Pulau Laut Sentra Buah Lokal dan Hasil Hutan Non-Kayu

Denny Susanto
30/5/2018 12:45
Pulau Laut Sentra Buah Lokal dan Hasil Hutan Non-Kayu
(Ist)

SELAIN potensi pertanian, perikanan, dan pariwisata, kawasan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kotabaru,  seperti Pulau Laut dan Pulau Sebuku, merupakan sentra penghasil buah lokal dan hasil hutan bukan kayu yang utama di Kalimantan Selatan.

Salah satu hasil hutan bukan kayu yang menjadi sumber penghasilan warga di wilayah Kecamatan Pulau Laut Tengah ialah madu kelulut. Madu kelulut dihasilkan dari hasil budi daya kelulut (Trigona Itama). Lebah ini tidak menyengat, memiliki tiga pasang kaki yang beruas-ruas, dan bentuknya lebih kecil jika dibandingkan dengan lebah biasa.

Di kawasan hutan, sarang lebah kelulut berada pada rongga-rongga pohon, dan bentuk sarangnya berbentuk balok-balok, beda dengan lebah biasa yang sarangnya heksagonal. Madu kelulut warnanya lebih jernih ketimbang madu hutan biasa, dan rasanya manis bercampur asam.

Dalam kehidupan dan perkembangannya, lebah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi suhu, kelembapan udara, curah hujan, dan ketinggian tempat. Di samping itu, ketersedian pakan sangat menentukan keberhasilan budi daya lebah trigona.

Jenis tanaman sebagai pakan lebah trigona ialah semua jenis tanaman berbunga, yaitu perkebunan, tanaman hutan, tanaman pertanian, tanaman hortikultura, dan tanaman liar. Dengan ciri di dalam tanaman tersebut mengandung unsur-unsur nektar (madu), tepung sari (pollen), ekstrafloral, dan propolis.

"Karena itu kami sangat tergantung dengan hutan. Sebab, tanaman yang ada di hutan merupakan pakan utama bagi lebah kelulut yang kami budidayakan," kata Syamsul,  ketua salah satu kelompok pembudidaya lebah kelulut di kawasan Pulau Laut-Sebuku, Kotabaru.

Untuk itu, ia meminta agar instansi terkait, seperti pemerintah daerah dan kalangan swasta, serta masyarakat bisa menjaga keberadaan hutan di kawasan Pulau Laut-Sebuku.

Syamsul dan warga lainnya mengkhawatirkan masuknya perusahaan pertambangan di wilayah mereka dapat mengancam kelestarian lingkungan, terutama kawasan hutan yang merupakan sumber pakan madu kelulut dan hasil hutan lainnya.

"Kalau ada tambang, hutan jadi rusak dan akan sulit mendapatkan pakan bagi lebah kelulut," ujar Syamsul.

Selain madu kelulut, hasil hutan bukan kayu lainnya yang menopang ekonomi warga setempat adalah gula aren, kemiri serta buah-buahan. Penyebaran pohon aren di Kotabaru mulai dari bagian timur Pulau Laut hingga bagian barat, dan tersebar hampir di setiap desa, baik di lahan masyarakat maupun di kawasan hutan.

Kawasan Pulau Laut-Sebuku juga memiliki potensi besar dalam perkebunan kemiri. Saat ini, selain sebagai bahan campuran masakan, kemiri dijadikan bahan dasar kosmetik dan obat-obatan. Hampir semua bagian tanaman ini bisa dimanfaatkan, batang sebagai bahan baku furnitur, kulit kayunya bisa sebagai obat, dan cangkang buah kemirinya bisa dijadikan briket arang.

Pegiat lingkungan Pulau Laut, Amrullah, mengatakan, tanaman kemiri cocok di tanam di kawasan pegunungan karena baik dalam menyerap air sehingga bisa menahan erosi.

"Selain itu, nilai ekonomisnya juga tinggi. Ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Intinya sebaiknya wilayah Pulau Laut ini tidak usah ditambang karena potensi ekonomi di luar tambang juga mampu mensejahterakan masyarakat," kata Amrullah. (OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya