The Overtunes Tiga Syarat Guru yang Baik

Retno Hemawati
02/5/2018 23:45
The Overtunes Tiga Syarat Guru yang Baik
(ANTARA FOTO/Dewi Fajrian)

GRUP band The Overtunes yang digawangi Mada Emmanuelle Brahmantyo, 23, Reuben Nathaniel Brahmantyo, 21, dan Mikha Angelo Brahmantyo, 20, sedang sibuk promosi single untuk album kedua, Time will Tell. Tiga bersaudara itu bertandang ke Media Indonesia, kemarin, untuk berbincang tentang single yang bakal ada di album kedua mereka dan tentang pendidikan di Indonesia. Hal itu berkaitan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei.

Bagi mereka, pendidikan bagi anak-anak tidak bisa hanya diserahkan kepada pendidik di sekolah. "Orangtua sudah seharusnya memberikan porsi untuk mendidik anak-anak, memberikan waktu untuk anak-anak mereka, dan mendampingi belajar," kata Reuben yang menyukai sejarah itu.

Hal itu dibenarkan Mada. Dia menambahkan, pekerjaan rumah seharusnya tidak jadi beban. "Pekerjaan rumah atau PR itu seharusnya jadi sarana bagi orangtua dan anak agar semakin dekat, tapi tidak menyita waktu bermain anak-anak juga," kata Mada.

Masih terkait dengan pendidikan, Mikha yang merupakan finalis X Factor Indonesia musim pertama bercerita tentang guru favorit. Sepanjang perjalanannya menimba ilmu, dia sangat terkesan dengan guru yang mampu melakukan pendekatan personal. "Di SMP saya banyak guru yang mampu melakukan pendekatan personal. Mereka benar-benar peduli dengan kebutuhan masing-masing siswa. Bahkan, ada yang telepon pukul 05.00 untuk membangunkan saya. Dengan kedekatan itu, saya justru semakin respek, bersemangat, dan semakin tenang belajar," katanya.

Mereka bertiga bersekolah di tempat yang sama dan memiliki kesimpulan bahwa guru yang baik di mata mereka memiliki tiga hal. "Mereka harus cinta pada Tuhan, cinta pelajaran yang diajarkan, dan cinta muridnya," kata mereka.

Patah hati
Seusai menggarap original soundtrack untuk film-film Tanah Air, mereka kembali fokus menggarap single yang bakal jadi bekal untuk album kedua setelah album Selamanya (2015). Mikha berbagi cerita, single Time will Tell itu merupakan hasil curhat Reuben yang saat itu tengah patah hati. "Ini tentang patah hati, tetapi juga pengin kembali juga. Memang terasa ada sentuhan personal karena itu kan berangkat dari curhatan Reuben, semacam kisah nyata," katanya tergelak.

Selain lagu bertema cinta, grup yang semakin dikenal dengan single Sayap Pelindungmu itu tertarik membuat lagu-lagu bertema lingkungan hidup. "Awal-awal lagu kami, semuanya tentang lingkungan. Tentang pemanasan global. Pernah kita bikin lagu Smile, dan juga Pitchforks and Torches tentang emosi dalam diri sendiri, hampir semuanya tentang begitu, bukan tentang cinta dua orang insan," kata Reuben.

Meski demikian, Mada mengakui lagu bertema cinta sangat mudah dibuat. "Tetapi tentang kejadian di sekitar kita juga pernah juga saya buat, misalnya, bikin lagu metafora terinspirasi bentrokan Go-Jek dan Blue Bird di Jalan Jenderal Sudirman beberapa waktu lalu," kata Mada.

Mereka juga masih tertantang untuk membuat original soundtrack jika diminta. Reuben berharap akan membuat soundtrack untuk film dokumenter, sementara Mikha ingin membuat soundtrack untuk film horor.

(H-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya