Harimau Mati Dibunuh Warga, Petugas BKSDA Disandera

Puji Santoso
05/3/2018 19:58
Harimau Mati Dibunuh Warga, Petugas BKSDA Disandera
(ANTARA)

PETUGAS gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Balai Taman Nasional Batang Gadis dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), sempat disandera warga saat hendak mengamankan harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) yang masuk permukiman di Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.

Kepala BBKSDA Sumut, Hotmauli Sianturi, mengatakan, pada Sabtu (24/2) lalu, masyarakat dihebohkan dengan munculnya harimau di Depan Ampung Siala, dan pada Senin (26/2), harimau kembali muncul di Desa Hatupangan.

Kemudian tim gabungan menindaklanjuti dengan mendatangi lokasi. Namun, kedatangan petugas mendapat penolakan dari warga yang menginginkan harimau tersebut dibunuh, dan memaksa sebagian petugas BBKSDA Sumut, Balai Taman Nasional Batang Gadis, KPH IX, Koramil, dan Polsek setempat untuk mencari ke hutan dan menembak mati harimau yang dimaksud.

"Sementara itu, 10 orang petugas lainnya disekap dan disandera di dalam satu rumah warga," katanya dalam temu pers kepada para wartawan di Kantor BBKSDA Sumut di Jalan Sisingamaraja, Medan, Senin (5/3).

Tim BKSDA, menurut dia, juga mengalami makian dan dipaksa warga untuk menandatangani kesepakatan, yang isinya antara lain tidak menuntut jika dilakukan pembunuhan terhadap satwa buas oleh masyarakat dan aparat keamanan demi keamanan warga.

"Kemudian tim tidak akan datang lagi ke Desa Hatupangan dan sekitarnya, serta menyerahkan penanganan konflik satwa liar kepada masyarakat dan aparat keamanan, serta meninjau wilayah TNBG dan BBKSDA di Batang Natal," jelas Hotmauli.

Atas kejadian tersebut, ujar Hotmauli, BBKSDA Sumut menindaklanjuti kejadian itu dengan mengirim surat kepada Polda Sumut melalui surat No. S.899/K3/BIDTEK/KSA/02/2018 tanggal 28 Februari 2018. Dalam surat tersebut, mereka meminta bantuan dan dukungan penyelesaian permasalahan yang dianggap sebagai pemicu terjadinya konflik antara satwa liar dan masyarakat.

"Intinya kita meminta bantuan dan dukungan penyelesaian permasalahan penebangan liar yang menyebabkan konflik satwa liar langka dengan modus konflik satwa," ungkap Hotmauli.

Sebelumnya, dikabarkan seekor harimau sumatra tewas ditombak warga di Desa Bankelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Minggu (4/3) kemarin. Harimau tersebut kemudian mati dan bangkainya dievakuasi oleh petugas.

Namun, saat sampai di tangan petugas, bangkai tersebut dalam kondisi memprihatinkan, yang sebagian organ tubuhnya hilang seperti taring bawah sebelah kanan, kulit pada bagian kening, kulit pada bagian ekor, dan juga kuku. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya