Drum dan Bambu untuk Alat Keselamatan

(Mohammad Ghazi/N-3)
25/6/2018 23:30
Drum dan Bambu untuk Alat Keselamatan
(MI/M GHOZI)

SEBANYAK 37 penumpang sudah berada di Perahu Motor (PM) Mutiara Samudra di Pantai Pegagan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (23/6) pagi. Mereka menunggu perahu untuk diberangkatkan ke Probolinggo.
Para penumpang yang terdiri atas laki-laki, perempuan, dan anak-anak itu duduk lesehan di dek penumpang tanpa kursi, dan beratapkan terpal. Ada juga penumpang yang tiduran berbantal tas yang mereka bawa.

Sementara itu, di bagian luar, puluhan sapi dinaikkan ke perahu yang sama, di dek bawah. Antara dek bawah dan atas hanya dibatasi dengan papan kayu. Dek atas ditempati penumpang dan barang-barang.

Para penumpang ini merupakan pemudik yang akan kembali ke Kabupaten Probolinggo. Mereka biasa menggunakan jalur laut dari Pelabuhan Rakyat (Pelra) Pegagan ke Pelra Kalibuntu di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Menurut warga sekitar, PM Mutiara Samudra ialah satu-satunya sarana transportasi di jalur tersebut. Berangkat dari Pelabuhan Pegagan setiap Sabtu pagi dengan membawa penumpang dan sedikitnya 25 sapi untuk dijual di sejumlah pasar hewan di Probolinggo. Perahu itu kembali tiba di pelabuhan tersebut setiap Rabu malam dengan membawa penumpang dan barang untuk dijual di Madura.

“Pelabuhan ini sudah digunakan mengangkut barang dan penumpang ke Probolinggo sejak puluhan tahun yang lalu, dengan jadwal pelayaran setiap Sabtu pagi dan tiba kembali di sini setiap Rabu malam,” kata Abdul Hamid, salah satu warga Desa Jarin, Kecamatan Pademawu.

Selain biayanya murah hanya Rp20 ribu per penumpang, waktu tempuhnya pun hanya 4-5 jam dalam kondisi cuaca normal. Jika lewat  jalur darat, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp75 ribu dengan waktu perjalanan hingga 10 jam.
Umumnya para penumpang yang memanfaatkan PM Mutiara Samudra ialah warga dari luar Desa Pegagan, Kecamatan Pademawu.

Nakhoda perahu, Muslim, mengklaim selama ini tidak pernah ada masalah yang sampai menimbulkan korban. Kecelakaan pernah terjadi pada 1998 saat baling-baling perahu lepas hingga perahu terombang-ambing di laut beberapa jam. Kapal dapat ditarik ke pelabuhan oleh kapal lain.

 Mengenai fasilitas untuk keamanan penumpang, perahu itu tak memilikinya. Muslim hanya tahu peralatan perahu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan penumpang dari kecelakaan laut, di antaranya drum bahan bakar dan bambu petung atau bambu besar yang biasa digunakan untuk layar.

“Selama ini tidak pernah terjadi kecelakaan dan semoga tak akan pernah. Jadi kami tidak tahu soal alat keamanan itu,” kata Muslim. (Mohammad Ghazi/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya