Ritual Jelang Tahun Baru Saka

Ghani Nurcahyadi
16/3/2018 07:27
Ritual Jelang Tahun Baru Saka
(Ritual Melasti -- ANTARA/BUDI CANDRA SETYA)

ESOK umat Hindu di seluruh Nusantara memperingati Hari Nyepi Tahun Saka 1940. Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

Menjelang Nyepi, berbagai ritual dilakukan, seperti melasti (membersihkan diri), mapepada (menyucikan hewan kurban) dan pawai ogoh-ogoh.

Ritual melasti dan mapepada biasanya telah dilakukan, dan hari ini atau satu hari menjelang Nyepi, umat Hindu melakukan pawai ogoh-ogoh.

Kemarin, ratusan umat Hindu di Bali mengikuti ritual melasti dan penyucian hewan kurban dan alam semesta sebagai rangkaian upacara Tawur Kesanga.

"Upacara itu (mapepada) merupakan ritual tahunan untuk `nyomya` atau memberi upah kepada Bhuta Kala sehingga hal negatif kembali ke asalnya," kata Bendesa Adat Besakih, Jero Mangku Widiartha di Pura Besakih, Karangasem, Bali, kemarin.

Ia mengatakan, ritual mepepada yang dilanjutkan dengan ritual Bumi Sudha menjadi rangkaian Tawur Kesanga yang melibatkan ratusan warga dari delapan 'pemaksan' atau kelompok keluarga dan 11 lingkungan adat di wilayah pekraman Besakih.

Menurut dia, upacara mepepada dilaksanakan dengan ritual berkeliling di halaman pura terbesar di Pulau Dewata itu dengan menuntun sejumlah hewan kurban seperti sapi, kerbau, lima jenis ayam, itik, angsa, kijang, rusa, babi, anjing, penyu, dan monyet.

Hari ini, rangkaian Hari Raya Nyepi dilakukan pawai ogoh-ogoh yang merupakan upacara untuk menghalau kehadiran Butha Kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia.

Tradisi pawai ogoh-ogoh pun menjadi festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia.

Di Kecamatan Kuta, Denpasar, jumlah ogoh-ogoh utama yang akan diarak pada malam pengerupukan sebanyak 95 ogoh-ogoh.

Ngrupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai. Ritual ngrupuk yang biasanya dilakukan bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh bertujuan agar Bhuta Kala beserta segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak mengganggu kehidupan umat manusia.

Jumlah itu belum termasuk ogoh-ogoh yang dibuat oleh kelompok anak-anak di luar banjar.

Pada Sabtu (17/3), umat Hindu melakukan upacara Nyepi. Di Denpasar, Pelaksana Tugas Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, berpesan agar umat yang merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1940 dan Saraswati untuk memaknai perayaan hari suci dengan bijaksana dan menjaga lingkungan.

"Mari kita maknai momentum suci ini dengan bijaksana dan selalu menjaga kondusivitas di wilayah masing-masing. Sehingga Catur Bratha Penyepian dan Hari Suci Saraswati pada Sabtu (17/3) dapat dilaksanakan dengan baik," kata Jaya Negara di Denpasar, kemarin.

Ia mengatakan ,dari pemantauan masyarakat Kota Denpasar sudah sangat tertib dan sangat mampu menjaga toleransi umat beragama.

"Catur Bratha Penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menghibur diri)", menjadi acuan warga dalam merayakan Hari Suci Nyepi.(Ant/S-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya