Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN botol plastik bekas dan tali monofilamen dalam budi daya rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi mencemari laut.
"Bahan-bahan seperti tali dan botol plastik sebagai media budi daya rumput laut, serta nelayan yang menggunakan pancing, pukat, bahan bakar solar dan oli berpotensi menjadi sampah dan bahan cemar karena dibuang ke laut," Kepala Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Ikram Sangadji kepada wartawan di Kupang, Minggu (22/4).
Petani rumput laut di daerah itu umumnya mengunakan metode tali bentang (long line). Bibit rumput laut diikat pada tali tersebut. Untuk mencegah tali tenggelam, mereka mengunakan pelampung yang berasal dari botol plastik bekas.
Selain itu, di area budi daya rumput dan pukat milik nelayan, juga sering menjerat jenis-jenis ikan yang dilindungi seperti penyu, lumba-lumba, dan fauna lainnya.
Pada Sabtu (21/4) petang, Ikram bersama tim dari sejumlah instansi di Kabupaten Kupang yakni Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kebersihan dan Kehutanan, Polisi, TNI, camat dan lurah bertemu lebih dari 300 petani rumput laut dan nelayan di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, guna memberikan bimbingan teknis mengenai pengelolaan lingkungan secara benar, yang salah satu tujuannya mengurangi penggunaan botol plastik di laut.
Lokasi budi daya rumput laut di Teluk Kupang itu masuk dalam Taman Nasional Perairan Laut Sawu seluas 3,5 juta hektare yang meliputi 10 kabupaten. Kegiatan tersebut untuk memperingati Hari Kartini, 21 April, dan Hari Bumi 22 April.
Untuk mencegah penggunaan botol plastik bekas, BKPN membagikan botol air minum isi ulang kepada seluruh petani rumput laut dan nelayan. Mereka juga diberikan peralatan kebersihan seperti sapu dan tempat sampah.
"Dengan bantuan ini, diharapkan mengurangi penggunaan minuman berkemasan plastik yang botolnya dibuang ke laut," kata Ikram.
Peralatan tersebut dimanfaatkan warga untuk melakukan pembersihan pantai dan lingkungan yang dijadwalkan setiap Jumat. Pada saat yang sama juga digelar aksi bersih pantai dari sampah plastik dan anorganik yang juga melibatkan nelayan bersama istri dan anak-anak mereka.
Menurut Ikram, ketidakpahaman dan rendahnya kesadaran masyarakat, serta sosialisasi mengenai kebersihan pantai mengakibatkan aktivitas pembuangan sampah di pantai dan laut masih berlangsung.
Tamar Didok, petani rumput laut yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan penggunaan botol plastik dalam budi daya rumput laut masih menjadi pilihan utama. "Kami mengunakan botol plastik supaya rumput laut tidak tenggelam," katanya.
Menurut Tamar, sampah plastik yang mencemari pesisir pantai Sulamu, tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga terbawa gelombang dari perkampungan penduduk lainnya di pesisir Teluk Kupang. (A-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved