Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LIMBAH marmer yang biasanya menumpuk jadi sampah atau dibuang begitu saja ternyata bisa diolah menjadi barang baru lebih berguna. Tiga mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berhasil mengubah limbah marmer menjadi beton berkualitas.
Ketiga mahasiswa ITS itu ialah Dimas Sanda Wicaksana, Gifary Maulana, dan Tommy Anggryawan, tergabung dalam Tim Karyabrata menyulap limbah marmer menjadi bahan beton berkualitas. Ketua Tim Karyabrata, Dimas Sanda Wicaksana, mengatakan selama ini limbah marmer berupa potongan serbuk halus batu marmer hasil pengolahan industri marmer, biasanya cuma ditumpuk di pinggiran sungai dan sering kali menghambat laju arus sungai.
“Jika tidak ada penanganan, limbah marmer bisa menyebabkan bencana banjir di sekitarnya,” kata Dimas Sanda di Surabaya, Selasa (22/5). Hasil penelitian menunjukkan komposisi utama serbuk marmer ialah silikon dioksida dan kalsium karbonat. Serbuk marmer lebih tepat digunakan sebagai bahan pengisi atau filler daripada sebagai pengganti semen.
Potongan serbuk limbah marmer tersebut diolah tiga mahasiswa itu menjadi bahan tambahan pada pembuatan beton berukuran 15 cm x 30 cm berbentuk silinder dan bermutu 20 megapascal. Dengan limbah marmer ini, lanjut Dimas, ternyata pembuatan beton jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan proses normalnya yang membutuhkan waktu 28 hari. “Dalam proses pembuatannya, kami hanya membutuhkan waktu tiga hari. Kalau normalnya waktu pembuatan bisa 28 hari,” kata Dimas.
Selain limbah marmer, untuk meningkatkan workability dan mempertahankan keenceran beton, juga ditambahkan katalis berjenis sikacim. Sebuah zat yang mempercepat proses pengerasan beton. “Harganya ekonomis dan memiliki mutu yang tinggi. Saya rasa ini cocok digunakan untuk membuat beton versi mahasiswa ini karena proses pembuatannya lebih singkat,” ujarnya.
Ketiga mahasiswa ini sempat menemui beberapa kesulitan waktu mengerjakan beton. Namun, ketiganya tidak putus asa dan terus melakukan berbagai pengujian berulang kali. Di antaranya pengujian slump-flow, menentukan flowability atau kemampuan alir, dan keseimbangan beton. Ini untuk mengetahui aliran beton yang memenuhi celah-celah sempit akibat struktur yang terlalu dekat.
“Saat di lapangan kami kesulitan mengerjakan proses pencampuran pasir yang tergolong berlumpur. Pasir yang berlumpur akan menghambat penyerapan yang berakibat pada nilai kekuatan beton yang diharapkan,” pungkas mahasiswa ITS angkatan 2015 ini.
Namun, dengan uji coba yang terus -menerus, ketiga mahasiswa ini berhasil menemukan formula yang tepat untuk bahan pembuatan beton dengan biaya murah dan efisien.
Inovasi yang dilakukan Tim Karyabrata ini berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi beton nasional di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah, belum lama ini. (Abdus Syukur/N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved