Jelajahi Tambora, Hadapi Sengatan Jelatang dan Serangan Celeng
Briyanbodo Hendro
08/4/2015 00:00
(MI/Atet Pramadia)
SUARA obrolan para pemandu dan porter di luar tenda dan dinginnya suhu udara pagi itu membangunkan kami. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 Wita. Bergegaslah kami keluar tenda. Sambil menyeruput kopi yang dibuat oleh Oyong, si pemandu jalan, kami menjemur pakaian yang lembab sekaligus menghangatkan badan di bawah mentari yang mulai terlihat dari balik pepohonan. Tentunya sambil melirik-lirik waspada andai ada pacet.
Pacet bukanlah satu-satunya momok di jalur pendakian Gunung Tambora via Pancasila. Usai berkelit dari ranjau parasit penghisap darat tersebut sehari sebelumnya, pada akhir Maret lalu, kini kami mesti bersiap menangkis sengatan meladi, alias jelatang atau jelateng.
Oyong sudah mewanti-wanti kami terhadap tumbuhan dengan daun berbulu itu. Pemandu yang kemarin-kemarin sekadar berkaos dengan celana sedengkul dan sandal itu bahkan kini melapis pakaiannya dengan setelan lengan dan celana panjang ala tukang mekanik. "Wah, sampai pakai sepatu segala sekarang. Takut nih sama jelatang," gurau kami.
Di Tambora, jelatang terbagi atas tiga jenis. Jelatang kecil yang merambat di tanah, lalu yang berbentuk semak belukar dan terakhir serupa pohon besar dengan dahan menjulur. Daunnya dipenuhi bulu-bulu halus yang mengandung toksin.
Jika tersentuh, racunnya akan membuat kita merasakan sensasi seolah terkena bara api panas atau arus listrik ringan. Racun yang lebih gawat dikeluarkan oleh pohon jelatang besar karena rasa sakitnya dapat mengendap sebulan lebih. Itu sebabnya para pendaki Tambora dianjurkan memakai baju lengan panjang, celana panjang berikut sepatu dan gaiter penutup mata kaki Namun, walau sudah rapat tertutup pakaian, karena tipis, beberapa dari kami tetap saja terpaksa 'menikmati' sengatan jelatang.
Belum sampai satu jam sejak meninggalkan Pos III, fotografer kami, Atet, sempat mengejutkan tim dengan teriak kesakitannya karena tidak sengaja menggenggam jelatang dengan tangan telanjang. Atet memang tidak mengenakan sarung tangan karena membuatnya lebih mudah memotret.
Ternyata, penderitaan kami menghadapi serangan jelatang belum seberapa. Oyong bercerita, pernah salah seorang pendaki perempuan asal Bandung buang air kecil dan membasuh dengan daun. "Tau-tau dia jerit. Ternyata daun yang dipakai itu daun jelatang. Habis itu disiram air dingin, malah makin menjadi," ujarnya kepada kami yang hanya bisa meringis bersimpati.
Ada kurang lebih 1 jam 45 menit kami berjalan sembari berhati-hati terhadap jelatang sebelum akhirnya tiba di Pos IV. Pos ini berupa area lapang dengan ladang jelatang di salah satu sisinya. Pemandangan pohon-pohon klanggo menghilang, berganti dengan cemara yang tumbuh tidak terlalu rapat.
Pos ini memberi penghiburan untuk orang-orang yang gemar memantau media jejaring sosial. Adanya sinyal seluler membuat para anggota tim, termasuk para porter, sibuk mengecek ponsel masing-masing. "Wah, bisa buka Path di sini," seru Briyan girang. Udara yang semula cenderung panas berubah menjadi sejuk saat kami di Pos IV. Samar-samar kabut membayang.
Tidak ada shelter di pos IV, pun sumber air, walau lokasinya bisa menampung sekitar 4-5 tenda. Tanah yang tampak tergali di sana-sini pun menandakan aktivitas babi hutan yang cukup tinggi di kawasan ini. Setengah jam sebelum tengah hari, kami melanjutkan perjalanan. Trek terus menanjak. Nyaris tidak ada bonus --istilah untuk trek landai atau menurun.
Sekitar pukul 13.15 Wita, setelah melewati rintangan berupa pohon-pohon tumbang, rombongan berhasil mencapai Pos V di ketinggian kurang lebih 1.900 mdpl. Pos tersebut ialah lokasi sumber air terakhir sebelum menuju puncak sehingga banyak pendaki memilih mendirikan tenda di pos tersebut. Di tempat itu telah berdiri sebuah tenda kuning, tepat di bawah sebuah pohon besar. Tenda itu kosong. Penghuninya mungkin tengah 'muncak'.
Kami terkejut melihat kondisi tenda yang rusak. Posisinya miring dan dinding tenda sebelah kanan berlobang cukup besar. Sementara itu, beberapa ransel, makanan, dan sepatu bertebaran di luar tenda. Menurut Oyong, tenda itu amat mungkin rusak diterjang babi hutan. Hewan liar tersebut sering mengincar tenda kosong yang ditinggal pemiliknya di Pos V. Babi-babi hutan itu tertarik dengan makanan yang ada di dalam tenda.
“Biasanya, kita sarankan supaya ada yang menjaga tenda, jangan pergi semua. Atau, semua perlengkapan masuk ke ransel, lalu ranselnya digantung. Mungkin mereka tidak tahu di pos ini sering berkeliaran babi hutan," kata Oyong. Kami kemudian memasukkan barang-barang yang berhamburan tadi ke dalam tenda dan kembali membuat api unggu. Sembari istirahat, acara masak-memasak untuk makan siang berlangsung. Onci mengeluarkan kantong besar berisi stok logistik dan kami agak terkejut melihat ukuran kantong itu susut dengan cepat. Kami menatap isi kantong dengan was-was. "Masih cukup enggak ya untuk 8 orang selama dua hari?", gumam Irana.
Selepas Pos V, jalur terbuka lebar, bebas dari kungkungan pohon-pohon besar. Yang ada ialah padang rumpun ilalang dan deretan pohon cemara. Tanjakan cukup terjal, tapi kami terhibur oleh pemandangan lereng gunung itu. Para pemandu dan porter menghentikan langkah kami di ketinggian kurang lebih 2.180 mdpl. Oyong menunjuk ke rerimbunan pohon cemara yang terletak di seberang kami, di lereng sebelah kanan, sekitar 400 meter dari tempat kami berada.
Menurutnya, di bawah rerimbunan cemara itu terletak makam Ahmad Tambilo, yang termasuk pemandu generasi pertama di Tambora. Pria yang aslinya pencari madu itu wafat karena sakit saat tengah mengantar rombongan pendaki. Ia dikebumikan di Tambora sesuai keinginan yang pernah ia lontarkan kepada rekan-rekannya.
Memasuki ketinggian 2.240 mdpl, tanah licin berubah menjadi jalur pasir dan kerikil. Kami lantas bertemu rombongan pemilik tenda di Pos V yang tengah turun. Mendengar kabar tenda mereka dirusak babi hutan, langkah mereka pun segera dipercepat agar bisa memeriksa kondisi perlengkapan terakhir.
Senja datang kala kami tiba di kawasan cemara terakhir di ketinggian 2.325 mdpl. Dari tempat ini, pemandangan matahari terbenam luar biasa indahnya. Warna jingga keemasan dengan awan bergulung-gulung di bawah garis pandang kami. Di kejauhan, lamat-lamat terlihat Pulau Satonda dan Pulau Moyo, juga pucuk Gunung Rinjani di Lombok.
Angin yang kian kencang dan dingin seiring datangnya malam memaksa kami meneruskan pendakian. Dengan diterangi cahaya headlamp, kami perlahan menaiki tanjakan-tanjakan terjal menuju gigiran kawah Tambora. Kadang terhalang lobang sedalam satu meteran yang harus dilompati.
Setelah menuruni celah tebing sedalam dua meter, rombongan tiba di sebuah tanah lapang bernaung ratusan lintang. Lokasinya cukup strategis karena dijaga oleh rerimbunan pohon edelweis. Angin kencang tidak bisa mencapai tempat ini, meski hawa dingin tetap menggigit.
Sebagian kami bergegas mendirikan tenda, dan sebagian membuat api unggun serta memasak. Istirahat total karena esok adalah hari krusial saat menuruni tebing menuju dasar kaldera Tambora. (Anwar Surachman/Briyanbodo Hendro/Irana Shalindra)