Danau Buatan untuk Irigasi

Widjajadi
30/4/2018 06:30
Danau Buatan untuk Irigasi
(MI/Widjayadi)

KABUPATEN Wonogiri, Jawa Tengah, merupakan salah satu daerah yang menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau.

Bagaimana Kabupaten Wonogiri menangani masalah kekeringan dan irigasi pertanian? Berikut petikan wawancara wartawan Media Indonesia Widjajadi dengan Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, di ruang kerjanya, Sabtu (21/4).

Apa yang akan dilakukan pemkab untuk mengantisipasi bencana krisis air bersih dan ketahanan pangan ini?

Kita selalu mengevaluasi program yang sudah berjalan. Khusus pengelolaan sektor pertanian di dalam mengantisipasi kekeringan yang bisa mengganggu ketahanan pangan, pemkab melakukan penguatan dengan pembangunan embung untuk irigasi.

Di wilayah utara dan timur, secara geologis tidak terganggu oleh bukit kapur. Maka saya perbanyak sumur pantek dan bantuan mesin penyedot air. Perlu saya paparkan, sejak dilantik sebagai Bupati Wonogiri pada Februari 2016, belasan embung untuk kepentingan pertanian dan air baku terus dibangun. Pada 2016, pemkab berhasil merealisasi enam embung, kemudian pada 2017 membangun delapan embung.

Tahun ini sudah dialokasikan anggaran Rp12 miliar untuk mewujudkan 12 embung. Untuk kepentingan sumur pantek di wilayah utara dan timur, pemkab tahun ini menganggarkan Rp2,5 miliar dan mengupayakan bantuan mesin penyedot air.

Selain itu, pemkab telah berhasil menggandeng pihak korporasi agar menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR) guna mewujudkan sebuah waduk tadah hujan di wilayah tandus. Setidaknya tiga hari silam, Coca-Cola mampu mewujudkan embung baru di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, untuk kepentingan pertanian dan perkebunan di samping menjadi objek wisata baru.

Apakah cukup hanya dengan embung-embung kecil itu?

Yang jelas sebagai anak petani saya sangat tahu kebutuhan teman-teman saya di dalam mengelola tanaman pangan. Entah itu padi, palawija, atau sektor agrowisata.

Boleh saja Wonogiri selama ini dikenal sebagai kabupaten gaplek, tetapi saya tidak ingin rakyat atau petani yang tersebar di 25 kecamatan hanya menggantungkan gaplek. Wonogiri juga ingin menjadi wilayah penyumbang kebutuhan pokok, yakni padi atau beras sebagaimana program Nawacita pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla.

Konkretnya, produksi padi di Wonogiri dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat awal saya memerintah, produksi padi bisa mencapai 424.991 ton, lalu pada 2017 produksi padi naik lagi menjadi 439.996 ton atau mengalami kenaikan 3,53%. Pemkab Wonogiri masih optimistis dengan kerja keras petani produksi pangan padi ini akan bisa naik lagi mengingat banyak sawah kini menerapkan sistem padi jajar legawa yang mampu mendukung kenaikan panen per hektare.

(N-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya