Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
NAPAS tersenggal ketika langkah kaki sampai di puncak perbukitan Bukit Asmara Situk (BAS) di Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng). Jalan menuju puncak memang cukup menantang, bahkan ada yang dijuluki 'tanjakan derita' karena kemiringan konturnya.
Meski begitu, pengunjung tidak juga kapok. Bahkan di masa libur Lebaran ini bukan hanya anak muda, melainkan banyak pula keluarga yang membawa serta anak kecil datang ke lokasi tersebut. Di puncak, kelelahan dibayar dengan pemandangan indah dan banyaknya spot foto yang sangat instagramable. Pengunjung pun bisa sekalian menguju adrenalin dengan berfoto di ayunan berbentuk becak hingga di rumah-rumahnya yang berdiri setinggi pohon.
Serupa dengan wisata hit River Tubing Pelangi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, wisata BAS juga dikelola warga. Mereka adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tuk Kumala.
Dibuka pada 2016, BAS sudah meraup pendapatan Rp1 miliar hingga kini. Pada musim lebaran 2018, pengelola menargetkan meraih pendapatan Rp150 juta dengan harga tiket per orang Rp15 ribu.
Meski sekarang sukses, Ketua Pokdarwis Tuk Kumala, Agus Dwi Raharjo, mengungkapkan awalnya banyak warga mencibir usaha mereka. Sebabnya, lokasi tersebut sebelumnya merupakan lahan terlatar. "Bahkan, seandainya lahan dijual oleh pemiliknya saja, kemungkinan tidak ada yang beli. Namun, Pak Kades bersama dengan kami terus berusaha sekuat tenaga untuk membuka perbuklitan itu sebagai obyek wisata," jelas Agus yang biasa dipanggil Jojo, Rabu (20/6).
Kades Kalilunjar, Slamet Raharjo, kemudian memberi modal awal Rp5,2 juta yang digunakan untuk membuka jalur. Untuk mempromosikan tempat itu, Pokdarwis Tuk Kumala menggunakan medsos seperti Instagram dan Facebook.
Upaya itu membuahkan hasil. Pengelola yang terdiri dari 15 orang pun bisa mendapatkan gaji di atas UMK Banjarnegara sebesar Rp1,490 juta.
Hal itu menjadi faktor penarik yang membuat pemuda batal merantau. "Saya memutuskan untuk tidak merantau, sebab di sini juga bisa hidup sebagai pengelola wisata. Sejak lulus SMP, saya bekerja di sini," kata salah seorang pemuda desa bernama Slamet Riyadi.
Slamet Raharjo yang kini masih bertugas sebagai Kades, menambahkan jika BAS kini juga ikut menambah kas desa. "Setiap tahunnya ada pemasukan sekitar Rp50 juta hingga Rp70 juta untuk membantu kegiatan desa," katanya.
Tidak hanya warga yang bekerja di BAS yang memperoleh dampak positif, warga sekitar juga mendapat peluang ekonomi. Warga yang lahannya dipakai oleh BAS mendapat uang sewa dan diprioritaskan untuk membuka warung di sekitar lokasi bagian atas tempat wisata itu.
Keuntungan itu pula yang diakui Katijah. Semula hanya ibu rumah tangga, kini ia mendapat pemasukan tambahan Rp150 ribu per hari dari berdagang di lokasi BAS.
Kisah wisata di perbukitan juga ada di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Objek wisata Bukit Mertelu lahir dari kerja Pokdarwis setempat.
Ketua Pokdarwis Bukit Mertelu Pribowo Leksono menjelaskan bahwa objek wisata yang mulai buka pada waktu Lebaran tahun 2017 rata-rata dikunjungi 300 orang per hari. Dengan hanya membayar Rp5 ribu di hari biasa, pengunjung bisa berfoto di spot unik yang sengaja didirikan. Bukit Mertelu pun bisa membuka lapangan pekerjaan bagi belasan pemuda.
Karnaval desa
Pemuda Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menawarkan wisata dengan daya tarik budaya. Bernama Wisata Kampoeng Primitif, di objek wisata itu pengunjung bisa menjumpai rumah jerami di belantara pohon dan para pemuda yang berdandan dengan bulu-bulu ayam menghias kepala, dan wajah dicat hitam dan kuning.
Kampung wisata yang baru dirintis sejak September tahun lalu dan dibuka pada Desember ini, menjadi tujuan wisata baru di timur Jawa. Sejak kemunculannya, total warga dari berbagai daerah dan negeri tetangga sudah mampir. Biasanya, musim liburan pengunjung mencapai seribu. Bahkan, di awal-awal pembukaan pada Januari silam, mencetak pemasukan hingga kisaran Rp21 juta, dalam sehari.
"Mulanya dari karnaval Agustusan, anak-anak muda kita ini suka berdandan ala primitif, nah sudah empat tahun berturut-turut tiap karnaval mereka seperti itu. Akhirnya ketemu ide untuk bikin wisata Kampoeng Primitif ini," buka Pembina sekaligus pemilik lahan Wisata Kampoeng Primitif, Subandio Winoto, Rabu, (20/06).
Total, ada 150 anak muda menjadi anggota tidak tetap yang terlibat dalam pengelolaan wisata itu. Mereka tergabung dalam wadah organisasi anak muda yang dinamakan Universitas Prapatan (Unprat). Penamaan ini sebagai alter organisasi Karang Taruna yang sudah dianggap biasa.
Untuk membangun objek wisata swadaya ini secara keseluruhan, warga Desa Purwodadi membutuhkan modal hingga Rp300 juta. Mbah Andik, sapaan akrab Subandio, membeberkan permodalan yang mereka dapatkan. "Awalnya kami dapat modal dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Rp50 juta. Itu sih, seperberapanya dari modal kita. Karena ternyata untuk membangun semuanya sampai selesai itu tembus Rp300 juta. Sisanya ya kami swadaya. Ada yang urunan tenaga, barang, dan uang."
Meski belum genap berusia setahun, rupanya Wisata Kampoeng Primitif ini sudah balik modal. Dalam sebulan, menurut pengakuan Mbah Andik pendapatan bisa tembus Rp15-Rp20 juta.
Inovasi
Meski dikelola warga, obek wisata lokal ini tidak lupa berinovasi.
Wisata Kampoeng Primitif telah memiliki tiga titik wisata utama, dua selanjutnya ialah wisata air menggunakan perahu, dan wisata agro memetik buah.
Sementara pengelola River Tubing Pelangi di Kabupaten Malang melebarkan usaha ke kamping, outound, reservasi jip, homestay, dan kerajinan sandal. Pendirian usaha river tubing menggunakan dana dari Universitas Islam Malang (Unisma) sebesar Rp40 juta yang bersumber dari dana Program Hibah Bina Desa 2017 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
Bendahara Karang Taruna Ali Murtadlo mengatakan dalam sebulan bisa menghasilkan Rp3 juta dari usaha tubing. Keberadaan tubing juga menghidupkan perekonomian warga yang memiliki usaha sampingan memproduksi tusuk sate dijual Rp7.500-Rp10 ribu per ikat.
Pendapatan tambahan juga muncul dari penggunaan rumah sebagai homestay bertarif mulai Rp50 ribu per hari.
Bagi Ali Murtadlo, Mohammad Anhar, Muhammad Rizal Husni dan pemuda lainnya, uang dari hasil usaha wisata ditabung untuk menikah. Ada juga untuk persiapan kuliah. (BN/Zuq/M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved