Dinding Kawah Merapi Berpotensi Runtuh

(AU/AT/N-2)
06/6/2018 23:30
Dinding Kawah Merapi Berpotensi Runtuh
(ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

ANTISIPASI kemungkinan terburuk Gunung Merapi meletus terus dilakukan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memasukkan skenario jika dinding kawah Merapi runtuh, sebagai bagian dari kontingensi bencana.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santosa mengakui dinding kawah Gunung Merapi bisa saja runtuh. "Dengan memasukkannya dalam skenario, kami bisa menyusun langkah kontingensinya."

BPPTKG, lanjutnya, terus memantau kondisi morfologi puncak dan kawah Gunung Merapi menggunakan sejumlah peralatan pemantauan. Di Gunung Merapi, saat ini, sudah dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi, termasuk pemodelan kondisi kawah berdasarkan citra yang diperoleh.

Pemantauan juga dilakukan melalui analisis suhu di kawah. BPPTKG membagi kawah dalam empat area pemantauan suhu.

Agus menambahkan, berdasarkan skenario yang disusun BPPTKG, hal utama yang bisa menyebabkan dinding kawah runtuh ialah desakan kubah lava dari bawah. "Kubah lava bisa jadi akan mendesak dinding kawah dan sekitarnya, dan dapat menyebabkan dinding kawah runtuh. Dinding kawah yang menjadi perhatian kami adalah dinding yang terbentuk dari lava letusan Merapi pada 1997," sambungnya.

Skenario lain ialah jika terjadi pertumbuhan kubah lava hingga erupsi efusif mungkin mengarah ke tiga lokasi, yaitu ke sisi selatan atau masuk Sungai Gendol serta mengarah ke barat dan barat laut.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menambahkan, meskipun dalam beberapa hari terakhir aktivitas Gunung Merapi cukup tenang, masih kerap terjadi embusan. "Aktivitas vulkanis Merapi masih tinggi yang didominasi pelepasan gas. Status waspada masih dipertahankan."

Ia menyebutkan peningkatan aktivitas vulkanis Merapi yang ditandai dengan terjadinya beberapa kali letusan freatik juga ditemui setelah letusan besar pada 1872. "Seperti letusan freatis saat ini setelah letusan besar pada 2010."





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya