Menjadikan Danau Toba Monako-nya Asia

Tosiani dan Januari Hutabarat
03/7/2018 08:05
Menjadikan Danau Toba Monako-nya Asia
PEMBENAHAN INFRASTRUKTUR: Suasana bandara Silangit di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Bandara yang kedatangan sebanyak 1.500 penumpang per harinya itu membutuhkan pembenahan infrastruktur, antara lain pembenahan sebagian jalan-jalan yang ma(MI/TOSIANI)

WAKTU menunjukkan pukul 15.10 WIB ketika Media Indonesia mendarat di Bandara Silangit, Siborong-borong, Tapanuli Utara, pada Jumat (22/6). Pesawat yang delay 45 menit dari Jakarta menyebabkan keterlambatan hampir 1 jam. Ketika itu Bandara Silangit sudah lewat 10 menit dari batas akhir jam operasional.

Begitu turun dari pesawat, banyak penumpang mencari toilet. Namun, setelah menyusuri koridor bandara hingga pintu keluar, toilet tak juga ditemui. Perlu berjalan kaki sekitar 150 meter dari halaman bandara ke arah kanan untuk bisa buang hajat di tempat yang semestinya.

Hanya ada tiga kamar kecil di toilet wanita dengan ukuran 1 x 0,8 meter. Karena itu, antrean cukup panjang. Kondisi toilet pun cukup memprihatinkan. Lantai sedikit tergenang dan licin.

Lantaran bandara sudah tak beroperasi, kebanyakan kantin dan kafe yang ada di bandara juga tutup. Hanya ada satu kafe yang masih buka. Letaknya tepat di samping pintu masuk bandara. Dari kafe itu, terlihat puntung rokok berserakan di depan bandara. Padahal, sekitar 2 meter dari tempat itu terdapat tempat sampah berukuran besar.

Sayangnya pula, meski kafe masih buka, penjual tak bisa melayani pesanan teh atau kopi karena tidak memiliki persediaan air lagi. Orang-orang yang menunggu jemputan pun hanya bisa duduk-duduk di depan kafe.

Di bandara tidak ditemui angkutan umum seperti taksi dan angkutan lainnya. Hanya ada mobil travel yang siap disewa menuju Danau Toba dengan tarif Rp25 ribu-Rp100 ribu per orang sekali jalan.

Kawasan Danau Toba digadang-gadang pemerintah untuk dijadikan Monako-nya Asia. Karena itu, pembenahan fasilitas dan infrastruktur penunjang terus dilakukan agar kunjungan wisatawan terus meningkat.

Asisstant Manager of Infra-structure Bandara Silangit, Siborong Borong, Yosapath Tambunan mengatakan terdapat peningkatan jumlah penumpang dari tahun lalu 1.000 orang menjadi 1.500 penumpang per hari. Kebanyakan merupakan penumpang domestik sehingga Yosapath tidak bisa memastikan apakah mereka wisatawan atau hanya akan pulang kampung.

"Target kita jumlah penumpang tahun ini mestinya 500 ribu orang per tahun atau 2.000 orang per hari. Kita lagi susun strategi supaya ada peningkatan. Servis akan kita tambah, fasilitas seperti toilet, musala, restoran, penjualan suvenir, dan area parkir akan ditambah sehingga penumpang bisa menghabiskan waktu di sini," tutur Yosapath.

Semula, kata dia, runaway Bandara Silangit hanya berukuran 2.250x30 meter dan saat ini sudah diperpanjang menjadi 2.600x30 meter. Kekuatannya yang semula 32 pcn pun kini menjadi 40 pcn. Sedianya runaway akan ditingkatkan lagi menjadi 3.000x45 meter agar pesawat lebih besar bisa mendarat dan membawa lebih banyak penumpang. Operasional bandara yang saat ini pukul 08.00-15.00 WIB juga akan diperpanjang.

"Kita juga akan upayakan penyambutan penumpang supaya mereka senang datang ke sini. Selama ini penyambutan penumpang hanya dilakukan pemerintah daerah jika ada event tertentu," katanya.

Keluar dari bandara hingga ke Simpang Paranginan di Kabupaten Kumbang Hasumdutan sepanjang sekitar 15 kilometer kondisi jalan sudah bagus. Lebar jalan kisaran 5 meter.

Namun, menuju Kecamatan Linthong Nihuta sepanjang sekitar 10 km, jalanan dipenuhi lubang berdiameter 5 cm-10 cm dan kedalaman 3 cm-5 cm.

Untuk menuju Samosir, dari ruas itu wisatawan bisa mengambil jalan pintas lewat desa Lintong, lalu memasuki jalan lintas Sumatra. Kondisi jalanan lebih sempit, hanya sekitar 4 meter, hingga masuk Tele. Sebagian jalan dalam kondisi bagus, sebagian berlubang.

Sepanjang jalan dari ruas Doloksanggul hingga Tele hampir tidak ada penerangan. Begitu pula hingga Tuk Tuk. Padahal, saat malam hari, kawasan itu kerap diselimuti kabut dengan jarak pandang hanya 5 meter-10 meter.

Jalan yang berkelok-kelok sempit, di sisi kiri danau dan sebelah kanan tebing setinggi 3 meter-15 meter membuat perjalanan lebih sulit di malam hari.

Di sepanjang jalan tersebut nyaris tidak ada restoran maupun rest area. Memasuki perbatasan Tele baru ada satu dua warung makan yang langsung tutup menjelang petang. Warung makan atau lapo baru ditemui di dalam Kota Tele.

Lebih baik

Dalam pandangan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kabupaten Samosir Annette Horschman Siallagan, kondisi infrastruktur yang ada di daerahnya hingga kawasan wisata Danau Toba saat ini sudah lebih baik.

Hanya saja, jika Danau Toba hendak dijadikan Monako-nya Asia, infrastruktur dan fasilitas juga harus dibuat lebih bagus seperti di Monako. Monako ialah negara kecil di Eropa yang sangat indah dan menjadi salah satu destinasi utama pariwisata.

"Pariwisata Danau Toba sudah semakin bagus, infrastruktur juga. Tapi, kalau mau jadi seperti Monako, ya harus dilengkapi fasilitas dan infrastruktur seperti di Monako," ujar Annette.

Fasilitas ala Monako dicontohkan Annette seperti hotel level bintang 5, rumah sakit kelas dunia, serta ditunjang dengan kegiatan dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya. Dia yakin Badan Otorita Danau Toba tengah mengurus semua itu.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir Daulat Nainggolan mengungkapkan, pihaknya merespons niatan pemerintah pusat untuk mengembangkan kawasan Danau Toba dan menerima konsep yang disampaikan. Pemda juga terus menyosialisasikannya kepada masyarakat sehingga tumbuh kesadaran untuk menyerahkan tanah mereka antara lain untuk pelebaran jalan, meski diganti rugi oleh pemerintah.

"Kami juga sosialisasi dan vokasi hingga ke sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran wisata. Jadi semua diwajibkan ramah, dengan 3S yakni senyum, sapa, dan salam dan harus menerima wisatawan," kata Daulat.

Wisatawan meningkat

Setelah berbagai upaya yang dilakukan, kata Daulat, angka kunjungan wisata ke Danau Toba melalui Samosir terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2016, kunjungan wisata ke Danau Toba mencapai 190.728 orang terdiri dari 154.905 wisatawan Nusantara dan 35.823 wisatawan mancanegara (wisman). Pada 2017, jumlah pelancong meningkat menjadi 278.095, terdiri dari 222.288 wisnus dan 55.807 wisman. Pada 2018 ini pihaknya menargetkan kunjungan wisata dapat mencapai lebih dari 300 ribu orang.

Di Samosir, Daulat, saat ini sudah tersedia 95 hotel, 66 homestay, dan 104 restoran. Pendapatan pajak dari sektor ini juga sudah menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 80,92%. Hanya, kata dia, keberadaan hotel, homestay dan restoran itu baru terkonsentrasi di Kecamatan Simanindo. Padahal, di Kabupaten Samosir terdapat tujuh kecamatan yang semuanya dikelilingi Danau Toba.

"Kita tetap mengimbau, mengajak agar potensi ini ditangkap teman-teman swasta. Kita juga menyiapkan anggaran untuk sarana prasarana seperti menambah toilet umum, kamar ganti, dan photo spot di beberapa titik. Anggaran itu dari Kemenpar senilai sekitar Rp5,5 miliar tahun ini dan dari APBD Rp1,5 miliar," katanya.

Imam, 30, pelancong asal Panyambungan, Kabupaten Mandailing Natal, mengaku senang berkunjung ke Danau Toba. Kunjungan bersama istrinya ini merupakan yang pertama kali. Ia merasa terkesan dengan keramahan masyarakat sekitar danau. "Penyambutannya bagus, ramah, saya merasa terkesan," tuturnya. (X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya