Kapal Isap Tambang Rusak Ekosistem Pesisir

RF/AU/BB/N-2
28/5/2018 04:30
Kapal Isap Tambang Rusak Ekosistem Pesisir
(MI/Rendy)

BERBAGAI persoalan dihadapi nelayan di Tanah Air. Di Bangka Belitung, mereka terancam oleh maraknya aktivitas penambangan pasir timah laut yang menggunakan kapal isap produksi.

"Wilayah tangkap ikan sudah banyak berubah menjadi zona wilayah pertambangan. Ini sangat mengancam sumber penghidupan dan masa depan nelayan," kata koordinator Persatuan Nelayan Tradisional dan Pesisir Kabupaten Bangka, Ali, kemarin.

Ia menambahkan, hampir seluruh pesisir laut di Pulau Bangka dan Belitung dikelilingi izin usaha pertambangan. Penambangan dengan menggunakan kapal isap produksi untuk mengambil timah membuat ekosistem dan terumbu karang rusak.

"Kesengsaraan kami bertambah ketika Rancangan Peraturan Daerah tentang Zonasi Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengakomodasi kegiatan pertambangan laut. Masa depan nelayan Bangka Belitung akan suram," tandasnya.

Di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, kelompok pembudi daya ikan air tawar terpaksa melakukan panen dini ikan nila dan gurami karena khawatir kekurangan pasokan air. Para petani ikan di Kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Sentolo, Wates, Girimulyo, dan Pengasih sangat bergantung pada pasokan air dari saluran irigasi Kalibawang.

Penutupan jaringan irigasi dilakukan karena memasuki masa pemeliharaan jaringan. "Dampak penutupan jaringan irigasi akan mengganggu produktivitas. Pembudi daya terpaksa panen prematur," kata Kabid Pembudidayaan Ikan Kulon Progo Leo Handoko.

Nelayan di Pantai Ujunggenteng, Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, juga menderita karena puluhan perahu mereka hancur diterjang gelombang pasang. "Sudah sepekan ini gelombang tinggi mengempas pantai. Ada 33 perahu yang rusak berat dan sedang," ujar Kepala Seksi Kedaruratan, BPBD Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya