STP Bali Gelar Seminar Bahas Pariwisata di Era Digital

Micom
14/3/2018 04:29
STP Bali Gelar Seminar Bahas Pariwisata di Era Digital
(Ist)

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat membuat wisatawan mengubah kebiasaannya, yakni menjadi lebih digital. Pola pemasaran industri pariwisata Indonesia kini dituntut untuk menyesuaikan kebiasaan tersebut.

Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Internasional Hospitality Outlook pada 9 Maret lalu. Enam negara ambil bagian dalam seminar di Hotel Mercure Nusa Dua, Bali. Enam negara itu ialah Amerika Serikat, Prancis, China, Australia, Inggris, dan tuan rumah Indonesia. Seminar dilaksanakan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (STP Bali), Program Studi Administrasi Perhotelan Kelas D (ADH-D).

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa, mengatakan, peningkatan (upgrade) pengetahuan diperlukan sebagai media memenangkan persaingan.

"Seminar seperti ini sangat bagus, sebab kalangan akademisi hingga masyarakat umum membutuhkan informasi yang cukup. Saat berbicara industri, maka semua harus siap dengan persaingan. Di sini butuh inovasi dan strategi. Apalagi ini konsepnya seminar internasional,” ungkap Rizki, didampingi Ketua STP Bali, Dewa Gede Ngurah Byomantara, Selasa (13/3).

Menurut Rizki, penyelenggaraan seminar internasional ini sangat berhasil. Terlebih, 83 peserta yang ambil bagian, terlihat antusias dan sangat interaktif dengan narasumber yang dihadirkan.

"Secara konsep seminar ini sangat berhasil. Pesertanya cukup banyak dan berasal dari mancanegara. Jumlahnya melebihi target. Pada awalnya target peserta hanya 60 orang saja. Mereka sangat aktif dan komunikatif," katanya lagi.

Mengusung tema 'Emerging Hotel Management Through Digital Marketing', tiga pembicara bergantian berbagi informasi. Menjadi pembicara pertama, Ricky Putra mengusung topik 'Elevating Hotel’s Profitability Through Marketing Strategic'. Fokusnya, bagaimana manajemen hotel menyiapkan strategi jitu untuk menaikan tingkat hunian. Menyiapkan paket produk menarik hingga mendatangkan keuntungan finansial.

"Produk yang baik akan lebih cepat terserap oleh pasar. Disinilah diperlukan strategi khusus mulai dari konsep, kemasan, hingga pola pemasaran produknya. Hotel harus jeli melihat peluang dan potensi risiko," tutur Rizki.

Peserta seminar juga mendapat suplemen ilmu dari Reza Sunardi. Tema bahasan Why Your Hotel’s Online Reputation is Impacting Future Booking. Pada sesi ini diterangkan bagaimana mengembangkan online reputation hotel agar terap kompetitif. Harapannya hotel bisa memenangi persaingan secara daring, lebih spesial lagi terus berkembang pada platform tertentu seperti TripAdvisor.

Sesi ketiga seminar pun tak kalah menarik. Fransiska Handoko menyuguhkan tema bahasan 'Trend Driven Consumer: Future Travel Trend'. Dalam sesi ini, dibahas mengenai manajemen hotel yang harus siap dengan perubahan. Sebab, perubahan pola pasar dan konsumen bisa terjadi kapan saja.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, dunia digital saat ini tidak bisa dilepaskan dari lini bisnis mana pun.

"Memasarkan produk itu seni. Kita membaca peluang lalu berstrategi. Keuntungan dan risiko sama-sama ditimbang. Manajemen hotel memang sudah harus mengarah ke digital sepenuhnya. Posisi seminar-seminar ini sangat bagus untuk membuka wawasan. Pasti ada ide segar dari sini yang diadopsi dan diterapkan," pungkasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya