Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENETAPAN tarikh Saka (78 M) yang dikaitkan dengan penobatan Raja Kaniskha I mempunyai makna penting dalam transformasi multikulturalisme India.
Konflik antarsuku yang berkepanjangan akibat berebut kekuasaan nyaris tidak pernah terjadi lagi. Keberhasilan menghentikan konflik bukan karena dominasi politik dan militer, melainkan etnisitas dikelola dengan pendekatan kebudayaan dan kesejahteraan (dharma siddhiartha). Kepercayaan dan tradisi yang dianut setiap suku diakui dan mendapatkan hak setara untuk berkembang. Rakyat dirangkul berpartisipasi dan bekerja sama dalam pembangunan tanpa kecuali.
Spirit ini juga turut mengalir dalam penyebaran agama Hindu ke Indonesia. Ajaran Hindu dari India berpadu dengan tradisi lokal Nusantara dan membentuk pola yang khas. Hal serupa juga terjadi dalam perkembangan sistem kalender Saka India, khususnya di Jawa dan Bali. Masuknya berbagai elemen astronomi lokal melahirkan berbagai varian kalender Saka Nusantara. Implikasinya bahwa penetapan hari suci keagamaan Hindu di Indonesia tidak selalu sama dengan di India. Demikian halnya pelaksanaan Hari Suci Nyepi di Indonesia, baik waktu maupun upacaranya kental nuansa lokal di dalamnya.
Hari Suci Nyepi di Indonesia dilaksanakan setiap bulan kesembilan (caitramasa atau kasanga), dan puncaknya pada tanggal pertama bulan kesepuluh (wesakamasa atau kadasa) sistem kalender Saka. Prosesi upacaranya diawali melis, kemudian tawur kasa-nga, catur brata panyepian, ngembak gni, dan diakhiri dengan dharmasanti.
Upacara melis atau melasti dilaksanakan sekurangnya tiga hari sebelum tanggal pertama tahun Saka. Pada hari ini, umat Hindu melaksanakan upacara di pantai untuk menyucikan berbagai arca, pratima, dan simbol keagamaan di laut, muara su-ngai, danau, atau sumber air lainnya. Menurut Kitab Sundarigama, melis akan menghanyutkan segala kekotoran dunia dan mengambil air kehidupan (tirtha amertha) dari tengah samudra.
Upacara tawur kasanga dilaksanakan pada tilem sasih kasanga (bulan gelap kesembilan). Prosesi upacaranya dilaksanakan secara bertingkat, dari keluarga, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara.
Secara nasional, upacara tawur kasanga dilaksanakan di halaman Candi Prambanan. Mengingat upacara ini tergolong bhuta yajna sehingga pelaksanaannya kerap dibarengi dengan pawai budaya ogoh-ogoh, yaitu gambaran sosok raksasa (bhuta) yang diarak berkeliling desa kemudian dibakar, sebagai simbol lenyapnya kekuatan jahat. Tujuan utama tawur kasanga ialah menjaga keseimbangan kosmis demi terwujudnya kebahagiaan alam semesta dan segala isinya (bhutahita, sarwaprani hita).
Puncak Perayaan Nyepi ialah catur brata penyepian, yaitu empat bentuk pengendalian diri (brata) yang terdiri atas amati gni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak beraktivitas); amati lelungan (tidak berpergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati keindahan). Keempat brata ini dilaksanakan selama 24 jam penuh yang secara fisik ditandai dengan memadamkan lampu, tidak berkendaraan, tidak menyalakan media-media hiburan, dan tidak memasak.
Secara filosofis-teologis, amati gni berarti mengendalikan nafsu-hasrat yang ada dalam diri manusia; amati karya berarti mengendalikan aktivitas inderawi; amati lelungan berarti duduk diam, bermeditasi, instrospeksi diri, dan larut dalam pemujaan kepada Tuhan; sedangkan amati lelanguan berarti tidak mengumbar kesenangan duniawi.
Menyepikan diri dari aktivitas duniawi yang diajarkan dalam catur brata panyepian merupakan momentum refleksi diri. Pada hari ini, umat Hindu diajarkan untuk lebih banyak melakukan olah rasa, olah agama, dan olah budi.
Dengan cara ini, manusia dapat menyadari kembali hakikat kerja, bukan sekadar kerja untuk memuaskan indera, egoisme, dan hasrat. Kerja ialah pelayanan tanpa pamrih pada semesta alam dan semua makhluk. Tujuan puncak dari semua kesadaran rohani tersebut ialah mewujudkan ketenteraman dan kedamaian lahir dan batin.
Keesokan harinya ialah ngembak gni, yakni menyalakan api atau mulai beraktivitas kembali. Upacara ngembak gni umumnya dirangkaikan dengan kegiatan anjangsana, seperti mengunjungi sanak-saudara, sahabat, dan handai taulan untuk bermaaf-maafan.
Dalam konteks yang lebih luas, juga dilaksanakan dharmasanti berupa acara seremonial dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat lintas agama. Tujuan dharmasanti ialah menyampaikan ajaran kebenaran (dharma) untuk membangun kehidupan bersama yang damai (santih) dan sejahtera (jagadhita).
Sejarah dan prosesi pelaksanaan Hari Suci Nyepi itu mengisyaratkan sebuah momentum refleksivitas untuk membangun kehidupan individu, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik pada masa depan.
Penetapan Tahun Baru Saka mengajarkan pentingnya merajut persatuan dalam kebinekaan. Hal ini mensyaratkan kesadaran setiap individu untuk menghargai keberadaan individu yang lain.
Kesadaran ini niscaya tumbuh tatkala individu memiliki kesadaran semesta bahwa semua makhluk ialah bersaudara (vasudeva kutumbakam). Dengan demikian, dharmasanti menemukan maknanya sebagai puncak refleksivitas Nyepi, yakni terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan sejahtera.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved