Tekad Samsul tidak Surut karena Penyanderaan

(MC/Ant/N-2)
19/4/2018 23:15
Tekad Samsul tidak Surut karena Penyanderaan
(Antara)

RAUT ketakutan belum hilang dari wajah Rano Samsul Bahri, Kamis (19/4). Guru Sekolah Dasar Negeri Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, itu ialah salah 1 dari 13 guru yang dievakuasi  anggota TNI Angkatan Darat ke Timika.

Meski sesekali menyeka air mata, Samsul bertekad akan tetap mengajar di Papua. “Kejadian itu tidak menyurutkan semangat kami. Yang membuat kami sedih karena anak-anak didik akan menghadapi ujian kenaikan kelas dua pekan lagi, sedangkan kami harus dievakuasi ke Timika,” jelasnya.

Kamis (19/4), Satuan Tugas Terpadu Penanganan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) mengevakuasi ke-13 guru SD itu dari Kampung Aroanop ke Timika. Tujuh perempuan dan enam pria itu dibawa dengan menggunakan dua helikopter milik TNI-AD. Evakuasi dipimpin komandan satgas, Kolonel Inf Frits Pelamonia.

“Ada 18 guru yang seharusnya dievakuasi, terdiri atas 9 guru SD Negeri Aroanop dan 9 guru dari SD Negeri Jagamin. Lima guru lain belum dapat kami evakuasi hari ini karena terkendala cuaca,” kata Frits. Para guru yang bertugas di dua kampung itu terdiri atas guru ASN, guru kontrak kabupaten, dan guru dari KPG Universitas Cenderawasih yang melakukan praktik mengajar.

Para guru itu disandera kelompok kriminal, Jumat (13/4). Kelompok itu diduga melarikan diri dari Kampung Banti, Distrik Tembagapura, karena dipukul mundur aparat keamanan. “Pada Jumat, sekitar pukul 15.00 WIT, sekitar 20 orang memasuki rumah yang ditempati para guru di Aroanop. Mereka mengintimidasi kami, menodong kami dengan senjata api,” ungkap Samsul.

Guru perempuan dipisahkan dengan guru laki-laki. Kejadian nahas dialami para guru perempuan karena mereka ditendang dan dipukuli. Bahkan, dua guru perempuan dilaporkan juga diperkosa. “Mereka akhirnya kabur dengan membawa 10 telepon seluler, 4 komputer jinjing, stok makanan, dan pakaian kami,” tandas Samsul.

Kepala SD Negeri Aroanop, Philipus Lefteuw, tidak berada di lokasi saat kejadian. “Saya sempat menghubungi para guru pada Kamis (12/4). Sehari kemudian, saat kami berencana melakukan evakuasi karena kondisi keamanan, ternyata Aroanop sudah diserbu kelompok kriminal,” ujarnya.

Kepala Kampung Aroanop melaporkan daerah itu hancur karena serbuan kelompok kriminal. “Kami sangat menyesalkan peristiwa itu. Bertahun-tahun di sana tidak pernah ada kejadian seperti ini,” keluh Philipus. Kolonel Frits menyatakan akan terus mengejar anggota kelompok kriminal itu. “Pasukan saya menguasai Kampung Aroanop dan Jagamin. Pasukan pemukul, empat tim, sudah menguasai dari ujung kampung dan sudah melaksanakan pembersihan.” (MC/Ant/N-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya