Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA akhir Maret 2018, Debby Agustin, 31, bertanya kepada salah satu staf pemasaran perumahan berkonsep muslim di Kabupaten Bantul melalui iklan Facebook. Debby terpincut lantaran iklan perumah-an itu menawarkan harga relatif murah dan tanpa bunga bank. Beberapa hari kemudian, Debby mendapat balasan lewat inbox. “Saya tidak boleh membeli perumahan itu karena bukan muslim,” katanya, Rabu (11/4).
Debby bukanlan satu-satunya peminat perumahan yang ditolak karena faktor agama. Pada Oktober tahun lalu, Anto, 45, bukan nama sebenarnya, juga menanyakan tentang perumahan itu. Lagi-lagi, balasan serupa dia dapatkan.
Sebagai warga asli Yogyakarta, Anto mengaku terusik melihat label eksklusif di perumahan yang ditawarkan itu. Dia pun membenarkan, pertumbuhan perumahan eksklusif di DIY belakangan ini sangat marak. Hampir di setiap kabupaten bisa ditemukan. Sebut saja Damai Islamic Living, Perumahan Muslim Darussalam, Amani Village, dan Green Tasneem.
Di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, ada satu perumahan yang berlabel Islam. Namanya Green Tasneem. Perumahan itu dibangun pengembang PT Falah Radians, yang beralamatkan di Sleman. Perumahan itu berkonsep terpadu. Penghuninya harus muslim, bentuk bangunannya bercirikan arsitektur Islam, ada lembaga pendidikan Islam tingkat kanak-kanak atau TPA, juga ada rumah khusus untuk ustaz yang mengurus musala perumahan.
Ada syarat khusus bagi pembeli rumah di Green Tasneem. Sesuai KTP, calon pembeli harus muslim dan berjanji tidak akan menjual atau menyewakan rumahnya kepada pihak nonmuslim.
Bambang Trianto, Direktur PT Falah Radians, me-ngakui adanya syarat itu. Saat ditemui di lokasi proyek perumahan, Sabtu (7/4), Bambang beralasan mengkhususkan perumahannya untuk muslim karena banyak calon pembeli membutuhkan ketenangan di lingkungan perumahan. Baginya, lingkungan perumahan akan nyaman ketika semua yang tinggal di sana datang ke musala untuk ibadah.
Dia sendiri mengaku sudah menolak dua orang nonmuslim yang hendak membeli rumah di perumahannya. Lingkungan muslim itu pula yang dicari keluarga Argo Khoirul. Bapak satu anak itu mengaku kepincut dengan konsep perumahan yang ditawarkan Green Tasneem.
“Saya membeli rumah di sini karena mencari lingkungan yang mendukung kenyamanan beribadah dan nyaman buat keluarga,” kata Khoirul di lokasi proyek, Sabtu (7/4). Dosen di salah satu PTS di Yogyakarta itu mengaku lega menemukan rumah berkonsep perumahan muslim. Katanya, tinggal di lingkungan yang khusus muslim bisa meningkatkan imannya.
Syarat tertentu
Di Kabupaten Sleman, juga ada perumahan yang berlabel agama, Damai Islamic Living (DIL). Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 12,5. Pengembangnya ialah PT Damai Kreasi Cipta, beralamat di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.
Perumahan itu mengklaim sebagai hunian Islam eks-klusif pertama di Indonesia yang mengintegrasikan tempat tinggal dengan masjid lengkap dengan tempat wisata halal. Melihat desainnya, hunian syariah DIL tak berbeda dengan konsep apartemen. Bangunannya vertikal tujuh lantai.
Meski sama-sama berlabel agama, DIL lebih terbuka. Pengembang membolehkan nonmuslim memilikinya meski menyertakan syarat tertentu. Penghuni nonmuslim diwajibkan mengikuti aturan dan tata cara Islam dalam bergaul dan berpakain. Penghuni nonmuslim juga tidak boleh marah atau merasa terganggu ketika setiap saat terdengar suara azan dan kajian-kajian Islam. Itu karena di setiap lorong depan kamar dipasang pengeras suara yang tersambung langsung ke masjid.
“Yang jelas nonmuslim bisa menjaga lingkungan islami. Jadi keluar kamar ya harus tertutup sesuai syariat Islam,” terang Eko Prabowo, staf bagian promosi dan public relation, saat ditemui di kantornya, Rabu (4/4). Terbukanya konsep perumahan DIL, menurut Eko, agar bisa diterima semua kalangan. (Furqon Ulya Himawan/N-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved