Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BEGITU kapal merapat di Pelabuhan Tomok Tour, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Senin (25/6) siang, sejumlah orang langsung merapat. Mereka meletakkan barang bawaan dalam kopor-kopor besar di bagian depan, lalu memgisi tempat duduk di bagian atas dan dalam kapal.
Dua anak buah kapal (ABK) menaikkan sepeda motor yang dibawa penumpang satu per satu, lalu diletakkan di bagian samping kanan dan kiri kapal. Di kiri ada delapan sepeda motor dan di kanan ada tujuh unit.
Tepat pukul 12.00 WIB, seorang pengawas kapal yang akrab disebut mandor menyuruh seluruh penumpang naik ke kapal. Mereka pun berjubel di bagian atas dan bawah dalam kapal. Tak lama kemudian seorang ABK melepaskan tali kait dari sandaran, lalu nakhoda di ruang kemudi bertuliskan 'VIP' menjalankan kapal menuju pelabuhan berikutnya untuk menaikkan penumpang lagi dan mengantar mereka ke Pelabuhan Ajibatah.
Nakhoda kapal, Sidabutar, 40, mengaku hari itu hanya mengangkut 70 penumpang dan 15 sepeda motor dari satu pelabuhan. Jumlah itu masih dalam posisi aman. Ia menandai batas maksimal penumpang dari kondisi bak kapal di bagian bawah. Jika bak sudah terendam sebagian di air, ia baru menghentikan pengangkutan muatan karena kapal berpotensi tenggelam.
"Biasanya begini, ini bak di lambung kapal masih mengambang. Kalau bak sudah tenggelam separuh, baru kita setop muatan. Heran saya, gara-gara kejadian kapal Sinar Bangun tenggelam di Simanindo, kita di sini jadi ikut terdampak," kata Sidabutar.
Kapal yang dinakhodainya sudah berusia delapan tahun. Kapal itu menggunakan mesin bekas mobil yang dimodifikasi. Namun, dia tidak tahu persis tahun berapa mesin itu diproduksi. Yang jelas, kata Sidabutar, kapal dalam kondisi bagus.
Pihak ABK akan menarik ongkos penumpang setelah kapal mulai berlayar. Penumpang dewasa dikenai tarif Rp8.000 per orang untuk tujuan Tomok-Ajibatah. Sepeda motor dipatok Rp7.000 per unit, sedangkan penumpang anak-anak digratiskan.
"Kita ini kan kapal tradisional, jadi tidak menyediakan tiket, beda dengan feri. Kita menaikkan penumpang dari pelabuhan satu ke pelabuhan lain, lalu menarik ongkos di jalan," ujar Sidabutar.
Pipen Manurung, 31, mengaku sudah 12 tahun menjadi nakhoda. Ia mengangkut penumpang dari penginapan yang satu ke penginapan lainnya di wilayah Tuk Tuk, kemudian menyeberang ke Parapat. Tiap penumpang dikutip ongkos Rp15 ribu yang juga mesti dibayar di atas kapal.
Jika musim sepi, Pipen paling banyak hanya mengangkut 50 penumpang. Jika musim ramai, kapalnya bisa membawa 80-100 orang. "Semuanya bisa dapat tempat duduk di dalam kapal, jadi memang bisa muat banyak. Biasanya saya jemput kalau dikontak penginapan untuk mengantar tamunya," tuturnya.
Kapal yang dinakhodai Pipen milik salah satu pengelola penginapan di Tuk Tuk. Kapal itu berukuran 18 x 5 meter dan menggunakan mesin bekas truk Mitsubishi 2006. Dalam sehari dia hanya beroperasi satu kali pergi-pulang. Kapal hanya dilengkapi 30 baju pelampung sebagai peralatan keselamatan.
Silalahi, 50, nakhoda lainnya, mengaku bisa mengangkut hingga 150 penumpang pada musim ramai dengan kapalnya yang berukuran 18 x 5 meter. Kapal yang menggunakan mesin bekas truk 2004 itu biasa singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain untuk mengangkut dan menurunkan penumpang. "Memang tidak ada batasan penumpang, paling kalau sudah terlihat penuh, penumpang sendiri yang tidak jadi naik. Tapi sering kali tetap ikut naik."
Salah seorang nakhoda yang enggan disebutkan namanya mengaku selama menakhodai kapal, ia tidak memiliki surat keterangan kecakapan (SKK) dalam melaut sebab untuk membuat SKK, Dinas Perhubungan Samosir mengenakan biaya Rp500 ribu per orang. Biaya tersebut dirasa mahal karena sebagai nakhoda dia digaji kecil oleh pemilik kapal.
"Jika membawa 200 penumpang sekali jalan, saya digaji Rp200 ribu. Tapi kalau musim sepi, paling hanya digaji Rp20 ribu-Rp100 ribu. Malah pernah tidak digaji karena sepi penumpang. Saya mengemudi tanpa SKK," akunya.
Menurut dia, guna mendapatkan SKK tidak perlu tes layaknya uji mengemudi untuk mendapatkan SIM. Sebab, menurutnya, mengemudikan kapal jauh lebih mudah ketimbang mengendarai mobil. "Cukup ngegas, ngerem, dan memutar saja kalau kapal mau nyandar. Selebihnya kalau kapal sudah jalan, kita tinggal kemudi sambil tidur pun tidak masalah. Jadi, tidak ada tes mengemudi kapal kalau ingin dapat SKK."
Meski begitu, bukan berarti tak ada tantangan dalam mengemudikan kapal. Jika cuaca buruk dengan angin kencang dan ombak besar, dia kerap merasa khawatir. Namun, hal itu tidak ia tunjukkan agar penumpang tidak ikut panik. "Sebab kita tidak bisa berhenti juga kalau ketemu ombak besar dan angin, mau tidak mau harus jalan terus, meski sebenarnya saya juga deg-degan," tukasnya.
Sulit dibatasi
Dia mengakui kerap mengangkut penumpang hingga lebih dari 200 orang. Biasanya penumpang memaksa ikut naik karena buru-buru ingin cepat pulang. Dinas perhubungan, katanya, beberapa kali melakukan pengawasan, tetapi jumlah penumpang memang sulit dibatasi. "Kalau saran saya, mestinya penumpang yang kontrol sendiri, kalau kira-kira sudah penuh, mestinya tidak usah ikut naik, tunggu kapal berikutnya saja."
Roland Sidabutar, 30, salah seorang penumpang, mengaku sudah terbiasa dengan kapal yang dipenuhi ratusan orang tiap kali menyeberang. Gangguan cuaca, kurangnya pengamanan, dan penumpang overload tidak membuatnya takut karena memang sudah biasa. "Sudah biasa itu, tidak apa-apa, tidak usah takut. Memang itu biasa terjadi," ucapnya.
Penumpang lainnya, Polmer Sinaga, 60, mengatakan tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba murni musibah dan tidak seharusnya hal itu membuat orang takut. "Selama ini juga tidak pernah ada kecelakaan. Baru kali ini, yang KM Sinar Bangun itu. Nakhodanya saya kenal, dia orang baik dan bukan peminum. kebetulan saja ada musibah. Sebelumnya musibah kapal besar begitu terakhir kali terjadi pada 1997."
Terkait dengan kebiasaan para nakhoda meminum tuak, diakui Polmer yang juga memiliki lepau atau kedai di Pelabuhan Tomok memang benar. Akan tetapi, mereka minum-minum pada malam hari seusai bekerja mengantar penumpang. "Bukan pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Biasanya malam, seusai kerja baru minum tuak," katanya.
Kondisi angkutan kapal di Danau Toba dalam pandangan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Samosir Annette Horschman Siallagan kurang menujang pariwisata. Annettee berpendapat perlu ada aturan khusus dan pengawasan ketat dari aparat.
Kebanyakan kapal, diakui Annette, memang layak, tapi ada satu-dua kapal yang kurang terawat. Karena itu, di setiap pelabuhan harus ada regu penyelamat. Pun dengan kapal penyelamat, perlu disiapkan di tiap daerah sehingga bisa melakukan pertolongan dalam keadaan darurat.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir Nurdin Siahaan mengakui selama ini pengawasan kapal belum ketat. Karena itu, pascatragedi KM Sinar Bangun, pengawasan dermaga menuju Pulau Samosir dan sebaliknya akan diperketat. "Hal itu masih dalam pembahasan berikut dengan kelaikan kapal penumpang di perairan Danau Toba." (Tosiani/Januari Hutabarat/X-8)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved