Erupsi Freatik Merapi akan Sering Terjadi

(AU/AT/JS/WJ/N-2)
24/5/2018 05:00
Erupsi Freatik Merapi akan Sering Terjadi
(ANTARA FOTO/Bambang)

WARGA yang bermukim di sekitar Gunung Merapi sudah harus meningkatkan kewaspadaan karena Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memperkirakan letusan freatik akan lebih sering terjadi.
“Letusan itu akan menjadi pembuka sumbat kawah Merapi serta penanda akan terjadinya erupsi magmatik,” kata Kepala Seksi Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso, Rabu (23/5).

Ia mengatakan ada kemungkinan letusan freatik kali ini kombinasi dengan letusan magmatik. “Kami masih menunggu analisa abu.”  Jika melihat keadaan yang terjadi, Agus menyatakan erupsi magmatik yang akan terjadi berbeda dengan kejadian pada 2006 maupun 2010.
Kemarin, letusan freatik kembali terjadi sebanyak dua kali, pada pukul 03.31 WIB dan 13.49. Letusan pertama berdurasi 4 menit menghasilkan kolom letusan setinggi 2.000 meter.

Dalam sepekan ini, Merapi sudah mengeluarkan letusan freatik sebanyak lima kali. Sebelumnya, pada 11 Mei lalu, gunung itu juga memuntahkan abu. “Kami terus waspada karena letusan freatik dengan intensif tinggi akan sering terjadi dalam waktu ke depan. Letusan freatik menjadi penanda dan bagus untuk mengetahui aktivitas Gunung Merapi di masa mendatang karena letusan itu membuka sumbatan kawah sehingga magma bisa keluar,” lanjut Agus Budi.

Kemarin, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Bawono X mengimbau masyarakat tetap tenang. “Aktivitas lava masih normal kan. Masyarakat tenang sajalah.”  Namun, Sultan menambahkan bagi warga di lereng Gunung Merapi yang  ingin mengungsi, Pemprov DIY serta Pemkab Sleman telah menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. “Para pelajar di lereng gunung harus tetap masuk sekolah.”

Untuk mengamankan warga, Pemkab Klaten, Jawa Tengah, menggelar rapat koordinasi lintas sektoral. Sekretaris Daerah Jaka Sawaldi yang memimpin rapat menyatakan, pihaknya telah menyiapkan sarana transportasi untuk pengungsi menuju barak pengungsi yang ada di Prambanan, Karangnongko, dan Kebonarum.

“Jika ketiga selter tidak mampu menampung pengungsi, 20 desa paseduluran telah sepakat dan siap menjadi tempat pengungsian. Untuk evakuasi warga di kawasan rawan bencana III Merapi, yaitu warga Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo, transportasi disiapkan termasuk untuk evakuasi hewan ternak,” tandas Jaka.

Di Boyolali, Jawa Tengah, ratusan warga Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, tidak panik lagi. Warga sudah beraktivitas rutin lagi, mengelola tanaman sayur dan kentang.  “Perkembangan di Merapi akan terus kami amati karena jarak desa kami hanya sekitar 3,5 kilometer dari puncak. Warga akan terus mendapat informasi,” kata Kepala Desa Tlogolele, Widodo. (AU/AT/JS/WJ/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya