Mulai Panen, Petani Menahan Beras

Palce Amalo
11/3/2015 00:00
Mulai Panen, Petani Menahan Beras
(ANTARA/AGUK SUDARMOJO)
PETANI di berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur masih enggan menjual beras atau gabah kering giling ke pasar karena belum cocoK dengan harga yang ditawarkan pedagang.

Petani beralasan harga beras yang ditawarkan pedagang di tingkat penggilingan sebesar Rp7.500 per kilogram dinilai sangat rendah. Sebaliknya rata-rata harga beras kualitas medium di di pasar berkisar Rp10 ribu.

Harga beras di petani Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang pernah naik sampai Rp8.500 per kg, namun turun lagi mengingat banyak petani mulai memasuki musim panen. "Petani akan menahan gabah sampai harga di pasar naik. Tapi bisa saja kami sewaktu-waktu menjual beras karena membutuhkan uang," kata Thomas, petani asal Desa Oesao, tadi pagi.

Ia mengatakan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.600 per kg masih sama seperti harga HPP tahun sebelumnya. Malah lebih rendah dari harga yang berlaku di pasar.  Tawaran harga dari pedagang dan pemerintah yang rendah, menurut Thomas, membuat banyak petani menjual beras langsung ke pasar.

Saat ini, di Desa Papang dan Ulebelang, Satarmes, Kabupaten Manggarai, hasil panen meningkat dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, panen rata-rata berkisar 4,8-5 ton per hektare, pada panen kali ini mencapai 9,6 ton gabah kering.

Peningkatan produktivitas padi tersebut didukung program sekolah lapangan pengembangan pertanian terpadu, yang dicanangkan dinas pertanian setempat. SLPPT adalah sekolah lapangan bagi petani untuk belajar penerapan teknologi usaha tani melalui penggunaan input produksi yang efisien sehingga mampu menghasilkan produktivitas tinggi. Kegiatan ini meliputi pengolahan lahan , pemilihan benih, penanaman serentak, pemupukan berimbang, penanaman jajar legowo, dan penggunan pestisida yang tepat.

Terkait panen, Humas Bulog NTT Marselina Radja mengatakan pada 2015 ini pihaknya berencana menyerap beras petani lokal sebanyak 15 ribu ton. Bulog menerima beras petani dengan harga Rp6.600 per kilogram. "Memang sampai Maret ini, penyerapan kami masih nol. Belum banyak petani panen, tapi kami optimistis bisa menyerap pada Mei-Juni." (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya