Insiden Tol Becakayu juga Berimbas ke Proyek Infrastruktur di Sumsel

Dwi Apriani
20/2/2018 22:05
Insiden Tol Becakayu juga Berimbas ke Proyek Infrastruktur di Sumsel
(MI/MI/Pius Erlangga)

AMBRUKNYA tiang pancang proyek Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) ternyata berdampak bagi pengerjaan pembangunan infrastruktur di daerah.

Di Sumatra Selatan, sejumlah pembangunan infrastruktur sudah mendapat arahan terkait harus dihentikannya sementara penggunaan alat berat dalam mengangkat material di ketinggian. Salah satunya pada pengerjaan light rapid transit (LRT) Sumsel.

Ketua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Sumsel dari Kementerian Perhubungan, Suranto, mengatakan, untuk sementara ini pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah pusat karena LRT Sumsel sempat disinggung terkait antisipasi kecelakaan pekerjaan di atas ketinggian.

"Pekerjaan elevated dan penggunaan alat berat untuk lifting girder di LRT Sumsel sudah selesai semua sebenarnya. Jika ada penggunaan alat berat adalah untuk mengangkat equipment power di stasiun, angkat wesel, dan sebagainya. Untuk sementara ini semua akan ditunda dulu, tapi untuk pekerjaan minor tetap dilanjutkan," ucapnya.

Adapun pekerjaan minor yang dilakukan yakni seperti penyelesaian stasiun, gelar kabel untuk telekomunikasi dan persinyalan, serta lainnya yang tidak menggunakan alat berat untuk mengangkat material.

"Penundaan ini semoga tidak membuat pekerjaan terlambat. Dan kami sedang koordinasikan dengan kontraktor dan konsultan atas arahan ini," ungkapnya.

Di sisi lain, berdasarkan informasi yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bahwa memang untuk pengerjaan infrastruktur yang menggunakan alat berat dalam mengangkat girder atau apa pun di atas ketinggian harus dihentikan sementara. Berlaku untuk semua infrastruktur.

"Namun untuk di Tol Palindra (Palembang-Indralaya), pengerjaan pengangkatan girder terakhir dilakukan pada Jumat (16/2) minggu lalu. Kami melakukan pengangkatan material di interchange KTM Rambutan. Setelah itu tidak ada lagi pengerjaan pengangkatan material dengan menggunakan alat berat di ketinggian," ucap Manager Proyek PT Hutama Karya Divisi Ruas Jalan Tol Palindra, Hasan Turcahyo.

Ia menerangkan, memang masih akan ada pengerjaan pengangkatan material dengan menggunakan alat berat. Namun tidak ditempatkan pada ketinggian, melainkan hanya menempatkan material di saluran atau jembatan penghubung saja.

"Tidak ada lagi pengerjaan di pengangkatan material di ketinggian. Artinya, kita terus melanjutkan pengerjaan pembangunan ruas jalan tol," ungkapnya.

Hasan menerangkan, saat ini pihaknya tengah fokus dalam pengerjaan bawah seperti penimbunan dan pengaspalan. Hal itu dilakukan di seksi II dan seksi III, sebab pada seksi I yakni Palembang-Pemulutan sudah selesai 100%.

"Pengerjaan kita selanjutnya adalah fokus pada penimbunan dan pengaspalan. Insya Allah pengerjaan Tol Palindra akan selesai tepat waktu yakni sebelum Asian Games nanti," ungkapnya.

Tak berbeda jauh dengan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung. Kepala Divisi VI PT Waskita Karya (Persero) Ruas Jalan Tol, Gunadi, menerangkan, pemerintah pusat memang tengah mengevaluasi untuk pengerjaan elevated atau jalan beton di atas yang menggunakan girder dan alat berat.

"Itu yang di-review Kementerian PUPR. Kalau untuk di pekerjaan bawah tidak ada masalah," kata dia.

Untuk Tol Kapal Betung juga sebenarnya memang ada pekerjaan di atas, tetapi skala bentangnya hanya 40 meter. Sementara yang di-review pemerintah adalah bentang sepanjang 50 meter.

"Di Tol Kapal Betung menggunakan launcher atau dua tower mobile crane. Kalau di Pematang Panggang dan Kayu Betung, bentang kita hanya 40 meter," jelasnya.

Namun, ia mengakui pada pertengahan 2018 ini akan ada pekerjaan atas dengan bentang 50 meter. Hanya saja, pihaknya sudah mengubah mekanisme dan konsep pengerjaan.

"Kita tidak menggunakan girder tipe I, melainkan tipe U. Yang jadi masalah kan tipe I karena dinilai kurang stabil, sementara tipe U meski girdernya harus mengeluarkan biaya cukup banyak namun lebih aman," ungkapnya.

Diubahnya mekanisme dan konsep pengerjaan itu sudah dilakukan jauh hari sebelum ada review dari pemerintah pusat ini.

"Insya Allah pekerjaan kita tetap jalan. Saat ini saja progres pengerjaan Tol Kapal Betung sudah mencapai 44% per akhir Januari 2018 dan Tol Pematang Panggang-Kayuagung sudah mencapai 48%," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya