Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBENTUKAN opini dengan berbagai informasi bohong dan ujaran kebencian diduga bermuatan politik terus ditindak tegas oleh Polri. Kasatgas Nusantara Polri Irjen Dr Gatot Eddy Pramono mengatakan pelaku pembuat dan penyebar ujaran kebencian saling terhubung. Kelompok tersebut ialah Muslim Cyber Army (MCA) dan eks Saracen yang beberapa pelakunya telah diadili.
"Tim bergerak ke wilayah yang berkoordinasi dengan satgas polda dan polres. Kami menemukan keterkaitan kelompok ini, mereka saling terhubung," terangnya.
Ujaran kebencian yang disebarkan terkait dengan penyerangan terhadap ulama disebut sengaja digulirkan untuk membentuk opini sekaligus ketakutan dan gerakan kelompok yang akhirnya membuat gaduh. Menurut Gatot, di beberapa daerah, yakni Jabar, Jatim, DIY, Jakarta, Banten, dan Kalimantan Timur, informasi bohong penyerangan ulama dilakukan kelompok yang saling terhubung dalam MCA.
"Kami turun ke lapangan memeriksa langsung, menghitung berapa banyak ujaran kebencian yang dilaporkan dan yang tidak atau di media sosial," imbuhnya.
Hasilnya, lanjut Gatot, sebanyak 45 ujaran kebencian penyerangan ulama gencar disebarkan. Dari 45 ujaran itu tim satgas membagi dalam empat kategori kejadian. Peristiwa yang terjadi hanya tiga, sedangkan 42 informasi bohong. Pertama ialah peristiwa benar terjadi.
Kedua peristiwa yang direkayasa serta kejadian yang merupakan tindak pidana umum, tetapi diviralkan sehingga muncul tafsir korbannya merupakan ulama.
"Polisinya ada, korban ada, pelakunya juga ada. Lalu ada juga peristiwanya tidak ada sama sekali, tapi dibuat seolah itu terjadi. Peristiwa yang benar terjadi dua di Jabar dan satu di Jatim," cetusnya.
Meski telah mengirim tujuh pelaku admin kelompok MCA ke dalam jeruji besi, hingga kini polisi belum menemukan pendana dan konseptor kelompok tersebut.
Meningkat
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menuturkan, hingga akhir Februari tingkat produksi dan penyebaran ujaran kebencian meningkat. Informasi bohong penganiayaan terhadap ulama terus digulirkan melalui media sosial hingga 27 Februari.
"Setelah itu grafiknya menurun. Ini menunjukkan bahwa pembentukan opini isu penganiayaan ulama atau penyerangan ulama dilakukan oleh kelompok tertentu di dunia maya atau di medsos," tuturnya.
Pelaku disebut tergabung dalam MCA dan klaster eks Saracen. Dugaan itu berdasarkan temuan hubungan kelompok Jatim, Banten, dan Jabar.
"Ditemukan hubungan pelaku di tiga daerah adalah keluarga yang masuk MCA dan eks Saracen. Ini sangat terlihat," imbuhnya.
Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan Polri harus bergerak cepat mengungkap dalang di balik tindakan pidana itu. Serangan berbagai ujaran kebencian tidak semasif sebelumnya saat pilkada DKI Jakarta. Hal itu disebabkan tingkat kesadaran masyarakat yang tidak mudah percaya dengan berbagai literasi yang tidak jelas muasalnya.
Pengamat komunikasi politik Effendi Ghazali, mengatakan jelang pilkada dan pilres ada isu-isu yang berpotensi digulirkan. "Biasanya tentang investasi Tiongkok, lalu tentang kerugian bangsa, dan ketidakadilan ekonomi dan kelompok masyarakat, termasuk tokoh ulama."
Waketum MUI Zainut Tauhid menegaskan MUI mendukung langkah Polri dalam menegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan dunia maya.(Bay/X-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved