Orang Rimba belum Lepas dari Derita

Solmi
09/3/2015 00:00
Orang Rimba belum Lepas dari Derita
(MI/SOLMI)
KEKURANGAN makanan di kalangan Orang Rimba, penghuni Taman Nasional Bukit Duabelas, di Jambi, belum teratasi. Akhir pekan lalu, belasan balita dan anak-anak Orang Rimba yang hidup di taman penyangga timur Taman Nasional, di wilayah Kabupaten Sarolangun jatuh sakit, karena kekurangan makanan.

Tiga diantaranya, harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Hamba Muarabulian, Kabupaten Batanghari. Sedangkan 15 anak rimba lainnya, telantar sakit dalam perjalanan melangun alias berpindah lokasi, setelah ada anggota kelompok Orang Rimba yang meninggal. Ketiga anak rimba dari Kelompok Temenggung Terap dirawat di rumah sakit sejak Sabtu (7/3), ialah kakak beradik Merute, 12, Nipah Bungo, 2,5, dan Cipak, 1.

Menurut Mangku Balas, tengganai atau tetua adat di ketemenggungan Terap, ketiga anak Rimba sudah dua pekan terakhir menderita sakit demam disertai batuk rejan. Ketiganya ialah anak-anak dari mendiang Mimpin, Orang Rimba kelompok Terap pertama yang meninggal, dari 11 kasus kematian beruntun selama tiga bulan terakhir.

''Masih ado lima belas anak yang sakit di delom, kami oli bisa membawa  segelonye berobat (masih ada 15 anak lagi yang sakit di lokasi melangun, tetapi kami tidak bisa membawa semuanya berobat ke rumah sakit)," kata Mangku Balas.

Sebagian anak-anak Orang Rimba yang sakit, kini telantar, hidup dalam kondisi kekurangan bahan makanan dan air bersih di lokasi melangun di hutan Sungaikemang, Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari. Karena jarak tempuh menuju rumah sakit jauh harus ditempuh dalam waktu lima jam berjalan kaki, dan tidak punya dana untuk konsumsi di jalan, sebagian keluarga Orang Rimba terpaksa bertahan pasrah di lokasi melangun.

Ditemani ibunya Indok Marute, ketiga anak Rimba nan malang kini dalam perawatan intensif di bawah pengawasan Feby Andihara, dokter di  di RSUD Hamba Muarabulian. Hasil diagnosa sementara, ketiga anak Rimba beradik-kakak tersebut mengindap penyakit bronkopneumonia. ''Kami berusaha sebaik mungkin untuk merawat mereka sampai sembuh,'' janji Feby.

Selain Marute bersaudara, dua orang balita perempuan Anak Rimba dari anggota keluarga lain, yakni Sebilau, 2, dan Besekap, 4, Senin pekan lalu, juga mendapat pengobatan di rumah sakit sama. Namun karena tidak begitu parah keduanya hanya dirawat jalan, namun tetap berada di sekitar rumah sakit.

Dalam adat dan budaya Orang Rimba setiap ada kematian yang menimpa anggota kelompok, mereka harus berpindah tempat hidup. Biasanya mereka akan mengambil jalan melingkar untuk suatu saat nanti mereka bisa kembali ke tempat semula, yakni di Sungai Terap, bagian timur Taman Nasional Bukit Dua Belas, atau di sekitar areal milik PT Emal, perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri Wana Perintis. Ketika terjadi kematian, Orang Rimba akan melangun dalam kesedihan yang mendalam.

Terdapat tujuh lokasi yang sudah mereka singgahi selama melangun dari timur Taman Nasional, yaitu Desa Olak Besar, Kecamatan Bathin XXIV, Batanghari, Desa Baru, Desa Jernih, Sungai Selentik dan Sungai Telentam di desa Lubuk Jering, ketiganya berada di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, serta Simpang Pitco, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun. Terakhir, rombongan yang merupakan gabungan empat kelompok ketemenggungan Orang Rimba itu, kini berada di Sungai Kemang, Desa Olak Besar, Kecamatan Bathin XIV.

Lantaran tengah bersedih hati dan sulitnya sumber makanan, seperti ubi, buah-buahan, binatang buruan dan obat-obatan hayati di lokasi melangun, membuat daya tahan tubuh Orang Rimba melorot, dan mudah terserang penyakit. Puncak penderitaan terjadi tiga bulan terakhir, setelah enam balita dan dua orang dewasa anggota kelompok Temenggung Terap meninggal dunia di dalam hutan.

Menyikapi kematian beruntun dan sakit masal yang menimpa keluarga Orang Rimba, menurut Kristiawan, Koordinator Unit Kajian Suku Terasing Komunitas Konservasi Indonesia dan Warung Informasi (KKI-Warsi), mengatakan saat ini Orang Rimba sangat memerlukan kehadiran negara. ''Untuk skala nasional mungkin peristiwa ini tergolong kecil. Namun bagi kami, khususnya Orang Rimba, ini kejadian luar biasa. Dibutuhkan peran serta semua pihak untuk membantu Orang Rimba keluar dari masalah ini,'' tegasnya.

Untuk saat ini yang dibutuhkan adalah bantuan langsung berupa beras dan sembako, juga posko kesehatan yang dekat dengan lokasi mereka melangun. Seruan itu sudah bersambut. Jumat, pekan lalu, staf Kementerian Sosial sudah turun ke lokasi. Laode Taufik Nuryadin, Kasubdit Kerja sama Kelembagaan Evaluasi dan Pelaporan Direktorat Permberdayaan Komunitas Adat Terpencil, Kementerian Sosial berjanji segera mencarikan jalan keluar, setelah melaporkan kondisi Orang Rimba ke Menteri Sosial. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya