Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HALAMAN kompleks Masjid Agung Surakarta sudah dipadati masyarakat pada Sabtu (16/6). Satu hari setelah masyarakat muslim menjalankan salat Id, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Garebek Syawal. Pada tahun ini pelaksanaan Garebek Syawal masih menyedot perhatian pengunjung. Arak-arakan dua gunungan dibawa dari keraton menuju masjid masih ditunggu masyarakat. Bahkan, turis-turis asing mengabadikan peristiwa tersebut.
Perayaan tradisi mengarak dua gunungan makanan yang selalu digelar Keraton Surakarta sehari setelah salat Idul Fitri ini merupakan ungkapan syukur dari raja dan keluarga besar keraton.
“Tradisi syawalan dengan dua gunungan makanan ini merupakan ungkapan syukur bagi umat Islam seusai menjalani ibadah puasa selama sebulan,” tutur KGPH Dipokusumo, adik Raja PB XIII saat ditemui di sela-sela perayaan Garebek Syawal.
Menurut dia, pelaksanaan Garebek Syawal kali ini tergolong istimewa sebab melalui tradisi inilah masyarakat umum bisa mengikuti secara langsung prosesi upacara adat tersebut.
“Ini menunjukkan keraton dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” imbuh Pengageng Keraton Surakarta ini.
Dalam proses adat pada Sabtu pagi itu, dua gunungan dikirab mulai Kori Kamandungan Keraton menuju Masjid Agung, untuk didoakan ulama keraton. Seusai didoakan, Gunungan Jaler yang berisi hasil bumi berupa sayur-sayuran dan lauk-pauk, seperti kacang panjang, terung, tebu, telur, cabai merah, wortel, dan jeruk langsung menjadi rebutan warga dan para turis.
Sementara itu, Gunungan Istri yang berisi kerak nasi (intip), rengginang dengan dilengkapi bendera merah putih, kembali diarak menuju Puri Kamandungan untuk diperebutkan para abdi dalem.
Tradisi Garebek Syawal Keraton Surakarta selalu menjadi peristiwa menarik dan ditunggu masyarakat, baik warga Surakarta maupun di luar Surakarta dan turis mancanegara yang sedang menikmati Lebaran di kota pusaka Jawa Tengah ini.
“Saya sejak umur 16 tahun hingga hampir 50 tahun ini selalu menunggu prosesi tradisi dua gunungan makanan dari Raja Kasunanan setiap seusai Lebaran. Kesempatan berebut berkah dari keraton,” papar Kasdi, warga Delanggu, Klaten, yang sudah menunggu sejak pagi di halaman Masjid Agung, untuk berebut gunungan.
Ia bersama keluarganya datang dari Klaten khusus untuk ngalap berkah gunungan Syawal dari Kasunanan setiap tahunnya. (Widjajadi/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved