Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PASANGAN calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Dedie Rachim mendaki Gunung Gede, Bogor Jawa Barat.
Sebelum pendakian pada Selasa (9/5), Bima dan Dedie melakukan pemanasan. Lalu, mereka menaiki gunung setinggi 1.000 - 3.000 m. dpl itu dari jalur Gunung Putri, Cipanas, Kabupaten Cianjur.
Pasangan yang diusung Partai NasDem, PAN, Demokrat, Golkar, Hanura, Perindo, dan PBB dalam pemilihan wali kota-wakil wali kota Bogor itu bersama Tim Badra mendaki dengan ditemani oleh ranger yang merupakan warga setempat.
Trek bebatuan, hingga tanah yang licin pun dilalui oleh tim. Tak terkecuali jalur dengan kemiringan sekitar 60-70 derajat. Pos demi pos pun dilalui, mulai dari Legok Leunca, Buntut Lutung, Lawang Seketeng, Simpang Maleber hingga pada akhirnya tiba di tempat favorit pendaki, Alun-Alun Suryakancana.
Walau jalurnya lebih berat, tapi perjalanan lewat Gunung Putri akan dibayar tuntas begitu masuk ke gerbang menuju Alun-Alun Suryakancana. Bayangkan, di ketinggian 2.759 mdpl, terdapat lahan seluas 50 hektare yang dihiasi dengan hamparan bunga edelweiss atau yang disebut pula bunga keabadian.
Bagi para pendaki profesional, Jalur Gunung Putri memang dikenal lebih terjal dibandingkan dengan jalur Cibodas. Walau berat, jalur ini disebut sebagai jalur paling dekat menuju Alun-Alun Suryakancana.
Ada ratusan bahkan ribuan spesies flora dan fauna yang hidup di sana. Tak heran jika, CGC Reinwardt yang merupakan pendiri Kebun Raya Bogor, tertarik untuk mendaki ke Puncak Gunung Gede pada April 1819. Warga berkebangsaan Jerman itu pun tercatat sebagai yang pertama kali mendaki gunung tersebut.
Bima-Dedie hanya membutuhkan waktu 3,5 jam dari pos pemeriksaan hingga Suryakancana. Hal itu membuat sang ranger kagum dan mengapresiasi. "Ini bisa dibilang cepat sekali. Untuk pemula biasanya butuh 6-7 jam untuk mencapai Alun-Alun Suryakencana. Bapak cuma 3,5 jam. Luar biasa," ungkap ranger Aceng.
Setiba di Alun-Alun Suryakencana, Bima tidak bisa menutupi kekagumannya. "Saya takjub. Selama ini hanya mendengar Alun-Alun Suryakancana. Seperti berada di dunia lain, dunia yang berbeda. Indahnya luar biasa. Tidak bisa terucap oleh kata. Di sana saya belajar sekali, bagaimana para pendaki gunung itu begitu terampil bekerja sama, saling menolong, saling mendorong, berbagi. Teamwork luar biasa. Mereka ramah, menegur satu sama lain, saling menyemangati. Ketika kami naik, disemangai oleh yang turun. Begitupun sebaliknya," ungkap Bima.
Seusai beristirahat sejenak, pendakian dilanjutkan ke Puncak Gunung Gede. Bima-Dedie membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk mencapai puncak dari Alun-Alun Suryakancana. Sampai di atas ketinggian 2.958 mdpl, keduanya tampak takjub dengan panorama alam dan bau kawah yang menusuk hidung.
"Naik Gunung Gede kamarin itu ada tiga maknanya. Pertama, hasil tidak pernah mengingkari proses. Semua ada perjuangannya. Jadi, tidak ada jalan pintas menuju puncak. Tidak ada jalan singkat menuju ke atas. Ini pesan untuk anak muda dan semuanya, tidak ada yang dadakan," kata Bima.
Kedua, lanjut dia, mendaki itu seperti mencintai. Bukan puncak gunung yang ditaklukan, tapi ego diri sendiri.
"Mendaki gunung itu belajar berdamai dengan hati. Mengelola hati dan ego supaya bisa jalan seiring. Mencintai juga begitu. Bukan menaklukan yang dicintai tapi berusaha memahami yang dicintai. Berdamai dengan hati kita supaya bisa berdamai dengan orang lain. Bogor pun begitu. Mencintai Kota Bogor berarti memahami diri kita. Apa yang kita bisa berikan untuk Kota Bogor," bebernya.
Yang ketiga, bagi Bima mendaki itu sebagai simbol seorang pemimpin itu harus memiliki fisik yang prima. "Karena persoalan itu lebih banyak di lapangan. Jadi, kita harus lebih banyak di lapangan dari pada di balik meja. Lahir batin harus prima. Bukan hanya walikota, tapi kepala dinas, camat, lurah fisiknya harus prima. Tidak mungkin menaklukan puncak gunung kalau fisiknya tidak prima,"ujar pria kelahiran Bogor, 17 Desember 1972 itu. (A-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved