Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KABUPATEN Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan kabupaten yang memiliki daerah rawan kekeringan terbanyak. Dari 18 kecamatan yang ada di Gunung Kidul, 11 di antaranya masuk kawasan rawan kekeringan, yakni Kecamatan Rongkop, Girisuba, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, Paliyan, Patuk, Gedangsari, sebagian di Kecamatan Wonosari, dan Kecamatan Semanu.
Bagaimana upaya Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mengatasi kekeringan? Berikut wawancara wartawan Media Indonesia Furqon Ulya Himawan dengan Bupati Gunung Kidul, Badingah, akhir pekan lalu.
Apa persiapan Pemkab Gunung Kidul dalam menghadapi musim kemarau?
Alhamdulillah dua tahun terakhir ini di Kabupaten Gunung Kidul tidak terjadi kekeringan yang berarti. Namun, kami tetap melakukan langkah antisipasi bersama masyarakat. Antisipasi kami mulai jangka panjang, menengah, dan langkah darurat kekeringan.
Jangka panjang, bisa dijelaskan?
Langkah ini merupakan kerja sama dengan Universitas Karlsruhe Jerman. Kami bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan sistem perpipaan Brinin dan Seropan untuk mengelola air sungai bawah tanah yang kedalamannya lebih dari 100 meter. Dengan sistem ini, kami dapat mencukupi kebutuhan air di lima kecamatan, yaitu Semanu, Tepus, Ponjong, Rongkop, dan Girisubo. Selain dengan Jerman, kami bekerja sama dengan Japan International Corporation Agency (JICA) untuk mengelola sungai bawah tanah Baron yang kami sebut Interkoneksi Baron-Ngobaran. Kerja sama ini bisa mencukupi kebutuhan air di lima kecamatan, di antaranya Tanjungsari, Saptosari, Panggang, dan Paliyan. Satu lagi, kami melakukan langkah reboisasi dengan menanam pohon-pohon di sejumlah tempat. Sekarang sudah mulai menghijau tidak seperti dulu lagi. Itu jangka panjangnya. Tadi juga disebut ada langkah jangka menengah.
Apa itu?
Pemerintah memanfaatkan sumber air yang ada di desa-desa karena banyak desa yang memiliki titik-titik sumber mata air. Pengelolaan di bawah Bumdes, mereka menaikkan air dari sumbernya dengan sistem penyediaan air minum (SPAM) agar bisa dimanfaatkan masyarakat. Yang jelas bisa mencukupi kebutuhan air di dusun dan di dukuh.
Kami juga merehab telaga di Gunung Kidul yang kebanyakan pada musim kemarau mengalami kekeringan. Namun, setelah kami rehab, sekarang sudah bisa menyimpan air. Langkah lain ialah memanen air hujan dengan memanfaatkan embung yang ada. Seperti embung di Nglanggeran, Kecamatan Patuk, dan Sriten di Kecamatan Nglipar. Embung-embung ini juga bisa digunakan untuk mengairi pertanian saat musim kemarau tiba.
Langkah kedaruratannya seperti apa?
Nah, dalam situasi darurat, kami siap melakukan droping air untuk kebutuhan air bersih ke daerah-daerah rawan air, seperti Kecamatan Panggang, Purwosari, Patuk, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Gedangsari, Semanu, Paliyan, dan Saptosari. Kami juga membentuk satgas yang langsung di bawah kendali BPBD dibantu Tagana. (N-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved