Paskakebakaran, Sumur Minyak Ilegal di Aceh Timur Disembunyikan

Amiruddin Abdullah Reubee
28/4/2018 21:31
Paskakebakaran, Sumur Minyak Ilegal di Aceh Timur Disembunyikan
(MI/Amiruddin)

SEKITAR seratusan sumur minyak illegal di kawasan Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, menghilang seketika. Pasalnya para pemilik sumur minyak mirip sumur bor air bersih itu menutupi permukaan lubang dengan papan, seng dan benda lainnya. Bahkan tidak sedikit menggunakan daun kelapa supaya mulut sumur itu kabur dari pandanga sekilas mata.

Pemilik menyembunyikan sumur itu sejak sehari setelah peristiwa kebakaran lubang pengeboran minyak di Desa Pasir Putih Kecamatan Rantau Peureulak, sehingga menewaskan 21 orang dan mengalami luka parah 39 lainnya. Hal itu diduga untuk mengelabui pihak aparat penegak hukum atau pihak terkait lainnya, seolah-olah di tempat tinggal mereka tidak ada sumut minyak illegal.

Apalagi sekarang polisi mulai melakulan pengusutan terkait kebakaran sumur minyak pada Rabu (26/4) dini hari itu. Bahkan dikabarkan ada saksi yang telah dimintai keterangan.

Padahal sebelumnya hampir setiap pekarangan rumah atau kebun sekitar pemukiman penduduk setempat diwarnai sumur minyak rawan kebakaran itu. Bahkan tidak sedikit warga setempat melakukan pengeboran di bagian dapur dalam rumahnya.

"Sebelumnya di bagian depan dekat sekitar 80 meter dari komplek kantor muspika saja ada sumur minyak illegal. Kini sudah ditutupi dengan daun kelapa, tapi bekas tiang peralatan pengeboran masih ada" Kata Muhammad, tokoh masyarakat Peureulak, kepada Media Indonesia, hari ini.

Hasil penelusuran Media Indonesia, aktivitas pengeboran secara manual membangun tambang minyak bumi tradisional di Desa Pasir Putih, Kecamatan Rantau Peureulak dan sekitarnya berlangsung cukup parah. Misalnya, warga menggali sumur dan menyuling minyak mentah di ruang terbuka, seperti tidak ada larangan dari pemerintah.

Kekompakan untuk melakukan aktivitas rawan kecelakaan kebakaran, cukup terasa diantara pekerja dan pemilik sumur minyak. Bahkan kalau orang lain yang ingin mengetahui aksi mereka, tidak luput dari kecurigaan atau kewaspadaan tinggi.

"Jangan-jangan nanti ada orang yang hendak mempublikasi perkerjaan mereka. Apakah tamu itu dari lembaga tertentu atau wartawan sekalipun dicurigai. Jadi kita sebelumnya harus hati-hati sekali utuk melakukan investigasi ke kawasan tersebut" kata seorang pekerja pers di Aceh Timur.

Pakar Pertambangan dari Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) Banda Aceh, Teuku Andika, mengatakan penutupan sumur minyak tradisional oleh warga di kawasan Rantau Peureulak dan sekitarnya tidak boleh semena-mena. Jangan menutup lubang pengeboran itu asal jadi yaitu hanya menimbun permukaan bagian atas saja.

Sedangkan kedalaman lubang dibiarkan terbuka tidak ada batu yang kokoh. Apalagi menutup dengan menggunakan daun kelapa, seng bekas, papan atau hanya menggunakan benda lain yang tidak kokoh.

"Paling kurang menggunakan semen beton ke dalam bekas pengeboran dengan rapi, padat dan tidak tersisa lubang sedikitpun. Yang lebih sempurna ditutup oleh PT Pertamina atau diban perusahaan pengeboran provedional lain," jelas Dosen yang juga mengajar di Universitas Sains Malaysia tersebut.

Dikatakannya, sisa lubang sumur peninggalan itu sangat berbahaya bila dibiarkan tidak tertutup rapi. Karena bisa menyulut kebakaran bila ada percikan api di sekitar mulut sumur.

Biarpun sekarang ada lubang sumur seperti tidak aktif, tapi bisa saja nanti menimbulkan semburan karena ada tekanan dari bawah perut bumi. "Sudah ditutup dengan rapi saja, harus diawasi dan tidak boleh dekat percikan api, apa lagi hanya sekedar untuk menyembunyikan seolah olah dilihat sekilas tidak ada bekad lubang," tambah Teuku Andika. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya