Waspadai Gelombang Laut Tinggi

Liliek Dharmawan
26/6/2018 23:15
Waspadai Gelombang Laut Tinggi
(Ilustrasi--thibnkstock)

CUACA buruk yang terjadi di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa Tengah menelan korban jiwa. Seorang anak tewas terbawa arus gelombang tinggi pada Senin (25/6). Jasadnya baru ditemukan kemarin yang jaraknya 150 meter dari lokasi kejadian.
Korban tewas ialah Reza Bagaskara, 8, warga Kelurahan Sambeg, Kecamat­an Wonosobo, Kabupaten Wonosobo. “Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian terhadap korban dihentikan,” kata Koordinator Basarnas Pos Cilacap Mulwahyono, Selasa (26/6).

Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap mengeluarkan imbauan kepada pengunjung pantai dan nelayan bahwa gelombang laut setinggi 3 meter akan melanda selatan Jawa Tengah selama tiga hari mendatang.
“Kecepatan angin mencapai 14-21 knot dengan ketinggian gelombang maksimal hingga 4 meter. Kondisi tersebut diperkirakan sampai tiga hari ke depan,” imbuhnya.

Masih terkait dengan cuaca buruk, sekitar 295 penumpang kapal tujuan Gili asal Pulau Bawean yang berangkat dari Pelabuhan Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tertunda lagi. Penyebabnya cuaca buruk gelombang laut tinggi melanda kawasan pesisir pantai utara dalam sepekan terakhir.

“Masih ada penumpang arus balik yang tertunda berangkat akibat cuaca buruk,” kata Supervisor Unit Penyelenggara Pelabuhan Paciran Direktorat Perhubungan Laut Herman kepada Media Indonesia, kemarin.
Para pemudik bisa kembali menyeberang melalui pelabuhan lain apabila cuaca kembali normal.

Dari Kalimantan Tengah, BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya mengimbau agar para nelayan yang berada di pesisir Laut Jawa untuk sementara tidak melaut. Sejak 24 Juni hingga kemarin, tinggi gelombang di perairan Laut Jawa mencapai 2 meter.
Prakirawan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, Abdi Rahmat, mengatakan saat ini kondisi gelombang laut Jawa masuk kategori level risiko tinggi. “Kekencangan angin mencapai 38 km per jam, Ini bisa mengakibatkan kapal terbalik,” ujarnya.

Stok pangan aman
Selain cuaca buruk, persoalan kekeringan melanda sejumlah wilayah. Namun, pasokan pangan tetap aman. Seperti di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pasokan pangan di wilayah tersebut masih stabil kendati sudah memasuki musim kemarau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi Ajat Sudrajat mengatakan berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, musim kemarau tidak terlalu berdampak terhadap persediaan pangan.

“Ada dampaknya untuk padi atau beras, tapi tidak terlalu signifikan. Kebutuhan konsumsi masyarakat masih bisa terpenuhi,” terang Ajat.

Sama halnya di Surakarta, Jawa Tengah, Bulog setempat terus giat melakukan penyerapan gabah dan beras petani di tengah musim kemarau. Pada musim kemarau ini, Bulog  wilayah Solo Raya itu masih mampu menyerap 300-400 ton setara beras setiap hari.
Di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebanyak 100 tangki air bersih sudah disiapkan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) setempat. Kepala Dinsos-P3A Kulon Progo Eko Pranyata mengatakan bantuan 100 tangki air bersih merupakan bantuan dana dekonsentrasi dari Kementerian Sosial. (YK/SS/WJ/BB/AU/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya