Gapai Pancasila lewat Jalur Pipa Bocor

Anwar Surachman, Irana Shalindra
11/4/2015 00:00
Gapai Pancasila lewat Jalur Pipa Bocor
(MI/Atet Dwi Pramadia)
Harapan tinggal harapan. Hingga fajar pecah di Selasa (31/3) ini, belum ada berita perihal ketibaan bantuan logistik. Sudah 24 jam lebih perut kami nyaris tidak terisi makanan apapun. Mungkin itu bukan masalah jika kami tengah dalam aktivitas normal.

Namun, di gunung, dengan medan pendakian yang jauh dari kata santai, kami tidak ingin mengambil risiko. Maka, mau tidak mau, kami harus bergerak turun mencari si pembawa bantuan logistik itu  atau pendaki lain yang mungkin bersedia membagi sedikit makanan mereka.

Ego untuk mencapai puncak Gunung Tambora, untuk saat ini, harus dipadamkan. Toh, kami agak berbesar hati karena Media Indonesia Adventure Team II yang berangkat awal April akan dapat menggenapi misi tersebut.

Kami bersiap-siap dalam senyap. Onci, salah satu pemandu kami yang biasa menyanyi sambil menyetel musik di ponselnya, kali ini jadi pendiam. Mungkin antara lapar dan ingit menghemat tenaga.

Perjalanan turun berlangsung sejak pukul 07.00 WITA. Target awal adalah turun hingga ke Pos V. Siapa tahu bala bantuan menunggu di situ, atau paling tidak, kami dapat memenuhi air yang telah berkurang lebih dari separuhnya di botol-botol kami. Ya saat ini kami bukan hanya tidak memiliki makanan, tapi juga sudah nyaris kehabisan air lagi.

Cuaca hari itu cerah sekali. Langit biru jernih menaungi langkah kaki-kaki kami. Dari titik camp, rombongan menaiki tebing lalu menyusuri jalur kecil berbatu.

Di sana-sini rumpun edelweis terlihat sudah mekar. Jauh di belakang terlihat puncak Gunung Tambora yang berketinggian 2.851 mdpl. Saat ini kami memang tidak berkesempatan mencapainya. Namun, jika masih ada umur, mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke gunung yang indah ini.

Menuruni gunung tidak bisa gegabah. Keinginan untuk segera sampai kadang membuat orang keliru memilih jalur. Itu sebabnya kita harus selalu mengamati jalur maupun tanaman di sisi kiri-kanan.

Banyaknya batang dan akar pohon di tanah sepanjang jalur Tambora via Dusun Pancasila juga dapat menyebabkan pendaki terjerembab karena kaki terantuk batang pohon.

Setelah menyusuri jalur di sepanjang lereng terbuka yang ditumbuhi pohon cemara, tim tiba di Pos V pada pukul 08.24 WITA. Benar saja, di situ sudah menanti tim pembawa bantuan logistik yaitu tiga remaja bernama Egil, Denis dan Dali. Mereka anggota kelompok Gampping (Generasi Muda  Penjelajah Rimba dan Pendaki Gunung) dari Desa Calabai, sama seperti Onci, Oyong, Erik dan Nasar yang memandu kami.

Tanpa banyak bicara, sebagian dari kami langsung menanak nasi dan mi instan. Yang lainnya turun ke mata air di dekat pos untuk mengisi botol-botol air minum. Setelah matang, kami berbincang. Suasana hati yang sempat muram berangsur riang.

Ketiga remaja itu mengaku mendaki sejak sore hari kemarin. Hanya dalam waktu enam jam mereka telah sampai di Pos III. Karena tidak menjumpai siapapun, ketiganya meneruskan perjalanan ke Pos V. Sekitar tengah malam mereka tiba dan memutuskan tidur beratap langit karena memang tidak membawa tenda. “Sempat hujan segala, tapi untung tidak lama,” ujar Egil.

Di dekat pos yang rawan dengan kedatangan babi hutan itu, kami melihat hal baru. Sebidang lahan yang dipagari dinding terpal plastik. Dengan huruf kapital besar, terpal itu ditulisi 'WC'. Kami sempat melongok ke dalamnya. Luas WC itu mungkin sekitar 2x2 meter persegi. Tentu saja tidak ada jamban di dalamnya. Pendaki diharapkan menggali –dan menutup-- sendiri lubang untuk buang hajat di dalam ‘ruangan’ itu.

Usai sarapan, Egil bersama dua kawannya turun lebih dulu menuju Dusun Pancasila. Kami berjalan perlahan di belakang mereka. Pos III di ketinggian 1.515 mdpl dicapai tepat pukul 12 siang. Kawan lama, alias pacet, kembali kami jumpai di sini. Kendati bisa berkelit dari mereka di waktu datang, kini Nasar, pemandu kami yang lainnya, dan Irana menjadi korban. Tanpa sadar kapan pacet menempel, tahu-tahu sudah ada dua titik yang mengucurkan darah di kaki. “Anggap saja donor,” gurau Irana pasrah.

Tidak lama istirahat di tempat ini dan terus melangkah menuju Pos II dengan harapan tiba di pintu rimba sebelum malam hari.
Jalur antara Pos III menuju Pos II adalah yang paling jauh jaraknya. Naik-turun jalan tanah yang lembab di tengah hutan lebat membuat rasa lelah cepat datang. Belum lagi ditambah halangan berupa batang pohon besar yang harus dilompati.

Suara air mengalir pertanda pos II sudah dekat membuat semangat baru muncul. Sekitar pukul 13.45, kami sampai di sungai kecil tidak jauh dari Pos II. Rasanya lega sekali karena bisa beristirahat di pos tersebut. Air yang jernih di sungai tersebut membuat kami tidak segan untuk langsung meminumnya.

Di pos itu, kami jumpai lagi spot WC darurat. Agaknya fasilitas baru itu disediakan pengelola jalur Pancasila bagi pendaki-pendaki yang datang dalam rangka peringatan dua abad meletusnya Tambora.

Kami bertemu sekelompok penduduk Dusun Pancasila dalam perjalanan dari Pos 2 ke Pos 1. Mereka memakai parang untuk membabat semak-semak di kiri-kanan jalur pendakian. Lagi-lagi ini bagian dari upaya pembersihan jalur demi kenyamanan pendaki lokal dan mancanegara.

“Iya benar, mbak. Ini untuk persiapan (festival) Tambora Menyapa Dunia. Bukan cuma WC, papan penunjuk puncak juga diganti baru, jalur dibersihkan,” ujar Dorba, salah satu warga dusun, sambil menyeruput kopi di dalam selter pos.

Pipa bocor
Hujan turun rintik-rintik saat  tim tiba di Pos I pada pukul 15.30 WITA. Rehat untuk memakai raincoat dan memasak nasi dengan lauk ikan sarden. Setelah perut terisi, kami pun bergegas menuju pintu rimba.

Di persimpangan antara jalur baru dan lama, kami berunding sebentar. Agar lebih cepat akhirnya diputuskan menggunakan jalur lama yang mengarah ke kanan. Rupanya sudah cukup lama jalur ini tidak dilewati orang, bahkan rupanya tidak masuk operasi pembersihan yang tengah dilakukan warga. Mungkin karena jalur itu masuk wilayah Kabupaten Bima, sementara jalur baru ialah wilayah Kabupaten Dompu.

Semak belukar acap menutupi pandangan. Patokannya adalah pipa air minum yang tertanam di tanah dan kadang tersembul ke permukaan. Suara desisan air bocor dari pipa itu kadang menyerupai suara hewan dan membuat kaget.

“Banyak pipa yang bocor di sini. Makanya suka disebut jalur pipa bocor. Ini jalur asli menuju Pos I, tapi sekarang kalah populer dengan jalur yang baru. Padahal treknya lebih  mudah dan lebih cepat,” ujar Oyong.

Memang betul, dibandingkan dengan trek menuju Pos I yang kami lalui saat datang, trek kali ini terasa lebih landai dan juga lebih cepat. Bisa jadi karena kami sekarang pun tancap gas penuh. Sekitar sejam berjalan, jalur telah terbuka lebar dan kini kami berada dalam perkebunan kopi, komoditas unggulan di Tambora.

Menjelang Maghrib, kami sampai di pintu rimba di wilayah Kabupaten Bima. Di titik berketinggian 670 mdpl ini terdapat sebuah pos untuk beristirahat.Mimik lelah tapi semringah tampak di wajah-wajah anggota tim. Misi menuruni kaldera Gunung Tambora selesai dengan sukses dan selamat!

Delapan sepeda motor ojek datang menjemput bertepatan dengan usainya senja. Perut kembali terkocok-kocok saat dibonceng karena jalur tanah yang dilalui begitu buruk. Bahkan ada jembatan rusak yang belum diperbaiki sehingga kami mesti melintas di sebidang kayu yang dihamparkan temporer di atas jembatan.

Sekitar 30 menit perjalanan, dan rombongan akhirnya tiba di Dusun Pancasila, disambut senyum lebar Saiful Bahri, si empunya homestay  tempat kami menginap di malam terakhir kami di Tambora ini.

Sambil membereskan bawaan di kamar, kami mendengar para pemandu bersenda gurau di beranda homestay. Lamat-lamat, terdengar suara Onci bernyanyi. Lagu yang tidak familiar bagi kami, tapi terasa berkesan di saat itu. “Jangan kau kotori tanah nenek moyangku. Jaga indahnya untuk anak cucumu. Sempurna Tambora anugerah Illahi.”

Terima kasih Gunung Tambora! (Briyanbodo Hendro)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya