Siaga Menaklukkan Kekeringan

Ruta Suryana
20/6/2018 23:00
Siaga Menaklukkan Kekeringan
(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

KEKERINGAN bukan lagi ancaman. Di Kabupaten Jembrana, Bali, sawah di sejumlah subak sudah mengalaminya.

“Tidak ada air lagi yang mengalir dari hulu untuk mengaliri sawah di subak Babakan dan Lanyah, di Desa Mendoyo Dauh Tukad,” papar Nyoman Werden, petani.

Di dua subak itu hanya sedikit sawah yang tidak mengalami kekeringan. Pemilik sawah memilih mengoperasikan sumur bor dan pompa air, meski harus mengeluarkan biaya lebih besar.

“Yang tidak punya modal terpaksa membiarkan sawahnya kekeringan. Jika dalam sebulan ke depan tidak ada hujan, tanaman padi dipastikan mati,” lanjut Werden.

Di Jembrana ada dua waduk yang cukup besar, yakni Yeh Mekicir yang mengaliri 100 hektare sawah dan Seboal untuk 120 hektare sawah. Namun, dalam musim kemarau ini debit air keduanya terus menurun.

Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung selama lima bulan, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyumas, Jawa Tengah, bekerja sigap. Peta daerah rawan kekeringan sudah dibuat untuk membuat rencana penanggulangan ke depan.

“Dari 27 kecamatan, ada 13 di antaranya yang rawan kekeringan. Antisipasi sudah disiapkan, yakni kami berkoordinasi dengan perusahaan daerah air minum dan PMI untuk menyalurkan air bersih,” tutur Kepala Seksi Pencegahan dan Ke­siapsiagaan BPBD Banyumas, Catur Hari Susilo.

Antisipasi juga dilakukan PMI Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. “kami sudah mengambil langkah siaga antisipasi kekeringan,” kata Humas PMI Kabupaten Sukabumi, Atep Maulana.

Salah satu langkahnya ialah menyiapkan armada tangki air bersih. Penyaluran air bersih akan segera dilakukan di wilayah langganan kekeringan, seperti di Kecamatan Palabuhanratu dan Bantargadung.

Kebakaran hutan
Kerja keras masih dilakukan Satgas Kebakaran Hutan Riau untuk memadamkan sejumlah titik api di wilayah itu. Wakil Komandan Satgas, Edwar Sanger, menyatakan sejak Januari hingga kemarin, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 1.896,96 hektare.
“Seluruhnya sudah bisa dipadamkan. Kebakaran terakhir terjadi di daerah Dumai dan Rokan Hulu juga sudah bisa diatasi setelah 5 helikopter dikerahkan untuk melakukan pengeboman air,” paparnya.

Kerja pemadaman tidak pernah berhenti sehari pun, termasuk pada hari Lebaran. Satgas Kebakaran Hutan Riau mendapat dukungan sembilan helikopter dari berbagai lembaga, kementerian, dan perusahaan.

“Hujan masih nihil. Di Riau bagian utara dan selatan, kondisi lahan dan hutan dalam kategori mudah dan sangat mudah terbakar sehingga kami harus terus waspada,” lanjut Edwar.

Kebakaran juga masih melanda hutan pinus di wilayah Gunung Lawu bagian utara. Kemarin, relawan, BPBD dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara berhasil memadamkan tiga titik api yang berkobar di Argo Tiling, petak 63.

“Masih ada satu titik api yang berkobar di lokasi itu. Kami masih berusaha mencegah agar api tidak meluas ke jalur pipa air yang tersambung ke permukiman di beberapa desa di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar,” ungkap Kepala BPBD Karanganyar, Bambang Jatmiko.

Kebakaran yang melanda areal seluas 1 hektare itu diduga disebabkan kecerobohan warga yang membuat arang. (LD/BB/RK/WJ/DY/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya