Sejumlah Waduk di Pantura Mengering

(YK/BB/N-3)
27/6/2018 23:30
Sejumlah Waduk di Pantura Mengering
(MI/Ahmad Yakub)

KABUPATEN Gresik, Jawa Timur, sudah dua bulan ini tidak turun hujan. Sejumlah waduk di sepanjang pantura Jawa Timur kini mulai mengering.

Akibatnya panen padi tidak bisa optimal. Petani sengaja membiarkan lahannya telantar dan tidak ditanami. Sejumlah waduk yang mengering di Desa Banyutengah, Pantenan, Delegan, yang seluruhnya berada di Kecamatan Panceng. Kondisi sama juga terjadi pada Waduk Sumengko yang berlokasi di Desa Tebuwung, waduk Desa Mentaras, dan waduk di Desa Ketanen. Waduk-waduk ini juga berada di Kecamatan Panceng.

Mengeringnya debit air pada sebagian besar waduk dan embung di wilayah tersebut, ratus­an hektare tanaman jagung di kawasan itu tidak bisa panen secara optimal. “Ya, panennya menurun pada musim ini,” kata Saefudin, warga Desa Ketanen, Kecamatan Panceng, Rabu (27/6).

Kondisi sama juga terjadi pada Waduk Sumengko yang berlokasi di Desa Tebuwung, Waduk Desa Mentaras, dan Waduk Siraman di Kecamatan Dukun. Dari sejumlah waduk itu, hanya Waduk di Desa Keta­nen, Kecamatan Panceng yang masih memiliki sisa sedikit air.
Senada disampaikan Hadi, petani Desa Mentaras, Kecamatan Dukun. Menurut dia, hujan sudah tidak turun selama dua bulan. “Waduk terbesar di sini, yakni Waduk Sumengko, sudah kering selama sebulan ini. Panen padi menjadi tidak maksimal,” ujarnya.
Krisis air juga terjadi di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dari 18 desa di wilayah itu, sedikitnya ada enam desa diwaspadai rawan krisis air. Pasalnya, enam desa itu berada di dataran tinggi.  

“Kalau sekarang sih cuaca terbilang masih normal karena masih turun hujan. Namun, ada beberapa daerah yang kami waspadai berpotensi kekering­an saat musim kemarau,” kata Sekretaris Kecamatan Cibeber, Solihin, Rabu (27/6).

Enam wilayah yang berada di dataran tinggi itu ialah Desa Girimulya, Desa Salamnunggal, Desa Karangnunggal, Desa Cibaregbeg, Desa Sukamanah, dan Desa Kanoman. Pada 2015,  keenam desa itu pernah dilanda kekeringan.

“Warga juga pernah membuat semacam sumur buatan di sekitar bantaran sungai saking susahnya mendapatkan air. Semua keperluan sehari-hari mengandalkan di bantaran sungai,” ujarnya. Saat ini enam desa itu diarahkan sebagai daerah resapan. (YK/BB/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya