Kaldera yang Menakjubkan

Anwar Surachman
09/4/2015 00:00
Kaldera yang Menakjubkan
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
Pergerakan di hari ketiga pendakian agak lambat. Rasa lelah setelah menempuh jalur berat di hari-hari sebelumnya membuat kami enggan meninggalkan tenda. Namun, Sabtu (28/3) ini justru perlu tenaga ekstra karena Media Indonesia Adventure Team akan menuruni tebing curam menuju dasar kaldera Gunung Tambora.Dari tempat camp tim berjalan sekitar 20 menit menuju gigir kawah. Kami terpukau melihat betapa luasnya diameter kawah Tambora, sekitar 
tujuh-delapan kilometer menurut sejumlah literatur. Entah perlu berapa hari jika ingin mengelilingi kaldera tersebut.

Jauh di bawah sana, terlihat dasar kaldera. Warna tanahnya kehitaman, seolah seperti lautan pasir. Di beberapa sisinya, tebing-tebing putih berisi belerang mengeluarkan asap putih."Kita bisa lari-lari nih kalau udah di bawah," ujar Briyan yang 
tampaknya merindukan tanah datar. Para pemandu kami, Oyong, Onci, Erik, dan Nasar, hanya tersenyum mendengarnya.
Tepat di ujung bibir kawah, sebelum bergerak turun, Oyong mengumandangkan azan. Sebagian warga lokal percaya wilayah kaldera Tambora dihuni bangsa jin. Jadi, azan tadi seolah seperti bentuk meminta izin kepada ‘pemilik’ wilayah.

Perlahan kami berdelapan menuruni jalur berbatu. Tidak lama kami tertahan oleh tebing curam berkedalaman lima meter. Para pemandu lalu sibuk memasang tali webbing sebagai alat turun. Tidak lupa menggunakan harness berikut carabiner yang dikaitkan ke tali tersebut. Tujuannya, agar pendaki turun dengan lebih aman."Wah, mbak ini yang paling berat," seru Oyong ketika Irana bergerak menuruni tebing.

Usai rintangan pertama, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalur tanah yang sempit, kadang lebarnya tidak sampai setelapak kaki, dengan jurang di kiri-kanan mengharuskan kami waspada. Sementara cuaca semakin panas membuat haus terasa di tenggorokan. Alang-alang begitu lebat, seolah tidak pernah ada yang melewatinya.Dugaan itu tidak salah. Oyong yang sudah empat kali memandu ke kaldera mengatakan jalur kaldera via Dusun Pancasila itu terakhir dilewati pada 2013.

Menurutnya, tidak banyak pendaki yang turun ke kaldera. Yang ada pun lebih memilih lewat jalur Doro Ncanga karena lebih landai dan lebih singkat. "Cuma lewat sana memang lebih mahal karena mesti sewa jeep segala," jelasnya.Dua jam kemudian, kami bertemu lagi dengan tebing tanah yang curam. Sambil antre menggunakan harness dan tali, kami harus berpegangan di batang-batang pohon untuk menjaga keseimbangan. Tebing itu tegak lurus tanpa banyak cerukan untuk kaki berpijak.

Adrenalin terpacu ketika mulai merambat turun dan kami menghembuskan nafas lega setelah semua selamat sampai ke dasar tebing.Beberapa meter dari situ, terdapat aliran sungai kering yang dinaungi tebing tinggi. Kami memutuskan beristirahat dan memasak ketupat instan karena stok beras makin tipis di area berketinggian 2.305 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Tidak lupa menjerang air yang dicampur sejenis tanaman liar yang tumbuh di dinding tebing. Para pengantar kami mengistilahkan tanaman tadi sebagai ‘ginseng’. Entah apa nama asli tanaman itu, yang pasti cukup cocok sebagai pengganti teh.

"Ini mungkin yang pernah ditanam ayah saya," ucap Onci. Ayah Onci ialah salah satu pemandu Tambora yang pertama kali mencapai dasar kaldera. Sayangnya, kata Onci, sang ayah wafat ketika tanpa sempat mengajarinya jalur menuju kawah.Medan selanjutnya berubah menjadi area batu-batu besar. Mulai dari sebesar kepala manusia hingga mencapai diameter meja tulis. Kadang ada batu yang goyah begitu diinjak, membuat jantung berdesir lebih cepat walau para pemandu meyakinkan batu-batu tersebut tidak pernah longsor.

Tetap saja kami perlu ekstra hati-hati. Salah sedikit, bisa terjepit di antara bebatuan.Di tengah rasa haus yang kian mencekik leher dan persediaan air yang menipis, kami menemukan sebuah cerukan tanah berisi air di titik 1.825 mdpl. Dengan gembira, kami mengisi botol-botol air.Malam tiba ketika kami usai menuruni jalur curam di tepi sebatang pohon cemara. Cemara tunggal, istilah para pemandu, menjadi penanda jalur mencapai dasar kawah. Dengan patokan itu, kami memperkecil risiko turun di spot yang salah, seperti di bagian dinding kawah yang aktif, misalnya.Namun, malam sudah keburu datang. Dengan pertimbangan keselamatan dan menjaga stamina, tim memutuskan membuka tenda dan menginap di tebing titik 1640 mdpl. Berbahaya sekali jika nekat turun di tengah kegelapan.

Dengan ruang yang seadanya, sebagian dari kami terpaksa tidur miring di atas tanah dengan batu-batu bertonjolan. Para pemandu bahkan hanya beralas matras. Paling tidak, kami bisa merebahkan badan. Pagi datang begitu cepat. Minggu (29/3), pukul 07.00 kami sudah bergerak turun. Kali ini kami hanya menyandang ransel berisi makanan dan minuman. Barang-barang lain ditinggal di tenda yang dibiarkan tetap berdiri.Pergerakan mengarah ke kanan menuju tebing berbatu besar sebagai 'pintu masuk’ ke kaldera.

Namun masih ada rintangan berupa jalur di tebing batu yang lebarnya hanya sekitar 30 sentimeter. Badan kami  menghadap ke tebing sambil merambat pelan-pelan. Keliru melangkah, jurang berkedalaman sekitar 10 meter siap menerima kami.Untunglah jalur yang dinamai ‘spiderwalk’ itu bisa dilalui tanpa insiden. Selanjutnya tinggal meniti jalur ke sebuah punggungan lalu turun menerobos rerimbunan ilalang.

"Turun kaldera lewat jalur Pancasila ini memang hanya untuk yang suka memacu adrenaline," canda Onci. Berbeda dengan kami, Onci mampu bergerak dengan lincah dan pasti layaknya kambing gunung.Akhirnya, pukul 08.59 WITA rombongan berhasil mencapai dasar kaldera Gunung Tambora. Senang bukan kepalang, apalagi kami disambut dengan 
aliran sebuah sungai kecil. Walau airnya kecoklatan karena mengandung lumpur dan pasir, bukan halangan untuk segera meneguknya demi menghilangkan rasa haus.Dasar kaldera yang kami kira berpasir ternyata dipenuhi oleh batu-batu besar. Jadi, jangankan berlari, untuk melangkah normal saja sulit. Di sana-sini tumbuh ilalang setinggi hampir 1,5 meter.
Suasana sunyi, tidak lagi terdengar kicau burung atau jeritan kera. Yang terdengar hanya nafas kami yang menderu.

Melintasi padang bebatuan di tengah terik matahari, kami menuju Doro Afi Toi, bahasa Bima yang berarti gunung api kecil, hasil aktivitas vulkanik periode 1847-1913.Gunung baru yang tumbuh di dasar kaldera Tambora itu bertinggi sekitar 15 meter dan terus menerus mengepulkan asap belerang tipis. auh di sebelah kiri terlihat danau Moti Lahalo yang berwarna kehijauan dengan beberapa pohon pinus di tepiannya.Doro Afi Toi menggenapi pencapaian kami. Perasaan berdiri di hadapan gunung api baru yang suatu saat mungkin menorehkan sejarahnya sendiri, bercampur aduk. Takjub, gembira, cemas, letih, bercampur sedemikian rupa. Para pemandu yang kami pikir sudah terbiasa pun, bahkan ikut berfoto-foto tanpa henti.

Usai mengabadikan imaji bersama Doro Afi Toi, kami beranjak menuju ke sebuah sungai kecil di sisi tebing belerang. Kali ini airnya putih jernih walau samar-samar ada rasa asam karena tercampur belerang.Sori Ntuma, sebutannya. "Itu karena sungai ini, maaf, masih perawan. Airnya berasal dari rembesan cemara-cemara di tebing kawah," jelas Oyong.Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah berhari-hari tidak membasuh diri, bergantian kami mandi di sungai tersebut. Tentu saja kecuali Irana, yang terpaksa membasahi dirinya dengan seluruh pakaian tetap melekat.

Seusai mandi, kini saatnya makan mie instan dan memenuhi lagi botol-botol air. Sambil makan, Briyan memamerkan tiga batu alam yang ia bawa kepada para pemandu. Nasar, tanpa banyak komentar, membuka salah satu kantong ranselnya. Ternyata, kantong itu sudah penuh dengan batu-batu berbagai rupa dan ukuran. "Lha pantas Nasar sering 'ngilang' waktu jalan, taunya sibuk cari batu," Onci tergelak sementara Nasar tersipu. Tidak mau kalah, Oyong pun memperlihatkan batu-batu yang ia pungut sepanjang perjalanan. Mereka kemudian saling membandingkan warna batu. Walah, rupa-rupanya demam batu sudah mencapai Gunung Tambora. Menjelang pukul 15.00 WITA, dengan berat hati kami harus meninggalkan dasar kaldera Tambora. Kembali harus melintasi jalur ‘spiderwalk’ yang sempit nan berbahaya, menaiki tebing dan berpacu dengan gelap menuju ke  tenda. (Anwar Surachman/Briyanbodo Hendro/Irana Shalindra)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya