Ranjau Pacet di Pos II dan III Tambora

Anwar Surachman
07/4/2015 00:00
Ranjau Pacet di Pos II dan III Tambora
(MI/Atet Dwi Pramadia)
Letusan Gunung Tambora pada April 1815 belakangan membawa berkah bagi perekonomian penduduk di kaki gunung. Pendaki dari dalam maupun luar negeri tertarik untuk datang dan melihat sendiri keindahan gunung tersebut dan melongok ke kaldera raksasanya. Untuk itu, tidak jarang mereka menyewa jasa warga setempat sebagai pemandu dan porter atau pembawa barang. Kamis pagi (26/3) itu pun, kami dijemput oleh tiga pemuda. Oyong, Onci dan Erik berasal dari Desa Calabai, sekitar 15 km dari Dusun Pancasila tempat kami menginap.

Bertindak sebagai pemandu, teknisi, sekaligus porter, mereka akan mendampingi kami menjelajah medan sang giri. Perjalanan dimulai dengan menyewa ojek motor bertarif Rp40 ribu selama 30 menit hingga ke Pintu Rimba di ketinggian 535 meter di atas permukaan laut (mdpl). Alternatif lain adalah berjalan kaki, tapi akan memerlukan waktu satu jam lebih. Keluar dari Dusun Pancasila, jalan berubah menjadi jalur tanah sempit dengan lubang cukup dalam di sana-sini.

Para tukang ojek dengan lihai mengarahkan sepeda motornya, meliuk-liuk, sementara kami harus berpegangan erat agar tidak jatuh terpelanting. Sepeda motor yang digunakan cukup unik. Bodi luar motor telah dipreteli satu demi satu dan dimodifikasi. Bahkan, beberapa di antaranya tidak dipasangi lampu depan dan belakang. Mungkin agar menjadi lebih ringan dan bisa lincah menembus trek yang cukup berat.

Jalur tanah semakin menanjak dan pemandangan berganti dengan kebun kopi di kanan-kiri. Kawasan kaki Gunung Tambora memang telah dibuka oleh orang Belanda sebagai perkebunan kopi sejak 1897 dan makin diintensifkan oleh pengusaha Swedia bernama G Bjorklund di 1930. Hingga kini, Tambora terkenal akan produksi kopinya.

''Orang Pancasila kebanyakan memang petani kopi. Saya juga (bertani) kalau lagi enggak narik,'' ujar Junaedi, salah satu pengemudi ojek.

Sekitar pukul 10.00 WITA, kami tiba di Pintu Rimba. Jangan bayangkan ada pintu atau pagar di sana. Pintu Rimba ialah sebutan untuk persimpangan antara dua jalan setapak yang salah satunya akan membawa kami ke Pos I dengan menyusuri hutan.

''Kita berdoa dulu sebelum mulai pendakian,'' ajak Oyong kepada kami.

Jadi Delapan Jalur menuju Pos I yang kami susuri masuk ke dalam wilayah Kabupaten Dompu dan termasuk jalur baru sehingga para pemandu kami yang terbiasa memakai jalur lama dari wilayah Kabupaten Bima sempat keliru mencari jalan. Untunglah itu tidak lama berlangsung dan kami kembali meneruskan perjalanan.

Rute yang kami lalui merupakan sisa-sisa area pembukaan hutan oleh sebuah perusahaan swasta dari awal 1970-an hingga 2002. Di sana-sini marak semak belukar, juga sisa pohon-pohon klanggo (Duabangamoluccana) yang dulu merajai Tambora. Kayunya keras, biasa dipakai untuk bahan membangun rumah tempo dulu. Dua kali kami beristirahat di shelter berukuran 2x2 meter berdinding kayu dan beratap genteng di ketinggian 560 dan 620 mdpl. Cuaca mulai mendung dan sedikit gerimis.

Jalur tanah kian licin membuat irama perjalanan melambat. Di titik 970 mdpl kami menemukan jalur lain dari arah kiri. Menurut Oyong, itu adalah jalur lama dari Bima yang sebetulnya lebih singkat. Kelak kami akan turun kembali ke Pancasila melalui jalur tersebut.

Setelah empat jam perjalanan melelahkan akhirnya kami tiba di Pos I. Di pos yang ditandai oleh shelter panggung kecil intu telah berkumpul beberapa pendaki yang baru turun dari puncak. Mereka ialah rombongan Indonesia Mengajar yang datang untuk menengok anggotanya di kaki Tambora. Di sini pula kami bertemu Nasar, warga Calabai yang mengaku terkena janji palsu. Setelah beberapa jam menunggu temannya yang tidak kunjung datang, ia kemudian memutuskan untuk bergabung bersama kami. Kini, kami genap berdelapan.

Seusai makan siang di Pos I, pendakian dilanjutkan dengan menelusuri hutan. Jalur naik-turun. Terkadang harus meniti atau mengangkangi batang pohon yang tumbang, tergantung panjang kaki masing-masing. Konsentrasi tidak boleh buyar agar tidak terantuk kayu atau terhantam ranting pun akar pohon yang melintang di tengah jalan.

Petang hari, sekitar pukul 16.15 WITA, kami tiba di pos II. Berketinggian sekitar 1.200 mdpl, pos panggung kayu ini berdekatan dengan aliran sungai kecil yang jernih. Namun, kami enggan berlama-lama di sini karena banyak pacet dan nyamuk. Sebagian di antara kami langsung sibuk mengeluarkan obat antinyamuk dan menyemprotkannya ke celana, sepatu, dan lengan baju demi mengusir binatang-binatang pengisap darah tersebut.

Sementara, para pemandu dan porter yang berkaos lengan pendek dan bersandal ria, tampak cuek. ''Tenang saja, di jalan ke Pos III nanti pacetnya lebih banyak kok,'' canda Onci.

Oyong kemudian mengingatkan bahwa trek antara Pos II dan Pos III merupakan yang terpanjang di jalur Pancasila sehingga kami harus bergegas. Maka, pendakian berlanjut dengan dengan menyeberangi bebatuan di sungai kecil tadi lalu mengikuti jalur yang terus menanjak.

Benar saja, gelap sudah datang ketika kami belum separuh jalan. Setiap anggota pun mulai memasang headlamp. Pemandu mewanti-wanti kami ketika mulai mencapai ketinggian 1.480 mdpl. Soalnya, di kanan-kiri jalur mulai banyak tanaman jelatang (Toxicodendron radicans) atau meladi dalam istilah lokalnya.

Perjalanan mengikuti punggungan panjang, terkadang turun cukup curam dan kemudian naik lagi cukup menguras tenaga. Sekitar pukul 21.45 WITA, rombongan akhirnya tiba di pos III, berupa sebuah shelter gubuk kayu dan lahan datar agak lapang di depannya, cukup untuk mendirikan 4-5 tenda. Guide dan porter bergegas ke mata air yang terletak sekitar 250 meter dari pos, sementara kami membangun tenda dan beristirahat. Malam kian larut dan perjalanan masih panjang.

(Anwar Surachman/Briyanbodo Hendro/Irana Shalindra)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya