ke berbagai tempat sambil menyalurkan hobi surfingnya.
Event Tambora Menyapa Dunia mempertemukan kami dengan Harrison. Pemuda bujangan ini sedang duduk di saung Pos 1 Pendakian Pancasila saat kami pertama melihatnya, berbaur bersama dua pendaki lokal sambil menikmati minuman hangat. Saat tim berusaha mencapai Puncak Tambora keesokan hari (9/4), kami berpapasan dan terlibat pembicaraan panjang dengan 6 pendaki yang berasal dari Bali, yang ternyata adalah teman seperjalanan Harrison sejak dari Bali.
Mereka sudah saling kenal sejak beberapa tahun lalu, ketika Harrison pertama kali datang ke Bali. Dalam kunjungan keduanya ke Bali baru-baru ini, ia dan teman-teman asal Bali ini merencanakan perjalanan panjang dari Bali menuju Desa Pancasila di Sumbawa untuk berpartisipasi dalam peringatan dua abad letusan Gunung Tambora.
Setelah sebelumnya Harrison membeli sepeda motor matic bekas senilai Rp9 juta, mereka memulai perjalanan dengan menggunakan 4 sepeda motor, mereka harus dua kali menyeberang menggunakan kapal laut untuk mencapai Pulau Sumbawa dan dilanjutkan setengah hari perjalanan darat hingga akhirnya sampai di Desa Pancasila.
Berhenti di beberapa tempat seperti pom bensin atau mesjid menjadi solusi untuk sekedar beristirahat dan meluruskan kaki, karena tidak mudah mengendarai sepeda motor sebegitu lamanya dengan menggendong tas gunung yang besar di punggung. Dua hari perjalanan yang mereka habiskan hingga akhirnya sampai di Desa Pancasila. Harrison tidak mengenakan jaket selama perjalanan, hanya helm half face yang menempel di kepalanya sebagai alat pelengkap berkendara. "Saya tidak suka menggunakan jaket, lebih baik saya berhenti sebentar saat mulai kedinginan," ujarnya.
Sebagai penyuka surfing, mendaki gunung adalah sesuatu yang baru untuk Harrison, dengan tas gunung dan alat seadanya, ia mantap melangkahkan kaki hingga Puncak Tambora. Bahkan di hari yang sama saat tim berhasil sampai di 2.851 mdpl, ia berhasil menggapai puncak sebanyak dua kali menggunakan dua jalur yang berbeda sejak Pos 5.
Pos 5 Pendakian Pancasila mempunyai dua jalur untuk sampai di titik tertinggi Gunung Tambora, dan ia melahap keduanya dengan enteng, membuat kami harus mengelus dada mengingat jalurnya yang menukik tajam keatas. 3 hari 2 malam dilakoni kami untuk kembali turun ke Desa Pancasila. Hari Jumat (10/4), Pukul 13.00 WITA kami sampai dengan kondisi kotor disana-sini karena keadaan jalur menjadi penuh lumpur setelah sebelumnya diguyur hujan deras, dan langsung mencari makan tidak jauh dari basecamp pendakian.
Harrison dan teman-temannya sudah tiba 1 jam lebih cepat dibanding kami, dengan disambut senyum dan keramahan khas pendaki, kami berjabat tangan satu persatu sebagai ungkapan selamat atas suksesnya kami merasakan Puncak Tambora dan kembali turun dengan keadaan sehat.
Saat tim membersihkan diri satu persatu, mereka bertujuh terlihat sudah siap untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bali. Harrison menjadi yang pertama menyalakan motornya untuk sekedar memanaskan mesin motor setelah dua hari dititipkan di basecamp pendakian.
"Teman-teman memanggil saya Paku karena nama belakang saya Neil, dari kata nail yang berarti paku dalam bahasa (Indonesia)." Tidak terlihat ketidaksukaan darinya saat teman-teman memanggilnya Paku, ia selalu memperkenalkan dirinya bernama Paku kepada siapapun yang ia temui selama pendakian. Ia suka dengan kata itu, terdengar bagus di telinganya.
Harrison yang ramah, membumi, dan tidak sungkan duduk bersila di tanah untuk sekedar menikmati kopi hangat sambil bercengkrama dengan semua pendaki, di saat ribuan pendaki Indonesia berbondong-bondong ingin memperingati dua abad letusan Tambora, hanya ia satu-satunya pendaki asing yang kami temui saat itu.
Dari data yang ada, hanya ada 15 pendaki asing yang terlibat pendakian sejak event Tambora Menyapa Dunia berlangsung, dan diharapkan akan terus bertambah hingga selesainya rentetan acara nanti. Semoga Harrison bukan pendaki asing terakhir yang menjadi saksi dahsyatnya dampak letusan dua abad lalu. Walau tidak ada bendera negaranya yang berkibar di Puncak Tambora, karena cuma ada Merah Putih disana, tapi sejarah besar Tambora-lah yang menjadi alasan dirinya menahan dingin dua hari perjalanan untuk pertama kalinya mendaki gunung. Pendakian perdana bagi Paku untuk dua abad lalu.