Perlintasan Masalah Penting ASEAN-Australia

Yusuf Riaman
03/7/2018 22:45
Perlintasan Masalah Penting ASEAN-Australia
(MI/YUSUF RIAMAN )

MASALAH perlintasan orang antarnegara yang belakangan ini semakin menghangat menjadi tema pembahasan Indonesia bersama dengan negara lain anggota ASEAN dan Australia di forum pertemuan Directors General of Immigrations Department and Heads of the Ministries of Foreign Affairs (DGICM) di Mataram, Selasa (3/7).

"Tugas imigrasi salah satunya memastikan orang-orang asing atau mereka yang ke luar negeri berjalan dengan baik sesuai tujuan masing-masing tidak sampai menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan," kata Alif Suaidi, Direktur Sistem dan Teknologi Informasi Keimigrasian, kepada wartawan di sela-sela acara pembukaan pertemuan DGICM.

Pertemuan yang berlangsung pada 2 hingga 6 Juli tersebut dihadiri Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Laos, Filipina, Kamboja, Australia, dan Indonesia. Lebih lanjut, Alif menjelaskan, lalu lintas manusia ke Indonesia dan sebaliknya kini terus meningkat daripada sebelumnya, hanya 8 hingga 9 juta menjadi 11 hingga 12 juta dan diharapkan.

"Tidak hanya orang asing yang datang ke Indonesia, tetapi juga orang Indonesia yang ke luar negeri berpotensi ada masalah terkait penyelundupan manusia, terorisme, tenaga kerja ilegal, atau nonprosedural supaya bisa dicegah sedini mungkin. "Karena itu bisa menjadikan orang yang mungkin tidak bersalah menjadi korban akibat perdagangan orang antarnegara," ujarnya.

Alif, didampingi Kepala Kantor Imigrasi Mataram Dudi Iskandar, mengatakan pertemuan tersebut juga membahas masalah mekanisme pertukaran informasi, antara lain dengan mempererat hubungan para kepala imigrasi yang ada di bandara besar serta mencegah jaringan terorisme, termasuk belajar dengan Australia cara menjaga perbatasan.

Jenazah TKI
Pertemuan strategis DGICM tersebut bertepatan dengan upaya pemulangan jenazah TKI yang menjadi korban tabrakan kapal motor (speed boat) di wilayah perairan Sebatik, perbatasan Indonesia-Malaysia, pekan lalu.

Kemarin, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Nunukan, Kalimantan Timur, memulangkan empat jenazah korban ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jenazah yang dipulangkan ialah Maria Goreti Barek, Vian Mukin, Anastasia Jarolina Lili, dan Yohanes Mani Pelatin. "Dari empat jenazah yang dipulangkan ke NTT, satu jenazah masih berada di Tarakan karena penerbangan penuh dan baru akan diberangkatkan ke NTT pada Kamis (5/7)," kata Koordinator Bidang Humas Organisasi Forum Komunikasi Pemuda NTT di Nunukan Feliks Kebo Keda, kemarin petang.

Jenazah akan diberangkatkan dengan kapal motor dari Nunukan ke Tarakan sebelum diberangkatkan dengan pesawat terbang menuju Surabaya dan Maumere, Kabupaten Sikka.

Diketahui, kecelakaan terjadi pada Jumat (29/6) sekitar pukul 19.00 Wita. Ketika itu speed boat mengangkut sekitar 15 pekerja migran dari Indonesia yang akan bertolak dari Tawau, Malaysia, menuju Nunukan. Kapal bertabrakan dengan speed boat lain di perairan Sebatik. Dari 15 penumpang, sekitar 8 penumpang merupakan warga NTT dan 2 korban sudah dikebumikan di Nunukan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya