19 Tahun Tanpa Kabar, TKI Asal Banyumas Ditemukan di Inggris

Liliek Dharmawan
09/4/2018 18:26
19 Tahun Tanpa Kabar, TKI Asal Banyumas Ditemukan di Inggris
(MI/Liliek Dharmawan)

PARINAH, 50, warga Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang hilang kontak sejak 19 tahun silam, ditemukan di Kota Brighton, Sussex, Inggris.

Kini Parinah sudah berada di Kedutaan Besar RI London untuk dipulangkan ke Indonesia pada Selasa (10/4) dan diperkirakan sampai ke Indonesia pada Kamis (12/4).

Saat berbicara dengan anaknya, Parsin, 33, yang berada di Desa Patarangan melalui fasilitas video call, Senin (9/4), Parinah mengungkapkan hal itu. "Saya akan pulang ke Indonesia pada Selasa. Saat ini saya berada di KBRI London dalam kondisi sehat," ungkap Parinah.

Menurutnya, ia bekerja sebagai pembantu rumah tanggal di Inggris mengikuti keluarga asal Mesir. "Ada empat anggota keluarga tempat saya bekerja, yakni suami istri dan dua anak. Mereka sebetulnya baik pada saya. Tidak ada kekerasan. Tetapi, saya tidak boleh pulang. Kalau saya minta pulang, bilangnya nanti, nanti," ujarnya.

Parinah mengungkapkan dirinya tidak pernah diberi gaji bulanan. Selama bekerja, ia ingat hanya sekali meminta uang dan dikirimkan kepada keluarganya. Jumlahnya mencapai 1.000 poundsterling. "Saya lupa tahun berapa, tetapi saya pernah minta. Saya dikasih 1.000 pounds (poundsterling). Kalau diminta, bilangnya tenang, uangmu banyak," kata Parinah menirukan ucapan majikannya.

Ia menjelaskan majikannya berasal dari Mesir, dan pindah ke Inggris pada 2005. "Majikan saya namanya Ali Abdullah. Saya sebetulnya sudah minta pulang, tetapi tidak diperbolehkan. Selama ini, saya tidak pernah keluar sendiri. Sering keluar, namun sama keluarganya," jelasnya.

Parsin mengungkapkan kegembiraanya, karena setelah hilang kabar selama 19 tahun, akhirnya ia menemukan ibunya. "Saya sangat gembira, karena dari awal laporan sampai ditemukannya ibu saya, waktunya cukup cepat. Sebab, saya mendapat surat pada 28 Januari, kemudian lapor ke Dinas Tenaga Kerja Banyumas. Dan ternyata gerakannya cukup cepat. Beberapa hari lalu, saya diberitahu lewat dinas kalau ibu saya berhasil ditemukan," katanya.

Parsin mengungkapkan jika surat yang diterimanya pada Maret lalu sebetulnya merupakan surat yang kedua. Pada 2005, ada surat dari Parinah.

Namun waktu itu, keluarganya kebingungan mau melangkah. "Baru setelah ada surat lagi pada Januari, saya awalnya pergi ke Cilacap. Setelah di sana, saya diarahkan juga ke Dinas Tenaga Kerja Banyumas di Purwokerto. Setelah sekitar dua bulan, akhirnya diperoleh kepastian mengenai keberadaan ibu saya. Sekarang sudah berada di KBRI London. Ini saya sering video call sama dia," ujar Parsin.

Kepala Desa Petarangan Zaenul Mustofa mengungkapkan kepergian Parinah diketahui pada 1999 ke Arab Saudi. Hanya saja, dirinya tidak tahu pasti, karena sama sekali tidak ada catatan di desa.

"Soal pemberangkatannya menggunakan jasa penyalur TKI apa, kami tidak tahu. Setahu saya, setelah 18 Maret, begitu ada informasi mengenai keberadaan Bu Parinah. Kami bersama keluarga ke dinas untuk memastikan. Mewakili keluarga dan masyarakat, kami berterima kasih karena pemerintah telah bergerak cepat dan menemukan warga kami yang kehilangan kontaknya selama 19 tahun," ujarnya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Kesempatan Kerja, Penempatan Renaga Kerja dan Transmigrasi pada Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Agus Widodo mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari keluarga pada 18 Maret.

"Kemudian, kami melakukan komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dengan bagian Perlindungan WNI. Sebab, TKI yang berangkat pada 1999 telah hilang kontak dengan keluarga. Dan keluarga mendapat surat dari Parinah yang berada di Inggris. Pada Kamis (5/4) lalu, kami mendapat informasi jika Parinah telah ditemukan dan segera dipulangkan ke Indonesia. Informasinya dipulangkan pada Selasa (10/4)," papar Agus.

Dari informasi sementara yang diperolehnya, Parinah bekerja pada majikan yang sama. Memang dia pergi ke Arab pada 1999. Hanya saja, majikannya pindah ke Inggris dan dia turut serta.

"Sementara ini, kami tidak dapat mendeteksi berangkatnya melalui perusahaan jasa apa. Tidak ada catatan mengenai hal itu. Kalau terkait dengan kasus yang ada di Inggris, saya kira diselesaikan oleh KBRI di sana. Biasanya, kalau dipulangkan urusan di sana sudah beres dan tuntas," tandasnya. (A-1)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Henri Siagian
Berita Lainnya