Ini gawat. Logistik yang tersisa hanya untuk satu kali makan. Kenyataan pahit itu yang harus Media Indonesia Adventure Team hadapi sekembalinya dari dasar kaldera Tambora ke tenda, Minggu malam (29/3).
Kecemasan soal stok logistik memang mulai membayang sejak di Pos V. Molornya waktu dari estimasi awal kami untuk turun ke dan menyusuri lantai kawah Tambora membuat kecemasan itu sekarang nyata adanya. Sisa logistik yang tertinggal sekadar 8 potong ketupat instan seukuran ibu jari dewasa, rendang kaleng, dan tiga bungkus mie instan. Memang bisa dicukup-cukupkan untuk malam ini, tapi bagaimana dengan besok?
Kami pun berdiskusi dengan para pemandu. Kesimpulannya, dua orang dari mereka, Onci dan Erik, akan naik ke gigiran kawah lebih dulu agar mendapatkan sinyal seluler. Di sana, mereka akan mengontak rekan-rekan di basecamp untuk mengantar logistik ekstra ke Pos V.
"Tapi, kemungkinan terburuk kita mungkin baru menerima logistik itu besok malam atau malah lusa pagi," kata Oyong, yang paling senior di antara para pemandu kami.
Kami saling berpandangan dengan hati kecut. Jika logistik darurat baru sampai esok lusa, berarti kami tidak akan bisa melanjutkan pendakian ke Puncak Tambora. Area puncak berjarak sekitar 200 meter dari bibir kawah dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. Rencana awal kami ialah pergi summit setiba di bibir kawah.
"Ya sudah kita istirahat dulu sekarang. Kita lihat besok pagi," ajak Anwar.
Kami terlelap dengan cepat. Para pemandu yang biasanya bercakap-cakap hingga larut pun kali ini segera pulas. Perjalanan ke kaldera memang amat menguras tenaga.
Keesokan paginya, Senin (30/3), tepat pukul 07.15 Wita, kami memulai perjalanan. Tanpa sarapan, hanya meneguk air bawaam yang tersisa dari sungai di kaldera kemarin.
Walau ingin secepatnya tiba di bibir kawah, pendakian berjalan lambat karena Oyong dan Nasar yang mengiringi kami kadang masih mencari-cari jalur naik yang aman.
Sengatan sinar matahari sendiri terasa begitu panas. Indikator suhu di arloji memperlihatkan angka 37-38 derajat celcius. Irana yang sedari kemarin tersengat panas dan nyaris tidak makan apapun karena mual, mulai terhuyung-huyung dan berjalan lebih lamban.
Perlahan kami merambat, menaiki tebing batu yang terjal. Ilalang dan batang pohon menjadi alat bantu agar bisa melewati titik-titik pemanjatan di beberapa tempat.
Hati sedikit ciut ketika kami mendengar suara gemuruh halus. Ternyata, di kejauhan, tebing sebelah kiri, tampak batu-batu (yang kelihatannya) kecil berjatuhan ke bawah.
Para pemandu memang telah mengingatkan ada beberapa tebing yang rawan longsor. Karena itu, tidak bisa sembarangan memilih jalur saat menyusuri tebing kaldera.
Dari tempat menginap semalam, perjalanan diarahkan ke sebelah kanan. Target awal adalah rongga tebing tempat aliran sungai kering berketinggian 2.305 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang pernah menjadi lokasi makan siang dua hari yang lalu.
Namun, pertama-tama kami harus melewati dahulu padang bebatuan besar. Melompat dari satu batu ke batu yang lain perlu ekstra hati-hati. Kadang batu yang diinjak bergoyang karena sesungguhnya tidak bertumpu ke tanah melainkan ke batu lainnya. Rongga-rongga antarbatu terlihat gelap karena cukup dalam.
Beruntung kami menemukan kembali mata air tersembunyi di titik 1.825 mdpl. Kami segera mengisi kembali stok air yang mulai tiris. Dengan memakai cangkir, kami menciduk air lalu menumpahkannya ke sekujur badan. Dingin dan segar!
Tidak bisa berlama-lama di tempat tersebut. Sebelum pakaian keburu mengering karena kuatnya pancaran matahari, kami kembali mendaki. Kembali menggendong ransel yang rasanya kian berat lalu berjalan perlahan menaiki tebing.
Lewat tengah hari perjuangan melewati medan bebatuan belum usai. Oyong yang berjalan paling belakang mengiringi Irana terkadang berteriak memberitahu arah naik kepada Nasar yang berada paling depan. Sementara itu, Nasar sendiri sengaja mematahkan beberapa batang tanaman yang dilewatinya supaya kami di tengah mengetahui jalur yang dipilih.
Sekitar pukul 14.30 WITA akhirnya kami mencapai lokasi rongga. Lega, setidaknya tinggal dua tebing yang harus dilalui memakai bantuan tali temali sebelum akhirnya nanti tiba di gigiran kawah.
Sisa air dikumpulkan dan dimasukkan dalam panci kecil. Berbahan bakar parafin, kami memasak air yang dicampur tanaman liar 'ginseng' yang tumbuh di dinding tebing. Beruntung Nasar masih menyimpan satu bungkus kopi instan. Setelah diseduh bersama air ginseng itu, kami mereguknya bergantian.
"Top! Starbuck lewat nih," seru Atet, fotografer kami. Rasa kopi manis itu memang memantik sensasi segar setelah seharian kemarin kami menenggak air berpasir pun berbelerang.
Dengan perut keroncongan, kami selanjutnya dihadapkan kepada tanjakan tanah setinggi lebih kurang tiga meter. Secara bergantian kami memakai harness, mencantolkan carabiner ke tali lalu menaiki tebing tanah itu.
Oyong sudah lebih dulu berada di atas dan bertindak sebagai belayer atau pengaman yang memegang tali. Dengan demikian, jika ada yang terjatuh masih bisa tertahan oleh tali di belayer.
Beruntung tidak ada insiden serius saat menaiki tebing itu, meski kaki Anwar sempat tergelincir saat memanjang tebing dan batu jatuh membentur dahinya.
Tim lalu bergerak melintasi jalur tanah sempit berapit jurang. Pemanjatan beberapa tebing pendek dilalui dengan cukup cepat tanpa bantuan tali lagi.
Tebing terakhir menunggu. Kali ini kami naik tanpa tali dan harness, hanya dibantu webbing atau tali pipih yang kuat sepanjang tiga meteran.
Sayup-sayup, terdengar teriakan menyemangati dari Onci dan Erik yang rupanya ada di gigiran kawah.
Usai memanjat, kami sempat beristirahat sambil mengamati dasar kaldera yang jauh di bawah sana.
Kami akhirnya mencapai gigir kawah sekitar pukul 18.15 WITA. Seperti bocah, Irana, yang sudah kepayahan sedari tadi, terisak-isak begitu tiba di atas.
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat dan angin mulai bertiup kencang. Onci dan Erik telah menyalakan api unggun sembari menunggu.
Belum ada kabar soal ketibaan logistik kami. Sempat terjadi diskusi apakah akan kembali meneruskan perjalanan turun hingga ke Pos V atau bermalam lagi di gigir kawah.
Dengan harapan kami bisa summit, plus lelah yang memuncak, kami memutuskan bermalam di gigir kawah. Hari yang panjang ini ditutup dengan sebungkus sup jagung. Sup instan yang idealnya untuk tiga orang itu dimasak dengan air berlebih agar cukup untuk kami berdelapan.
Sambil menyesap sup, kami menyimpan benih harapan bahwa bantuan logistik datang tepat waktu esok hari. (Anwar Surachman/Briyanbodo Hendro/Irana Shalindra)