Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HANYA sedikit penginapan dan hotel yang bisa dijumpai di daerah Tele, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Kebanyakan hanya berbentuk rumah biasa dengan beberapa kamar. Beberapa penginapan tidak dalam kondisi bersih dan sering kali sudah penuh disewa wisatawan.
Malam semakin larut dan penginapan masih belum didapat. Ada beberapa hotel, yang bertuliskan 'Bintang' di depannya, masih menyediakan kamar. Penduduk sekitar menyebut itu sebagai kode khusus hotel yang memiliki kafe dengan transaksi seksual.
Untuk mendapatkan penginapan ataupun hotel, wisatawan mesti menuju ke Tuk Tuk di Kecamatan Simanindo sejauh 29,7 kilometer. Namun, jalan yang dilalui sempit, berkelok-kelok dengan danau di sisi kiri dan tebing di sisi kanan. Memasuki petang, sepanjang jalan itu diselimuti kabut. Padahal pene-rangan jalan nyaris tidak ada.
Di Tuk Tuk terdapat banyak hotel, penginapan, dan restoran. Tarif terendah penginapan yang layak di daerah itu berkisar Rp300 ribu-Rp350 ribu per malam. Untuk makanan mulai Rp25 ribu per porsi.
Di daerah tersebut hanya ada satu minimarket yang menjual barang-barang dengan harga lebih tinggi, terpaut Rp3.000-Rp5.000 per item dengan harga di daerah Tomok. Untuk mendapatkan barang kebutuhan lebih murah, penduduk dan wisatawan biasa pergi ke Tomok sejauh sekitar 15 km.
Lokasi pasar tradisional pun cukup jauh, sekitar 80 km hingga lebih dari 100 km, antara lain di Simanindo, Ambarita, dan Pangururan. Itu pun tidak setiap hari buka. Setiap pasar hanya buka sekali dalam sepekan secara bergiliran.
Padahal di daerah sekitar Danau Toba belum ada angkutan umum. Hanya ada becak motor dengan tarif Tuk Tuk-Tomok Rp50 ribu, Tuk Tuk-Simanindo Rp250 ribu, dan Tuk Tuk-Pangururan bisa lebih dari Rp300 ribu sekali jalan. Wisatawan biasanya menyewa sepeda motor dengan harga sewa rata-rata Rp250 ribu per hari.
"Di sini tidak ada yang beternak dan bertani. Jadi, untuk mendapatkan barang kebutuhan pokok, saya biasanya berbelanja ke Pematang Siantar. Jadi, saya menyeberangi danau dengan kapal, lalu lanjut perjalanan darat ke Siantar. Harganya memang lebih murah, tapi tetap harus dihitung dengan ongkos transpornya," tutur Laura, 35, pengelola penginapan di Tuk Tuk.
Tingginya biaya operasional di Kabupaten Samosir, membuat Laura menetapkan harga sewa kamar penginapannya cukup tinggi. Ia tidak memberikan layanan kamar seperti kebersihan dan sarapan pagi sebagaimana penginapan di daerah lain. Untuk makanan, Laura mengenakan tarif sendiri di luar sewa kamar.
"Biasanya memang banyak komplain karena harganya terlalu mahal di daerah sini. Itu karena apa-apa mahal. Enggak ada barangnya, mau cari telur ayam saja harus ke Siantar, lokasinya jauh," ujar Laura.
Minimnya fasilitas diakui Ketua Umum Yayasan Pusat Inspirator dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia (PIPPI) Robby Tampubolon karena masyarakat setempat belum terbuka dengan investasi dari luar. Jika ada investasi masuk, daerah akan lebih sejahtera.
Saat ini, sebut Robby, pendapatan per kapita masyarakat di sekitar Danau Toba hanya di kisaran Rp35 juta-40 juta per tahun. Komunikasi penduduk asli Batak dengan pendatang yang jumlahnya 1 berbanding 5 di empat kabupaten juga belum bagus. Umpamanya jika ada yang akan investasi di lokasi yang rata-rata tanah adat, kerap terganjal ketidaksetujuan satu atau dua orang saja.
"Sebagian penduduk overprotektif terhadap pendatang. Industri pariwisata dan hotel jadi tidak ada yang garap. Perlu diperbaiki komunikasinya, harus ada komunikasi dua arah antara penduduk dan pendatang dan aparat daerah harus turun tangan melakukan mediasi," kata Robby.
Yayasan PIPPI, imbuh dia, berjuang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Caranya antara lain dengan mempersiapkan anak-anak muda usia 17-24 tahun dan belum menikah untuk dididik menjadi pelaku bisnis.
Mereka akan diseleksi, mendapat training, dan edukasi sesuai potensi yang dimiliki agar tumbuh jiwa enterpreneur sehingga mampu berbisnis. Selama ini anak-anak muda sebagian merantau ke luar daerah dan enggan pulang membangun daerah. Sebagian lagi membantu orangtuanya di sektor pertanian.
Ketiadaan kemampuan bisnis selama ini, menurut Robby, membuat produk pertanian dan industri dari tanah Batak kurang mampu bersaing di pasaran. Karena itu harus ada inisiasi agar punya daya saing sehingga mampu menarik investor.
Pusat pelatihan bisnis tengah dibangun Robby di depan Bandara Silangit, Siborong Borong. Tujuannya untuk memudahkan mobilitas pemateri bisnis yang didatangkan dari luar daerah.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Samosir Annette Horschman Siallagan mengakui pariwisata di Danau Toba berkembang cukup baik. Infrastruktur dan fasilitas umum sudah diperbaiki, seperti jalan di dekat Danau Toba dan Samosir. Hanya saja jalanan masih kecil, sempit, seperti dari Parapat-Siantar, Parapat-Balige.
Kegiatan wisata anak-anak juga sudah ada, seperti jetski, banana boat, dan permainan atas air di Parapat. Ada pula rute tracking dari Tomok hingga ke gunung dan di atas sudah terdapat home stay yang sangat asri. Adventure tourism, kata Annette, bisa dikembangkan untuk orang-orang yang suka alam. Petani juga semakin organik sehingga bisa menunjukkan bukti pada wisatawan asing tentang pertanian yang sehat dan sustainable. Hal itu sangat menunjang eco tourism.
"Untuk mass tourism, saya sedikit takut kalau kita undang wisatawan besar, malah impact untuk lingkungan akan terlalu buruk. Jadi itulah, kita harus jaga sustainability supaya pariwisata jangan merusak. Kalau nanti dia berkembang terlalu gede, takutnya muncul masalah sampah, polusi, dan fasilitas yang mungkin belum mendukung," kata Annette.
Aturan khusus
Dia berharap alam dan budaya di Pulau Samosir dan Danau Toba tidak rusak oleh kunjungan banyak orang jika ada mass tourism. Karena itu, Annette merasa perlu ada aturan khusus.
Dia memberikan contoh, soal kebisingan akibat dari aktivitas water sport, pihaknya sudah meminta pemda untuk mengatur jarak aman dari pantai supaya tidak mengganggu tamu yang ingin rileks menikmati alam. Namun, hal itu belum terealisasi. Juga soal musik out door karena ada pengusaha mengelola tempat hiburan tanpa batas.
"Sering aku menjawab komplain tamu yang datang ke sini dengan harapan untuk tenang. Selama ini bisa tenang, tapi sekarang mulai terganggu. Jadi kita mewakili suara pengusaha di sini yang punya interest tapi belum dipenuhi pemkab," tutur Annette.
Masalah lain ialah soal solusi untuk air limbah dan general maintenance. Lampu jalan yang tidak berfungsi baru diperbaiki setelah Annette berkoar-koar, tapi setelah itu bertahun-tahun tidak diperiksa lagi. Ada juga soal pembangunan trotoar keliling Tuk Tuk, drainase tapi airnya tidak terkontrol. Yang terbuang ke danau berupa air limbah yang sangat kotor.
Masalah transportasi dalam penilaian Annette juga sangat parah. Tidak ada transportasi keliling dari Tomok-Tuk Tuk-Ambarita. Minimnya angkutan umum di darat dan danau jadi masalah serius. (Tos/JH/X-8)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved