Pemkab Siap Layani Pengungsi Merapi

(AU/AT/JS/WJ/N-2)
23/5/2018 05:05
Pemkab Siap Layani Pengungsi Merapi
(ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

SETELAH tiga kali meletupkan erupsi freatik, Gunung Merapi dinaikkan statusnya dari aktif normal menjadi waspada pada Senin (21/5) malam. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menemukan letus-an freatik itu juga diikuti kejadian gempa vulkanis tektonik dan gempa tremor.

“Dengan penaikan status itu, kami menerbitkan enam rekomendasi untuk para pemangku kepentingan. Salah satunya, radius 3 kilometer dari puncak gunung harus dikosongkan dari aktivitas penduduk,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, kemarin.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Biwara Yuswantana, memastikan warga di wilayahnya tidak perlu mengungsi.

“Dengan status waspada, warga tidak perlu mengungsi karena tempat tinggal terdekat berada 5 kilometer dari puncak Merapi.” Namun, ia memastikan pemerintah provinsi siap untuk menggulirkan bantuan logistik jika diperlukan. Salah satunya, untuk bantuan masker, PMI dan Pemkab Sleman sudah menyiapkan tidak kurang dari 600 ribu masker.

“Jika dibutuhkan, kami sudah menyiapkan 19 titik pengungsian yang sudah sesuai standar,” tandas Biwara. Bupati Klaten, Jawa Tengah, Sri Mulyani meminta warganya yang tinggal di sekitar Merapi meningkatkan kewaspadaan. “Meski status Merapi waspada, saya minta warga tetap tenang, tidak panik. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan.”

Di Klaten, daerah terdekat dengan Merapi ialah Kecamatan Kemalang, yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana III. Ada tiga desa tedekat, yakni Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo, dengan total penduduk 11 ribu orang. “Pemkab Klaten telah siap menampung warga yang harus mengungsi. Kami sudah menyiapkan barak pengungsian di Desa Kebon Dalem Lor, Kecamatan Prambanan; Desa Demak Ijo, Kecamatan ­Karangnongko; dan Desa Menden, Kecamatan Kebon-arum,” jelas bupati.

Selain itu, Pemkab Klaten menyediakan dana siap pakai sebesar Rp500 juta untuk penanganan bencana tahun ini. Jika tidak mencu-kupi, anggaran biaya tak terduga Rp2,3 miliar juga bisa digunakan. Sementara itu di Kabupaten Boyolali, ratusan warga Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, yang hanya berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi, memilih mengungsi sejak Senin (21/5) malam.

“Ada 362 warga Stabelan yang masih bertahan di pengungsian balai desa yang ditetapkan sebagai tempat pengungsian sementara,” kata Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinung.  BPBD, tambahnya, telah mengirim makanan, obat-obatan, selimut, dan 4.500 masker ke Balai Desa Tlogolele. (AU/AT/JS/WJ/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya