Petani Pilih Tanam Bawang

(BB/RF/PO/Ant)
17/6/2018 23:00
Petani Pilih Tanam Bawang
(ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

SEBAGIAN petani di wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengganti tanaman padi dengan bawang merah. Kondisi ini dilakukan karena mulai berkurangnya pasokan air dalam beberapa pekan ini.

“Kemarau sudah mulai melanda sejumlah wilayah di Pajampangan. Bagi kami, kondisi ini sangat berdampak besar. Makanya ada yang mulai mengganti tanam­an padi dengan bawang merah­,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Sabilulungan Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Ruswandi, kepada Media Indonesia, Minggu (17/6).

Di beberapa daerah seperti Kecamatan Cibitung, Ciracap dan Surade, tidak sedikit petani merugi akibat tanaman padi mereka gagal panen.

“Kalau untuk luasannya, belum tahu pasti, tetapi ada juga sebagian yang panennya mulus. Kalau yang gagal, mereka menggantinya dengan bawang. Setiap kemarau pasti sangat terasa sekali dampaknya bagi sektor pertanian,” tegasnya.

Ruswandi mengatakan lahan sawah di Kecamatan Ciracap kebanyakan sawah tadah hujan. Makanya, saat musim hujan tiba banyak petani yang mempercepat tanam.

“Dalam kondisi normal, rata-rata produksi padi bisa mencapai 5 ton hingga 6 ton per hektare,” sebut dia.

Dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, Tini Thadeus, menyatakan saat ini pihaknya terus memantau dampak keke­ringan ekstrem yang melanda sejumlah kabupaten. “Sudah ada peringatan dini dari BMKG terkait kekeringan ekstrem di beberapa daerah. Kami sikapi melalui petugas di daerah untuk terus memantau dampaknya dan langkah penanganannya,” kata Tini.

Dia berharap semua setiap pemerintah kabupaten yang terdampak kekeringan ekstrem agar sudah menyiapkan anggaran penanggulangan bencana.

Pada bagain lain, selain keke­ringan ada sejumlah kawasan perairan dilanda gelombang tinggi. Seperti di beberapa perairan Bangka Belitung, gelombang laut mencapai tiga hingga empat meter.

Sama halnya di NTT, gelombang tinggi dan angin kencang sudah terjadi sejak 16 Juni lalu. BMKG memprediksikan gelombang tinggi dan angin kencang akan terjadi sampai 19 Juni. Potensi gelombang laut antara 2,5 hingga tiga meter. (BB/RF/PO/Ant)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya