PEMERINTAH memprioritaskan pembangunan sektor pertanian guna mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Di Kalimantan Selatan, upaya ini dilakukan dengan melibatkan TNI untuk membangun jaringan irigasi seluas 52,6 ribu hektare.
"Pengembangan irigasi sangat penting untuk menunjang peningkatan produksi padi di Kalsel. Apalagi, sebagian besar jaringan irigasi tersier dalam kondisi rusak," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalsel, Faturahman, di Banjarmasin, hari ini.
Pemerintah provinsi dengan dukungan TNI menargetkan pengembangan jaringan irigasi seluas 52,6 ribu hektare. Pengembangan jaringan irigasi dilakukan di 11 kabupaten sentra pertanian, dengan dana berasal dari APBN.
Kalsel juga mendapat jatah pengembangan optimasi lahan seluas 37.940 hektare. Pengembangan sektor pertanian di Kalsel masih terbuka luas. Kalsel tercatat sebagai satu dari 8 provinsi penyangga pangan nasional, dengan surplus produksi beras mencapai 600 ribu ton per tahun.
Faturahman menambahkan di wilayahnya peningkatan produksi dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, pengamanan produksi dan mutu hasil komoditi tanaman pangan, serta pengembangan jaringan irigasi. Dalam tiga tahun ke depan ditargetkan penambahan lahan tanaman padi seluas 84,5 ribu hektare, seiring dengan selesainya pembangunan bendungan, bendung dan folder pertanian. Pembenahan infrastruktur penopang ketahanan pangan ini meliputi bendung Amandit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bendung Pitap di Kabupaten Balangan, bendung Batang Alay di Hulu Sungai Tengah dan bendungan Pipitak Jaya di Kabupaten Tapin.
Program lain adalah perbaikan tata air rawa di Kabupaten Barito Kuala serta pengoptimalan areal persawahan dari program Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu.
Dari berbagai upaya ini, Kalsel berharap dapat meningkatkan produksi hingga 2,4 juta ton gabah kering giling atau setara 1,2 juta ton beras. Saat ini, produksi Kalsel sudah mencapai 2,1 juta ton gabah kering giling.
Di sisi lain, diakui bahwa upaya pembangunan sektor pertanian ini dihadapkan pada masalah terjadinya alih fungsi lahan pangan ke non pangan dan ke sektor lain. Selain itu juga ada perubahan iklim global yang sulit diprediksi dan mengakibatkan kerusakan akibat bencana alam, berupa banjir atau kekeringan. (N-3)