Petani Ponorogo Keluhkan Harga Gabah Anjlok

Sunarwoto
30/3/2015 00:00
Petani Ponorogo Keluhkan Harga Gabah Anjlok
(ANTARA/Septianda Perdana)
PETANI padi di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengeluhkan harga gabah yang anjlok tajam pada musim panen awal tahun 2015 ini. Gabah kering panen (GKP) hanya dihargai Rp 3.300/kg atau jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 3.700/kg. Malah tak jarang diantara pembeli gabah (umumnya tengkulak) hanya membeli Rp 3.000-3.100/kg.

"Dalam musim panen awal tahun 2015 ini, petani padi di Ponorogo benar-benar sial. Bagaimana nggak sial, beberapa bulan lalu harga beras gila-gilaan harganya. Tinggi sekali untuk jenis premium bisa mencapai Rp 9.500/kg, eh pada musim panen ini harga gabah anjlok sekali," keluh Sumitro, petani di Kecamatan Jenangan, Senin (30/3).

Harga tersebut, jelas Sumitro, para petani merugi karena tidak sesuai dengan ongkos produksinya. Disebutkannya, satu petak sawah biaya produksinya total mencapai Rp 1.355.000. Sementara per petak sawah mampu menghasilkan panenan padi sekitar 700 kilogram gabah kering panen. Dengan jumlah panen tersebut jika dikalikan harganya Rp 3.300/kg hanya mencapai Rp 2,3 juta.

"Angka ini masih belum dihitung lagi ongkos panen. Jadi penghasilan panen tahun ini petani sangat merugi sekali," kata Sumitro, tokoh petani di Kecamatan Jenangan ini. Oleh karena itu, sambung Sumitro, petani meminta agar Bulog setempat lakukan pembelian gabah kepada petani. Sebab jika ini dibiarkan harga gabah di pasaran akan terus menurun.

"Para tengkulak yang membeli gabah petani akan terus berdalih macam-macam dengan hasil panenan petani. Untuk saat ini para tengkulak yang membeli gabah milik petani beralasan gabah petani kualitasnya kurang bagus. Selain itu juga kadar airnya tinggi. Sehingga mereka menghargai gabah petani rendah itu," paparnya.

Sementara itu Ibnu Multazam, anggota Komisi IV DPR RI yang asal Ponorogo ini mengharapkan Bulo segera melakukan aksi pembelian gabah di tingkat petani. Hal ini untuk menanggulangi harga gabah yang anjlok sekarang. Aksi ini juga agar nasib petani tidak terpuruk dengan ulah para tengkulak atau pembeli gabah petani yang kini memegang harga pasaran.

"Bulog itu dibentuk pemerintah untuk mengendalikan HPP gabah petani. Oleh karena itu sekarang ditunggu aksinya untuk melindungi nasib petani, akibat harga gabah anjlok di pasaran," pinta anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Menanggapi hal ini, Kepala Bulog Subdivre Ponorogo Antok Hendrianto menyatakan anjloknya harga itu memang karena habah petani berkadar air tinggi. Hal ini karena bertepatan dengan musim panen terjadi hujan terus-menerus. Malah akibat hujan deras itu sejumlah sawah petani yang terdapat padi siap panen terendam banjir.

"Bulog tak bisa asal beli gabah saja. Karena dalam pengadaan beras, kita juga dituntut untuk mendapatkan yang berkualitas bagus. Jika tidak bagus karena kadar air tinggi juga berasnya nanti akan gampang rusak," kata Antok. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya