Waduk Gebyar Butuh Pengerukan

Widjajadi
22/6/2018 00:40
Waduk Gebyar Butuh Pengerukan
(MI/widjajadi)

KEBERADAAN waduk seharusnya mampu membantu petani di musim kemarau. Namun, kondisi sejumlah waduk ternyata sudah memprihatinkan.

Di wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, keberadaan Waduk Gebyar tidak mampu berbuat banyak untuk menolong petani. Saat musim kemarau baru berlangsung dua bulan, waduk itu sudah mengering.

"Jika tidak segera dilakukan pengerukan, kapasitas tampung air waduk tua itu akan terus menyusut. Itu akan berimbas pada sulitnya irigasi untuk 1.421 hektare sawah di Kecamatan Gondang dan Sambirejo," ujar Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Sragen, Suratno, kemarin.

Sejak Ramadan, lanjutnya, air Waduk Gebyar berangsur habis dan tinggal menyisakan sedikit di dekat pintu air. Untungnya, para petani sudah menyelesaikan panen masa tanam II.

Kondisi itu membuat petani tidak memungkinkan lagi menanam padi karena tidak akan mendapat pasokan air dari waduk. Mereka juga tidak bisa berharap dari air hujan.

"Untuk menyelamatkan tanaman, petani mengandalkan sumur pantek. Sebagian besar kami sudah mengalirkan untuk menanam palawija dan kacang-kacangan, yang tidak membutuhkan banyak air," lanjut Suratno.

Ke depan, ia meminta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo melakukan pengerukan waduk. "Sudah beberapa tahun terakhir kami mendengar adanya rencana pengerukan. Kami berharap program itu segera dilaksanakan sehingga usia operasi waduk semakin panjang."

 

Distribusi air bersih

Antisipasi kekeringan juga sudah dilakukan banyak daerah. Pemerintah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengalokasikan anggaran sebesar Rp350 juta untuk mendistribusikan air bersih ke sejumlah daerah terpapar kekeringan.

"Sampai sekarang memang belum ada daerah yang minta dipasok air bersih. Namun, kami sudah siap untuk mengirimkan 1.450 tangki air bersih karena pemkab sudah menyiapkan anggaran Rp350 juta," tutur Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kebumen, Muhyidin.

Menurut Muhyidin, BPBD juga telah berkoordinasi dengan dinas terkait lainnya untuk menyiapkan armada tangki air bersih. "Ada sembilan mobil tangki yang siap beroperasi untuk menyuplai air bersih. Selain dari pemkab, ada juga dari PDAM."

Dana sebesar Rp175 juta disiapkan Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk membantu warga mengatasi kekeringan. "Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, anggaran sebesar itu sudah mencukupi," kata Kepala Pelaksana Harian, BPBD Grobogan, Agus Sulaksono.

Sampai kemarin, baru satu desa yang melapor mengalami kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih, yakni Desa Pulokulon. "Sudah kami tindak lanjuti dengan mengirim air bersih," lanjut Agus.

Desa lain yang berpotensi kekeringan berada di Kecamatan Toroh dan Wirosari.

Pada musim kemarau tahun ini, Kepala Dinas Pertanian Bangka Belitung Toni Batubara memastikan ada lebih dari 1.000 hektare areal persawahan di Kabupaten Bangka Selatan yang mengalami kekeringan. Bangka Selatan merupakan daerah terluas di Bangka Belitung. Dari total 22 ribu hektare sawah di provinsi ini, 60%-nya berada di Bangka Selatan.

"Belum baiknya irigasi persawahan di Bangka Belitung menjadi penyebab banyaknya persawahan yang terancam kekeringan. Di Bangka Selatan, ada 1.000 hektare lahan yang tidak mendapat pasokan air dari irigasi," tutur Toni.   (LD/RF/Ant/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya