Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMARAU membuat sejumlah dae-rah mulai mengalami kekeringan. Di wilayah Jambi dan Riau, pemerintah dan swasta terus mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan sebagai dampak kekeringan.
Di Jambi, tujuh kepala desa di Kabupaten Tebo sudah bersedia untuk terlibat dalam pencegahan kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kesediaan serupa juga dinyatakan sembilan desa di Riau.
Adalah perusahaan perkebunan Asian Agri yang mengajak para kepala desa dan warganya untuk peduli. Mereka sepakat untuk menggulirkan program Desa Bebas Api. "Kami sudah melibatkan mereka sejak 2016. Tahun ini, kerja sama kembali diperbarui untuk kurun hingga April 2019," ujar Manajer Sustainability Operation Asian Agri, Zulbahri, di Kota Jambi, kemarin.
Ketujuh desa yang berada di Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, dan sembilan desa di Riau tergolong kawasan paling rawan terbakar. Mereka juga berada di sekitar wilayah konsesi Asian Agri.
"Tahun ini kerja sama untuk periode ketiga. Melalui pendampingan yang berkesinambungan dan dukungan dari masyarakat, tingkat kebakaran bisa ditekan secara signifikan," lanjut Zulbahri.
Ia mencontohkan, pada awal kerja sama kebakaran akibat pembukaan lahan oleh warga di tujuh desa mencapai 346 hektare. Setahun kemudian turun jadi hanya 11 ha.
Kekeringan yang terjadi setiap tahun juga membuat petani di Oepoi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, memilih menanam kangkung, jagung, dan sawi. Kangkung lebih disukai karena tak butuh banyak air dan masa panen hanya 30 hari.
"Sesuai anjuran, pada masa keke-ringan, petani di areal tadah hujan tidak menanam padi. Tanaman hortikultura tepat untuk dipilih," ujar Kepala Dinas Pertanian NTT Yohanes Tay.
Dampak kekeringan tidak hanya membuat lahan pertanian tidak bisa ditanami, kebutuhan warga terhadap air bersih pun sulit terpenuhi. Di Kampung Mbrata, Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, NTT, warga harus mencari air bersih hingga 2-3 kilometer dari pemukiman mereka.
"Kami terpaksa mengambil air dari kubangan yang biasa dipakai sapi dan kerbau berendam," tutur Fatima Maria, warga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved