Tim Ad Hoc Selidiki Tragedi Danau Toba

Puji Santoso
24/6/2018 08:30
Tim Ad Hoc Selidiki Tragedi Danau Toba
RITUAL PENCARIAN KORBAN: Masyarakat adat Batak melaksanakan ritual di atas kapal motor di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, kemarin. Ritual dengan diiringi alat musik gondang Batak tersebut meminta kepada Sang Pencipta agar para penumpang KM Sinar Ban(ANTARA/IRSAN MULYADI)

PEMERINTAH membentuk tim ad hoc terdiri atas Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan Basarnas untuk menyelidiki dan memberikan masukan kepada Kementerian Perhubungan terkait tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatra Utara. Tim ad hoc akan bertugas selama dua minggu hingga satu bulan untuk menyelidiki lebih mendalam dan masukan yang diperlukan agar kejadian serupa tak terulang.

Menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya di Jakarta kemarin, tim ad hoc saat ini sudah berada di lokasi kejadian dan terus melakukan investigasi untuk mencari masukan lebih rinci mengenai penyebab musibah tersebut.

Dari hasil masukan sementara, ucap Menhub, banyak hal yang sebenarnya tidak boleh dijalankan, tetapi dilanggar oleh sejumlah pihak sehingga terjadi kecelakaan yang menelan banyak korban jiwa tersebut.

Rekomendasi yang akan disampaikan tim ad hoc, menurut Budi Karya, bisa berupa usulan perlunya perawatan terhadap keberadaan kapal yang selama ini melayani pelayaran di Pulau Sumatra ke Pulau Samosir. "Usulan mengenai teknis kapal juga bisa jadikan masukan dari tim ad hoc kepada kita," ujarnya.

Tim ad hoc nantinya juga akan menginvestigasi standar operasional pelayaran kapal dan pelabuhan keberangkatan serta ketibaan untuk diketahui apakah selama ini sudah sesuai dengan ketentuan berlaku atau tidak. Dengan insiden tenggelamnya KM Sinar Bangun, Kemenhub sudah memutuskan untuk menghentikan pengoperasian seluruh kapal motor yang beroperasi di Danau Toba, Sumatra Utara.

Seperti diberitakan sebelumnya, tragedi tenggelamnya kapal di perairan Danau Toba, Sumatra Utara, terjadi secara beruntun dalam minggu ini. Pascatenggelamnya KM Sinar Bangun yang menelan ratusan jiwa pada Senin (18/6) disusul terdamparnya KM Ramos Risma Marisi pada Jumat (22/6) yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia di perairan Nainggolan, Kabupaten Samosir.

Radius pencarian

Masih banyaknya korban meninggal penupang KM Sinar Bangun yang belum ditemukan mendorong pihak SAR, kemarin, memperluas radius pencarian korban di perairan Danau Toba, Kabupaten Simalungun, yang telah memasuki hari keenam itu.

"Ke radius 30 kilometer dari koordinat titik tenggelam," kata Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan, di Posko Terpadu Bencana di Pelabuhan Tiga Ras, Kabupaten Simalungun. Perluasan jangkauan pencarian dari titik tenggelam dilakukan dengan mengerahkan 18 perahu karet dan kapal ditetapkan dengan memperkirakan jasad korban terbawa arus air danau.

Tim gabungan memperluas area pencarian juga dengan membentuk tim darat yang akan menyusuri pinggiran pantai, melakukan penyelaman, dan menurunkan alat pendeteksi logam sampai kedalaman 500 meter. Alat dengan fungsi sama dengan kemampuan daya jelajah di kedalaman 2.000 meter dan satu unit heli masih dalam perjalanan ke posko. Cuaca mendung disertai gerimis kemarin masih dinilai kondusif untuk proses pencarian korban.

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial Margowiyono kemarin mengatakan besok (hari ini) Menteri Sosial Idrus Marham akan mengunjungi lokasi terjadinya musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun di Tiga Ras. "Pak Menteri akan menyerahkan santunan kepada dua ahli waris korban meninggal masing-masing 15 juta," kata Margo. (Ind/JH/N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya