Gunung api Tambora yang di dalamnya terdapat Doro Afi Toi, alias gunung api kecil diyakini tidak akan meletus dalam waktu dekat dengan kedahsyatan seperti yang pernah terjadi dua abad lalu. "Untuk letusan dasyat membutuhkan waktu ribuan bahkan bahkan jutaan tahun meskipun dapur magmanya sama dengan Tambora," kata Aris Dwi Nugroho, ahli geologi, staf seksi Mitigasi Bencana Geologi didampingi Dwi Hardoyo staf Geologi Umum, Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Distamben) Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada Media Indonesia Rabu (08/04) di Mataram.
Menurut Aris, fisik Doro Afi Toi yang berada di bagian barat magma Tambora berasal dari hasil kegiatan vulknik mulai 1847-1913, memiliki ketinggian 15 meter dari dasar kaldera. Doro Afi Toi pernah dalam status siaga pada2011 lalu dan sejak 2013 hingga saat ini status normal. "Kalaupun meletus tidak akan keluar dari kawah, semua aman, kecuali sungai yang berhulu di Tambora," tandas Aris. Hal serupa diungkapkan Christian, salah satu perintis jalur turun ke kawah Tambora. "Waktu 2011, masyarakat setempat heboh sampai mau mengungsi. Saya bilang ke dinas setempat, 'Pak, jangan menakut-nakuti masyarakat. Doro Afi Toi itu tingginya paling-paling 15 meter. Dinding kawah itu 1.000 meter lebih. Jadi, kalaupun meletus, paling-paling sampai bibir," ceritanya.
Maka itu, di mata keduanya, Tambora saat ini bukan merupakan ancaman, karena posisi dapur magmanya relatif dangkal dengan sistem terbuka, sehingga tidak terjadi akumulasi energi yang besar. "Kita justru focus pada Gunungapi Sangyangapi yang ada di wilayah Kabupaten Bima," ujar Aris. Ia menambahkan, pada Agustus mendatang dia bersama tim kembali akan melakukan penelitian ke Tambora, tetapi lebih kepada persiapan Tambora menjadi geopark nasional.
Nun jauh, di Bern, Swiss, para ahli gunung api dari berbagai negara, termasuk Indonesia, turut 'merayakan' dua abad sejak letusan Gunung Tambora dalam suatu konferensi internasional bertema Volcanoes, Climate, and Society. Konferensi itu dimulai kemarin sampai 10 April 2015. Profesor Stephen Self, pakar gunung api dari Universitas California, Berkeley, AS, yang menjadi pembicara di seminar itu mengatakan erupsi Tambora yang telah mendorong pendinginan global, wabah penyakit dan kelaparan di berbagai belahan dunia ialah contoh nyata kekuatan destruksi suatu gunung api.
"Letusan sedahsyat itu jika terjadi sekarang ini tentu mempunyai dampak signifikan terhadap pergerakan udara, juga sirkulasi atmosfer di dunia. Jadi, tentu kami ingin tahu bilamana 'the next big one' terjadi," ujarnya seperti dilansir dalam situs UC Berkeley."Namun, tentu kita sukar memprediksinya jika tidak tahu skala erupsi di waktu lalu. Bayangkan, Frankenstein (novel populer karya Marry Shelley) lahir dari tahun tanpa musim panas, yang disebabkan letusan gunung yang orang-orang tidak pernah tahu namanya," imbuh Self seraya menyayangkan minimnya informasi mengenai erupsi Tambora di waktu silam tersebut.
Akan tetapi, ia menambahkan, bahkan di negara dengan studi mumpuni soal gunung api seperti Jepang pun, paling tidak ada 40% dari megaerupsi yang tidak tercatat. Self sendiri ialah salah satu ilmuwan modern yang telah menyambangi kawah Kaldera, pada 1979. Dari kumpulan batu yang ia analisis, Self mengestimasi bahwa ketika meletus di 1815, Tambora memuntahkan 30 sampai 50 ribu kilometer kubik material vulkanik. Itu berbeda dengan beberapa prakiraan sebelumnya yang menaksir muntahan material vulkanik mencapai 150 ribu kilometer kubik. Perbedaan tajam itu menandakan begitu besarnya ruang gelap dari misteri letusan gunung di Pulau Sumbawa. "Kita memang tidak bisa menghentikan erupsi, tapi kita bisa belajar untuk bersiap-siap beradaptasi terhadap dampak-dampaknya," kata Self. (YR/Sha)