HARTA karun yang lama tenggelam di dasar laut mulai terangkat. Salah satunya adalah yang tersimpan di perairan sekitar Cirebon, Jawa Barat.
Selama 2015 ini, Balai Konservasi Borobudur (BKB) menerima benda-benda bersejarah terbuat dari logam yang merupakan persenjataan dari bekas kapal VOC yang tenggelam di perairan Laut Jawa untuk dikonservasi. ''Benda- benda logam buatan 1800-1900-an itu sudah terpendam cukup lama dalam satu situs,'' kata Peneliti BKB, Nahar Cahyandaru.
Benda logam yang ditemukan di perairan sekitar Cirebon itu terdiri dari senapan, magazine, peluru sebanyak 11 boks, meriam, 220 koin yang terdiri dari koin Tiongkok, Eropa, dan Arab. Serta peninggalan sejarah berupa pedang, teropong, lonceng, piring logam, paku dan sekrup.
Mesiu sudah dalam kondisi tidak aktif. Hal itu diketahui setelah BKB mendatangkan tim gegana untuk melakukan pengecekan dan memastikan bahwa persenjataan zaman Belanda itu memang tidak lagi aktif.
''Kami, sebagai peneliti tetap harus berhati-hati,'' sambung Nahar.
Dia menambahkan persenjataan zaman Belanda itu dibawa ke BKB pada Januari lalu untuk dikonservasi. Upaya konservasi diperkirakan akan memakan waktu cukup lama, yakni sekitar satu tahun.
Nahar menargetkan akhir 2015, konservasi terhadap benda-benda logam itu selesai dilakukan. Upaya konservasi akan difokuskan pada deaktivasi tingkat korosi pada logam. Kemudian pembersihan dan melakukan pengeleman pada bagian-bagian yang pecah.
Setelah selesai, benda-benda itu akan diserahkan lagi ke direktorat jenderal kebudayaan untuk kemudian dititipkan ke museum.
''Tingkat korosi logam persenjataan itu sangat tinggi, sekitar 30%, alias aktif sekali. Tiap baru dibersihkan sudah langsung muncul lagi korosinya dalam waktu yang cepat,'' ujar Nahar.
Karena itu, untuk mengatasi tingkat korosi yang sangat aktif akan digunakan Natrium karbonat dengan PH antara 10 hingga 11. Dengan demikian diharapkan proses korosinya akan berhenti.
''Benda-benda ini tergolong langka, terutama peluru dan mesiu sangat jarang ditemui di museum-museum. Ini baru ada dan merupakan temuan dari satu situs,'' kata Nahar.
Pada temuan teropong tertera angka pembuatan 1802. Pada lonceng tertera angka 1812. Sedangkan pada temuan koin sekitar 1800, sehingga diperkirakan waktu tenggelamnya situs itu sekitar tahun 1800 an. Situs ini ditemukan pada 2014. ''Konservasi logam dalam jumlah besar baru kali ini dilakukan. Sebelumnya pernah ada tapi dalam skala kecil-kecil,'' ujar dia. (N-3)